
°°°
Di kamar, Revan menurunkan istrinya di atas ranjang lalu membalutnya dengan selimut.
Sementara Rara dag dig dug menunggu hukuman apa yang akan suaminya berikan kali ini. Jika hukumannya seperti semalam ia tidak menolak, eh maksudnya ya gitulah.
Tapi tidak Rara duga lelaki itu malah mau pergi begitu saja setelah menyelimutinya. Tanpa sadar Rara pun mencekal pergelangan tangan suaminya.
Membuat Revan menyerngitkan dahinya.
"Lalu bagaimana dengan hukumannya?" Kalimat itu lolos begitu saja dari mulut Rara. Apa maksudnya, apa ia berharap Revan menciumnya lagi atau lebih.
"Jadi kau mau dihukum," ujar Revan tersenyum menyeringai.
Sebenarnya ia hanya menggoda gadis itu saja dan tidak benar-benar akan menghukumnya. Ia takut Rara akan menjauhinya bila terlalu sering melakukan hal itu, yang semalam saja Revan tidak tau apakah istrinya itu marah atau tidak.
Tapi saat melihat wajah polos istrinya yang minta dihukum, imannya kembali tergoda.
"Kau siap menerima hukuman lagi?" Revan mendekatkan wajahnya.
Sontak membuat Rara gugup tak terkira, jantungnya sudah serasa ingin melompat dari tempatnya.
Tiba-tiba matanya terpejam perintah dari alam bawah sadarnya.
Revan yang melihat istrinya memejamkan mata pun tersenyum simpul, tidak menyangka akan begitu reaksinya. Ia pikir gadis itu akan mendorongnya menjauh dan marah.
Sebagai lelaki normal Revan tentu saja sangat ingin menyesap bibir mungil nan menggoda iman milik istrinya. Kesempatan yang sangat bagus karena Rara menyambutnya dengan suka rela.
Tapi justru karena Revan lelaki normal makanya ia mengurungkan niatnya. Ia tidak ingin nantinya akan membuatnya tergoda lebih jauh, sedangkan Rara belum tentu sudah siap untuk melakukan kewajibannya sebagai seorang istri dan sepertinya juga dia masih datang bulan.
Ya apalagi ini masih pagi dan pasti akan membuat adik kecilnya langsung on.
Pada akhirnya Revan mendaratkan kecupan di kening istrinya.
"Tunggu kau siap, barulah kita melakukannya lagi."
Revan langsung pergi ke kamar mandi, karena akan terlambat bila ia kembali tidur.
"Eh...," Rara membuka matanya perlahan, mengintip apakah Revan sudah pergi dari hadapannya. Sejak tadi ia menunggu tapi tidak terjadi apa-apa. Hanya kecupan di kening saja yang hangat terasa saat bibir suaminya menempel.
Apa yang Rara harapkan sebenarnya?
Ciuman seperti semalam atau apa.
Aaa... apa yang aku pikirkan, kenapa aku memejamkan mata. Kak Revan pasti berpikir yang tidak-tidak.
Aku malu...
Rara menenggelamkan wajahnya dalam selimut, ia merasa sangat malu. Meskipun ia masih tidak mengerti kenapa suaminya tidak menciumnya lagi, apa karena ia tidak membalasnya tadi malam. Dia kan tidak tau apa-apa, mana tau bagaimana caranya ciuman yang benar.
__ADS_1
,,,
Siangnya, hari ini Rara masih belum bisa berangkat kuliah, ia juga bingung kenapa belum sembuh juga padahal hanya gara-gara mabuk kendaraan dan datang bulan.
Tidak mungkin dipaksakan juga karena nantinya bisa makin parah.
Bosan di kamar terus Rara pun mencoba menghubungi temannya. Teman yang sudah berapa hari tidak bertemu. Ia sedikit rindu dengan kecerewetan gadis itu.
"Sepertinya ini jam istirahat, aku akan coba menghubungi Lia."
Rara menyambungkan panggilan teleponnya. Benar saja gadis di seberang sana langsung mengangkatnya.
📞"Rara..."
Pekikan kencang Lia bahkan membuat Rara menjauhkan ponselnya dari telinganya.
"Assalamualaikum Lia," ujar Rara lembut.
📞"Wa'alaikumsalam. Huh! Akhirnya kamu ada kabarnya juga. Kamu kemana saja, kenapa tidak berangkat kuliah. Aku kesepian tidak ada kamu tau."
Rara tertawa geli mendengarnya.
"Benarkah kamu merindukanku?" Tanya Rara, ia sangat suka menggoda gadis itu.
📞"Iyalah, aku jadi tidak ada teman curhat."
Ia juga bosan diam di rumah terus.
📞"Emang kamu sakit Ra, kenapa tidak cerita. Kamu sakit apa, apa parah, sudah berobat apa belum? Aku jenguk ya."
"Astaghfirullah, kamu itu kalau tanya satu-satu. Aku jadi bingung mau jawab yang mana dulu."
Rara menggelengkan kepalanya, mendengar rentetan pertanyaan yang temannya berikan.
📞"Hehehe... aku terlalu panik mendengar kamu sakit Ra. Kamu tinggal dimana, aku ingin lihat keadaanmu. Sekalian aku bawakan salinan tugas dari dosen."
Gadis itu tidak tenang jika tidak melihat sendiri bagaimana keadaan temannya.
"Aku... aku tinggal di rumah kak Revan, nanti aku minta ijin dulu ya kalau kamu mau main."
Lia tidak kaget mendengarnya, karena setau dia hubungan temannya dengan pria idola kampus ini kan saudara sepupu. Wajar saja jika mereka tinggal satu rumah.
📞"Baiklah, nanti kabari aku kalau sudah mendapatkan ijin."
Panggilan mereka terpaksa berakhir karena dosen sudah masuk dalam ruangan.
Rara mulai khawatir karena tiba-tiba Lia ingin datang, biar bagaimanapun gadis itu belum tau jika teman baiknya sudah menikah. Kalau Lia datang ke rumah pasti ada kemungkinan besar hubungan yang mereka tutupi akan naik ke permukaan.
Sementara Rara belum menanyakannya pada suaminya. Ia takut jika Revan masih tidak ingin ada yang tau tentang hubungan mereka.
__ADS_1
"Bagaimana ini, aku tanyakan saja pada kak Revan. Kalau memang tidak boleh aku akan menjelaskan pada Lia nanti."
Rara mencoba menghubungi suaminya, pas di jam makan siang barulah ada yang mengangkat teleponnya.
📞"Hallo..." Revan menjawab dengan asal tanpa melihat siapa yang menghubunginya.
"Apa kau sedang sibuk, suamiku?" Rara masih sedikit kaku saat mengatakannya. tepatnya panggilan suamiku.
Sontak lelaki yang mendengar suara lembut itu langsung melihat layar ponselnya. Memastikan jika yang ia dengar adalah suara istrinya.
Ternyata benar itu Rara, tertera nama yang baru tadi malam ia ganti dengan 'istriku tercinta'.
Rasa suntuk dan bosan lenyap begitu saja setelah mendengar suara yang selalu membuatnya rindu.
"Suamiku, apa kau ada di sana?"
Sedangkan Rara malah takut ia salah sambung karena tidak ada suara apapun.
"Benar ini nomornya kak Revan," ujarnya dalam hati.
📞"Hallo," tiba-tiba suara milik suaminya terdengar.
📞"Apa ada sesuatu yang terjadi? atau kamu ingin sesuatu?" tebak Revan.
"Aku tidak ingin apa-apa Kak. Hanya saja ada yang ingin aku tanyakan padamu, suamiku."
(Terdengar menggelitik ditelinga tidak panggilan itu, atau ada saran yang lain mungkin.)
📞"Katakanlah, ada apa?"
"Apa kak Revan ingat, temanku yang bernama Lia. Dia sudah mendengar aku sedang sakit dan dia ingin menjengukku. Boleh tidak kalau temanku mau datang ke rumah?"
📞"Datang saja, bagus malah jadi kau tidak bosan di rumah."
"Tapi nanti dia bisa tau tentang hubungan kita Kak. Apa tidak masalah untukmu, suamiku?" tanya Rara, ia tidak ingin membuat hubungan yang sudah membaik ini jadi jauh lagi karena kesalahpahaman.
📞"Apa yang kamu pikirkan, mau orang lain tau juga tidak masalah. Biarlah temanmu tau. Nantinya aku juga akan mengumumkan secara resmi tentang pernikahan kita."
to be continue...
°°°
...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....
...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....
...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....
...Sehat selalu pembacaku tersayang...
__ADS_1