
°°°
Mata Rara membulat sempurna, tak kala melihat mobil yang sangat ia hapal siapa pemiliknya.
Rara sangat tau karena pemiliknya adalah cinta pertamanya dalam hidup ini yaitu sang ayah. Bukan mobil mahal apalagi mewah, tapi mobil itu yang sering kali membawanya pergi bersama Abi untuk menyuplai tahu-tahu ke restoran dan pasar.
Namun, Rara ragu-ragu. Apa mungkin Abi nya ada di sana tiba-tiba. Ia bergegas berjalan masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum..." Rara masih tidak percaya dengan yang ia lihat saat ini. Beberapa kali ia mengerjapkan matanya, apakah yang dilihat nyata atau hanya bayangan.
"Umi... Abi..." Setelah yakin jika yang ada di depannya adalah orang tuanya, Rara langsung berlari ke arah mereka.
"Kapan kalian datang, kenapa tidak memberitahu sebelumnya," tanya Rara yang saat ini sedang memeluk umi.
"Kami ingin memberikan kejutan nak," ujar umi mengusap punggung putrinya.
Rara tidak bisa membendung tangisnya lagi, rasa rindu membuatnya terharu. Rasanya jauh dari orang tua bukanlah hal yang mudah bagi anak perempuan. Jika biasanya ia bergantung pada orangtuanya, tapi setelah menikah anak perempuan harus dituntut mandiri, bisa mengurus suami dan anak-anaknya nanti.
"Aku sangat merindukan kalian," ujar Rara setelah ia melepaskan pelukannya pada umi.
"Kami juga merindukanmu, nak. Apa kamu tau, Abi setiap hari menyuruh umi untuk menghubungimu, dia selalu ingin mendengar tentangmu."
Umi melirik suaminya, ia mengatakan semuanya pada sang putri. Bagaimana Abi nya itu setiap hari selalu merindukannya.
"Jangan menangis lagi nak." Umi menghapus air mata putrinya, ia tau apa yang dirasakan oleh Rara. Sama halnya dengannya dulu waktu pergi meninggalkan rumah orangtuanya untuk mengikuti suami.
"Abi...." Kini Rara menghambur ke pelukan Abi nya.
Abi menyambutnya dengan gembira, pelukan hangat dari putri kecilnya.
"Kenapa kau menangis karena kami datang, apa sebaiknya kami tidak usah datang agar kau tidak menangis," ujar Abi meledek.
"Abi... bukan begitu, aku sangat bahagia sampai terharu melihat kalian."
"Kau itu masih seperti putri kecilnya Abi." Abi mengusap kepala Rara dengan penuh cinta. Walaupun matanya juga berkaca-kaca tapi ia berusaha menahan air mata itu menetes. Berbeda dengan umi yang saat ini malah ikut berderai air matanya.
"Aku memang putri kecilnya Abi."
Rara seakan tidak ingin melepaskan pelukannya pada Abi, ia merasa takut jika melepaskannya. Takut jika orangtuanya akan menghilang dari hadapannya dan takut ia akan kembali merasa kecewa pada suaminya.
Cukup lama mereka saling melepas rindu, seakan tidak cukup sebentar untuk saling berpelukan dan Rara bermanja pada orangtuanya.
Rara dengan antusias menceritakan, apa saja yang ia telah alami selama tinggal di rumah suaminya. Namun, tidak sedikitpun ia menceritakan tentang kesedihannya. Ia tidak ingin umi dan Abi tau jika selama ini suaminya masih berhubungan dengan perempuan lain.
Umi dan Abi pun bahagia melihat putrinya, mereka bersyukur karena kakek Tio sangat menyayanginya Rara. Lalu menantu mereka juga memperlakukan putri mereka dengan baik.
"Apa kamu pulang sendiri tadi, di mana suamimu? Bukankah kalian satu kampus," tanya umi.
__ADS_1
"Kak Revan sudah selesai dengan kuliahnya, tinggal mengurus beberapa hal dan wisuda saja. Saat ini dia sudah mulai ke kantor bersama kakek, tapi dia tetap mengantar dan menjemput ku tadi."
Rara hanya menceritakan hal baik mengenai suaminya.
"Syukurlah, nak. Umi dan Abi senang mendengarnya."
Berbeda dengan Abi yang merasa putrinya sedang menyembunyikan sesuatu dari mereka. Namun, ia berharap jika itu hanya perasaannya saja.
"Jadi umi dan Abi kenapa tiba-tiba kemari?" tanya Rara ia berusaha menghindar dari pertanyaan orangtuanya mengenai suaminya, karena ia tidak yakin bisa terus menutupinya.
"Kami ingin mengajakmu pergi bersama ke acara wisuda mbakmu. Apa kau lupa?" ujar umi menduga.
"Astaghfirullah... hampir saja aku lupa. Pasti mbak Luna bisa marah-marah kalau aku tidak datang." Bisa habis kena omel jika Rara sampai tidak hadir di acara wisuda kakaknya.
"Kamu kenapa tidak datang ke wisuda Mbak, apa kamu sudah tidak sayang lagi pada kakakmu ini, apa mbak tidak berarti dalam hidupmu, bla... bla... bla...."
Rara sedang menirukan bagaimana kalau kakaknya marah-marah.
"Iyakan umi, Abi. Mbak Luna itu kan biasanya seperti itu kalau sedang marah." Mencoba mencari pembenaran pada kedua orangtuanya.
"Iya nak, kamu paling bisa kalau mengejek mbakmu," kata umi seraya tertawa kecil melihat tingkah putrinya.
Ubi juga tersenyum, itulah yang ia rindukan dari Rara. Putri bungsunya itu paling bisa mencairkan suasana di rumah. Membuat tertawa Abi dan Umi, wajah cerianya selalu Abi rindukan.
,,,
"Tadi aku sudah bilang kan mau aku antarkan rumah sakit , tapi kamu tidak mau. Lalu sekarang sakit lagi seperti ini."
Revan sedikit kesal.
"Tidak apa-apa, ini biasa terjadi setiap bulannya. Aww...."
Ternyata di tengah perjalanan tadi Febby benar-benar merasakan sakit di perut bagian bawahnya. Yang awalnya hanya pura-pura saat ini ia kesakitan.
Revan membantu Febby berjalan memasuki rumahnya.
"Ya ampun, kamu kenapa nak?" panik mamahnya.
"Tidak apa-apa Mah." ujar Febby.
"Tidak apa-apa bagaimana, wajahmu sampai pucat seperti itu. Ada apa sebenarnya nak Revan?" tanya tante Wina pada Revan.
"Sudah aku bilang tidak apa-apa Mah, bukan salah Revan. Ini karena tamu bulanan ku."
Aku benar-benar siaaall, perutku jadi sakit sungguhan. Kesal Febby.
"Ohh... Mamah kira kenapa. Maaf nak Revan, Tante sempat menuduh kamu." Mamah Wina tidak enak karena sudah menuduh calon menantu idamannya.
__ADS_1
Revan hanya tersenyum tipis.
"Duduk dulu nak, biar Tante buatkan teh sebentar," Tante Wina mempersilahkan Revan.
"Tidak perlu Tante, aku harus kembali lagi ke kantor karena kakek sudah menunggu. Tante urus saja Febby, sepertinya dia sangat kesakitan."
Revan segera pamit untuk kembali ke kantor.
"Ohh iya, kamu hati-hati di jalan. Terimakasih karena sudah mengantarkan Febby, lain kali mampir lagi."
"Iya Tante, aku pergi dulu."
Revan pergi meninggalkan rumah Febby, kali ini ia kehilangan kesempatan untuk mengatakan tentang hubungannya dengan wanita itu. Padahal ia sudah berniat mengakhirinya.
Febby terus merintih kesakitan, tamu bulanan memang selalu menyiksanya.
"Mamah... Mah... Aww... siaaalll kenapa sakit sekali rasanya. Kemana lagi Mamah."
Sementara mamahnya malah sibuk mengurusi Revan, sang calon menantu idamannya.
"Kenapa kau masih berpura-pura, Revan sudah pergi." Ternyata mamah Wina kira putrinya hanya sedang berakting kesakitan di depan Revan.
Febby melotot mendengar ucapan mamahnya, dia sedang menahan sakit malah dikira pura-pura
"Mamah ini apa-apaan, aku benar-benar sakit. Tolong buatkan air gula seperti yang biasanya mamah berikan," ujar Febby sembari menahan sakit'.
"Ya ampun, jadi kamu benar-benar sakit. Maafkan mamah sayang, sebentar mamah buatkan air gula untuk mengurangi rasa sakitmu."
Mamah Wina bergegas ke dapur.
Febby berguling di sofa, ia sudah tidak tahan lagi rasanya.
to be continue....
POV author
Itu namanya Karman, Feb. Rasain makanya jangan suka godain suami orang.
°°°
...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....
...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....
...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....
...Sehat selalu pembacaku tersayang...
__ADS_1