Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
135. Bunganya Dulu


__ADS_3

°°°


Kedua suami istri itu turun ke lantai bawah, di sana sudah ada assisten Mike dan kakek Tio yang sedang berbicara serius.


"Pagi Kek," sapa Revan.


"Kau sudah siap, apa kalian yakin akan pergi kesana. Kita tidak tau apa yang sudah orang itu rencanakan." Kakek terlihat sangat khawatir dan hal itu berhasil membuat hati Rara jadi gamang untuk melepaskan suaminya pergi.


Inilah yang tidak Revan suka dari kakek, padahal ia sudah berusaha menutupi rasa khawatirnya pada sang istri. Kakek malah membahas hal itu di depan Rara.


"Tenang saja Kek, aku tidak sendirian ada Mike dan beberapa orang yang bisa diandalkan," ujar Revan menenangkan kakeknya, setidaknya dengan adanya Mike, ia yakin bisa sedikit mengurangi kekhawatiran kakek.


"Kakek percaya pada Mike, tapi kamu belum pernah berhadapan dengan hal yang belum pernah kita duga. Kakek tidak mau kamu kenapa-napa," kekeuh kakek yang tidak setuju dengan keputusan cucunya.


"Kek..." Revan mendekat dan menggenggam tangan kakeknya. "Aku pasti pulang dengan utuh seperti saat pergi, aku bisa jaga diri. Aku juga belum membuatkan cicit untuk kakek, jadi jangan khawatir lagi. Aku pasti pulang." Dengan sedikit bercanda, Revan berharap kakeknya bisa mengijinkannya pergi.


Benar saja saat ini wajah kakek sedikit lebih tenang.


"Kamu harus pulang dan buatkan kakek cicit yang banyak," ujar kakek.


"Siap Kek," jawab Revan begitu bersemangat.


Berbeda dengan Rara yang masih dirundung rasa khawatir. Walaupun melihat wajah sang suami dan kakek sudah tertawa tapi tidak membuatnya tenang. Apa sebenarnya masalah yang menimpa perusahaan sampai kakek khawatir akan keselamatan cucunya.


"Kita harus segera berangkat Tuan," ujar Mike yang berdiri di depan mereka. Walaupun kakek sudah menganggapnya sebagai cucu tapi Mike masih segan pada keluarga itu.


"Kakek... aku berangkat dulu, titip Rara." Revan berpamitan pada kakek.


"Kakek pasti akan menjaga cucu menantu kakek, kau yang harus jaga diri. Kalian harus selalu bersama-sama." Pesan kakek. Mike mungkin ikut pergi bersama tapi belum tentu mereka akan terus bisa saling mengawasi 24 jam penuh.


"Aku bukan anak kecil kek, apa harus Mike menemaniku ke kamar mandi juga," ujar Revan membuat kakek tersenyum akan tingkahnya.


"Ayo Mike," ajaknya pada Mike. "Eh tunggu, kalian belum kenalan kan," ujar Revan pada Mike dan istrinya yang sedang memikirkan suaminya.


"Sayang...," panggilnya pada Rara.


"Ini assisten Mike, Mike kenalkan ini istriku." Mereka pun saling berjabat tangan sebagai tanda perkenalan.

__ADS_1


"Kakek kami pergi..." pamitnya lagi seraya melangkahkan kakinya keluar dari rumah itu.


Rara mengantarkan suaminya sampai di dekat mobil dengan digenggam oleh suaminya.


"Mike, kau masuk duluan ke mobil." Perintah Revan pada assistennya agar ia bisa berpamitan dengan benar dengan istrinya.


"Aku pergi... tunggu aku di rumah," ujar Revan.


"Kak, yang dikatakan kakek tadi..." Rara khawatir.


"Jangan memikirkan apapun, percayalah bahwa suamimu ini pasti akan pulang. Dan juga jangan lupa berdoa agar semua cepat selesai." Tangan mereka masih bertaut, sangat sulit bagi mereka untuk saling melepaskan.


"Aku akan terus mendoakan kakak, jangan lupa mengabari ku setiap saat. Jangan lupa memakai pakaian hangat dan harus berhati-hati disana," pesan Rara pada suaminya.


"Aku akan selalu mengingat pesanmu dan juga kakek. Jangan khawatir, karena apa yang kita pikirkan bisa menjadi doa. Jadi selalu pikirkan hal-hal yang baik untuk ku." Entah dari mana Revan bisa berkata seperti itu, padahal selama ini ia jarang sekali berdoa pada sang pencipta.


Rara pun menghambur ke pelukan suaminya. Rasanya dia ingin ikut saja kemanapun suaminya pergi, tapi ia takut malah akan menyusahkan disana dan mengganggu suaminya.


Revan membubuhkan kecupan lembut di kening istrinya, belum juga pergi rasanya sudah sangat rindu pada wanita yang sudah mengisi hari-harinya.


"Aku ada satu permintaan," ujar Revan tanpa melepaskan pelukannya.


"Jangan merindukan ku, biar aku saja yang rindu." Sontak Rara memukul dada suaminya itu. Di saat seperti itu masih bisa bercanda.


Revan terkekeh kecil, sepertinya dia sudah kerasukan roh sampai bisa bicara sok romantis seperti itu.


"Jaga diri Kakak," ujar Rara lagi.


"Pasti... cup," satu kecupan lagi mendarat.


"Boleh aku meminta bunganya dulu sekarang?" tanya Revan.


"Bunga apa kak?" bingung Rara. Perasaan dia tidak punya bunga.


Tanpa aba-aba Revan merengkuh pinggang istrinya hingga jarak mereka saling berdekatan.


"Ini bunganya..." ujar Mike mengusap bibir istrinya dan langsung melu-maat nya dengan lembut dan penuh cinta.

__ADS_1


Rara membulatkan matanya saat tiba-tiba suaminya mencium bibirnya di halaman rumah. Ia sedikit mendorong tubuh Revan agar melepaskan bibirnya, bukan tidak mau tapi Rara tidak ingin ada yang melihat.


Tapi semuanya percuma karena Revan enggan untuk menyudahi aksinya. Ia ingin mendapatkan bekalnya sebelum pergi. Revan terus menyesap dan memainkan lidahnya menggoda istrinya agar mau memberinya celah.


Mabuk cinta dan kasih sayang nyatanya mampu membuat dua insan lupa diri dan merasa dunia ini milik mereka. Sepertinya halnya Revan dan Rara yang sejak tadi tidak sadar ada kakek dan yang lainnya yang sedang melihat mereka bermesraan.


"Mereka manis sekali," ujar para pelayan yang mengintip, isi pada pasangan muda itu.


Kakek tidak mau kalah, ia mengintip di celah pintu. Tidak menyangka jika cucunya akan takluk di tangan Rara, seorang gadis biasa yang tidak neko-neko. Melihat mereka saat ini kakek yakin jika ia akan segera mendapatkan cicit yang lucu.


"Ahmad, Kau kirim orang juga untuk membantu cucuku," titah kakek pada pak Ahmad.


"Pastikan cucuku baik-baik saja, tidak kurang satupun saat pulang," lanjutnya.


"Baik Tuan," pak Ahmad pun segera melaksanakan tugasnya.


Di luar, Revan mengusap bibir istrinya yang basah akibat ulahnya. Bibir mungil yang sangat terasa manis saat ia melu-maat nya.


"Kak, bagaimana kalau ada yang lihat." Protes Rara pada tindakan suaminya.


"Tidak apa-apa, mereka tidak akan berani mengatakan apapun," ujar Revan seenaknya. Tentu saja para pelayan tidak mungkin mengatakan apa-apa di depan tuannya, tapi bagaimana dengan Rara yang harus menahan malu saat mereka meledeknya.


"Aku malu Kak," keluh Rara.


"Ini hanya bunganya, sisanya nanti kamu berikan nanti saat aku sudah pulang." Cup, Revan kembali mencium kening istrinya penuh cinta. Walaupun berat tapi mau tidak mau dia harus pergi dan menyelesaikan semuanya. Meski jaraknya tidak terlalu jauh tapi akan melelahkan kalau pulang pergi setiap hari, jadi lebih baik menginap di sana untuk menghemat waktu dan segera menyelesaikan masalah.


"Ihh kenapa kakak jadi mesum begini," Rara tidak terbiasa membahas hal seperti itu.


Canda tawa singkat sebagai perpisahan mereka, bagaimana akhirnya nanti biar Tuhan yang menentukan. Ehh salah, biar author yang menentukan. Wkwkwk canda guys.


to be continue...


°°°


Kasian amat, baru juga berapa kali bercintaaahh sudah dipisahin jarak dan waktu.


Tega kamu thor!!!

__ADS_1


Ampuuunnnn🤭


__ADS_2