Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
214. Baby Nathan


__ADS_3

°°°


Semua orang menatap heran pada Mike yang tidak lama menyusul mereka keluar dari ruangan istrinya.


"Mike kenapa kau juga keluar? Bagaimana kalau istrimu butuh sesuatu," tegur Revan.


Mike hanya menyengir kuda, bingung mau menjawab apa. Sebagai laki-laki normal yang lama tak menyentuh istrinya karena keadaan tubuhnya tentu hanya karena hal sepele saja sudah membuat celana Mike terasa sesak.


Flashback on


"Sayang apa yang mau kau lakukan?" tanya Mike saat melihat istrinya membuka kancing baju bagian atasnya satu persatu.


Dahi Febby pun berkerut mendengar pertanyaan konyol suaminya. "Tentu saja mau menyusui putra kita , Mike," jawab Febby.


Mike pun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena telah salah mengira dan berpikir ke hal-hal yang aneh.


"Mike, tolong bukankan satu lagi kancingnya lalu tolong keluarkan ini nya yang sebelah kiri. Tanganku masih sakit kalau terlalu banyak bergerak," pinta Febby dengan mengarahkan da da besarnya pada Mike.


Glek.


Jakun Mike naik turun, menelan ludahnya sendiri. Melihat pemandangan indah di depan matanya siapa yang tidak akan tergoda untuk menikmatinya, tapi Mike berusaha menyadarkan dirinya.


Mike ayolah, ini bukan saat yang tepat untuk memikirkan hal itu. Putra mu saat ini butuh asi dari sumbernya.


Mike berusaha membuang jauh-jauh pikirannya. Dengan tangan gemetar dia meraih kancing baju yang ketiga. Keringat dingin bahkan sudah membasahi pelipisnya. Ini sebenarnya hal sepele tapi bagi Mike saat ini adalah sesuatu yang teramat berat.


Oek oek oek...


Lengkingan tangis baby boy semakin keras karena sudah tidak sabar ingin menyusu, tapi sang ayah malah sedang fokus pada pikirannya.


"Mike, cepatlah! Putra kita sudah kelaparan," sentak Febby yang merasa kasihan pada putra kecilnya, wajah polos itu bahkan sudah memerah karena terlalu lama menangis.

__ADS_1


Mike pun tersadar dan kembali ke mode kewarasannya. Buru-buru ia membuka kancing baju itu, tapi ternyata cobaannya tidak sampai disitu karena Febby minta agar sang suami juga membantu mengeluarkan salah satu bukit kembarnya.


"Cepat sedikit Mike...," Febby sudah tidak sabar dengan suaminya yang terlalu lama. Kalau saja tangannya tidak terluka pastilah dia bisa melakukannya sendiri.


"I... iya sebentar," gugup Mike dengan keringat yang semakin bercucuran.


Dengan susah payah dan penuh perjuangan menahan hasratnya agar tidak melakukan hal aneh. Akhirnya Mike berhasil mengeluarkan bongkahan itu dari sarangnya. Dan tangis baby boy pun sudah mereda setelah mulutnya dipenuhi oleh pucuk merah muda yang menggoda.


Huft... akhirnya selesai juga. Mike mengusap peluh keringatnya lalu memilih keluar dari ruangan itu, membiarkan baby boy menyusu sampai kenyang. Dia tidak tau apa yang akan terjadi kalau tetap di ruangan itu, mungkin saja Mike akan merebut apa yang menjadi miliknya selama ini dari sang putra.


Flashback end.


,,,


Beberapa hari di rumah sakit.


Keadaan Febby semakin baik, tubuhnya pun pulih dengan cepat. Mungkin itu berkat kehadiran baby boy yang membuatnya merasa bahagia.


"Sayang, kita belum memberinya nama. Apa kau punya saran nama yang bagus?" tanya Mike pada Febby yang tengah menyusui putra mereka.


"Hmm... Bagaimana kalau namanya Nathan Anderson." Ajaibnya saat Febby mengatakan itu baby boy tersenyum lebar memperlihatkan gusinya yang belum ditumbuhi gigi.


"Sepertinya dia suka dengan nama itu," ujar Mike.


Kebahagiaan mereka terlengkapi oleh kehadiran putra tampan mereka yang selalu menjadi rebutan aunty-aunty mereka kalau datang.


Nathan, mamah harap kau akan menjadi laki-laki yang hebat, pintar dan bertanggung jawab kalau sudah besar nanti. Kau adalah cahaya dalam hidup mamah dan papah, kehadiran mu adalah awal kisah kami dimulai.


,,,


Di kediaman keluarga Alvredo.

__ADS_1


Setelah menikah Lia dan Sakka tinggal di rumah super mewah itu. Menemani ayah Bayu yang katanya kesepian di rumah itu.


Lia sekarang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah tapi bukan berarti dia menganggur. Sebenarnya mertuanya sudah membuatkannya boutique kecil-kecilan untuk Lia urus. Namun, sang suami berpesan agar is tidak terlalu sibuk diluar dan lebih banyak di rumah saja.


"Sayang, kak Febby sudah punya anak yang sangat tampan dan Rara juga sebentar lagi melahirkan. Aku kapan bisa seperti mereka?" Lia sedikit iri pada temannya.


"Sabar sayang, mungkin belum saatnya. Kita nikmati saja waktu kita berdua," ujar Sakka yang melihat betapa tersiksanya Mike yang kini istrinya fokus pada putranya dan Revan yang harus selalu siaga.


"Tapi bosan juga kalau berdua terus begini, apalagi kalau kamu sedang bekerja. Aku kesepian di rumah ini." Lia meletakkan kepalanya di dada suaminya, saat ini mereka sedang duduk di kursi taman belakang rumah.


"Kenapa kau jadi seperti ayah yang selalu mengeluh kesepian. Kau kan bisa pergi ke butik kalau bosan," ujar Sakka.


"Iya sih, di butik aku sedikit terhibur karena menyibukkan diri tapi aku juga tidak nyaman setiap kali ada yang bertanya. Sudah isi belum? sudah berapa lama menikah?" Memang seperti itu omongan orang sekarang, mereka suka sekali mengurusi hidup orang lain. Padahal hidup mereka juga belum tentu benar.


"Lalu kamu mau bagaimana, Yank? Kita kan baru menikah beberapa bulan, bilang saja kita masih ingin menikmati waktu berdua." Sakka memang tak pernah ambil pusing soal anak, ayah Bayu juga tidak pernah menuntut apa-apa.


"Entahlah, apa sebaiknya kita periksa saja ke dokter untuk mengetahui apakah ada masalah. Setidaknya kalau memang ada masalah jadi bisa terdeteksi sejak dini," ujar Lia dengan hati-hati karena tidak mau suaminya tersinggung.


"Baiklah, aku menurut saja. Apapun yang menurut kamu baik sayang." Sakka memeluk istrinya dengan penuh kasih sayang. Wanita yang susah payah ia dapatkan. Wanita yang berhasil membuatnya berubah dan wanita yang pertama kali membuatnya jatuh hati pada pandangan pertama.


Saat ini Lia sudah tidak seperti dulu yang malu berdampingan dengan sang suami. Kini ia bisa berdiri dengan tegak dan berjalan bersama Sakka. Berkat dorongan dari sang suami tentunya, yang terus meyakinkan Lia agar lebih percaya diri. Dan yang membuat Lia bangga , sang suami ternyata sama sekali tidak mengandalkan ayahnya dalam urusan bisnis.


Ya Sakka berhasil mendirikan perusahaan nya sendiri yang di beri nama Berkah Jaya Group dan dia juga berhasil bekerja sama dengan perusahaan milik Revan berkat usahanya sendiri.


Mereka juga masih tercatat sebagai mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Indonesia, termasuk Rara. Mereka berhasil membagi waktu untuk belajar, kerja dan keluarga.


to be continue...


°°°


Like komen dan bintang lima 😍

__ADS_1


Gomawo ❤️❤️


__ADS_2