
°°°
Dalam gendongan Mike gadis itu tersenyum melihat bayi mungil nan tampan yang sedang terlelap.
"Apa dia tampan?" tanya Mike.
"Dia tampan dan menggemaskan uncle," puji gadis itu.
"Bolehkah aku mencium pipinya uncle?" tanyanya lagi dengan wajah polosnya.
"Jangan nak, adik bayi sedang tidur. Nanti kalau bangun bagaimana." Sang ibu gadis kecil itu merasa tak enak dengan permintaan putrinya.
"Tidak apa-apa, kau boleh menciumnya." Mike pun membantu mendekatkan mereka dan gadis kecil itu berhasil mendaratkan bibirnya pada pipi chubby baby boy.
"Terimakasih uncle," ujar gadis itu dengan mata berbinar.
"Sama-sama sayang."
Sementara baby boy hanya menggeliat kecil, dia sama sekali tidak terganggu tidurnya.
"Kalau begitu kami permisi Tuan, sekali lagi terimakasih banyak." Wanita itu terus berterimakasih sejak tadi.
"Sama-sama Nyonya, oh iya bisakah anda berikan putri anda pengertian agar tidak perlu merasa bersalah pada istri ku. Dia masih terlalu kecil untuk mengerti semua ini. Jangan menekannya atau memarahinya, bicaralah baik-baik agar dia tidak lagi melakukan hal yang berbahaya tapi jangan memaksa dia untuk mengerti. Dia hanya anak-anak," ujar Mike seraya menatap Kiara yang sejak tadi tak beranjak dari sisi baby boy.
"Saya mengerti Tuan, mungkin tadi saya terlalu panik hingga tidak sengaja memarahinya."
Gadis kecil itu terlihat tak rela karena harus berpisah dari baby boy yang lucu. Dia terus menatap bayi itu.
"Kau boleh datang lagi kapanpun untuk bermain dengan baby boy," ujar Mike.
"Benarkah uncle?" tanya Kiara dengan wajah berbinar.
"Tentu girl," ujar Mike seraya mengusap kepala Kiara.
Gadis kecil itu pun menghambur ke pelukan Mike dan berterimakasih karena sudah mengijinkannya untuk datang lagi.
,,,
Beberapa saat kemudian.
__ADS_1
Baby boy sedang menangis dan suara tangisnya menggema di ruangan itu.
"Sepertinya tuan kecil lapar, Tuan," ujar bi Ida yang sudah datang untuk membantu merawat baby boy.
"Kalau begitu sini berikan padaku bi, bibi bisa buatkan susu formula untuknya." Mike mengambil putranya dari gendongan bi Ida dan mencoba menenangkannya.
Sabar ya sayang, maafkan papah karena kau hanya bisa minum susu formula.
"Ini Tuan," Bi Ida menyerahkan susu formula yang tadi ia buat.
Ternyata benar memang baby boy lapar, terbukti saat dia meminum susunya dengan tidak sabaran.
Setelah kenyang baby boy kembali tertidur. Seperti itulah pekerjaan bayi.
"Saya tunggu di luar Tuan, kalau Tuan butuh apa-apa bisa panggil saya." Bi Ida pamit keluar setelah baby boy tertidur di boxnya.
Bertepatan dengan bi Ida membuka pintu, Rara, Revan dan kakek Tio datang bersama-sama. Bi Ida pun membukakan pintu untuk mereka.
"Bagaimana keadaan Febby?" tanya kakek Tio begitu masuk.
"Taun besar?" Mike kaget melihat mereka sudah ada di sana.
"Pelan-pelan sayang," ujar Revan yang sejak tadi juga mengkhawatirkan istrinya yang sejak tadi tidak sabaran untuk melihat keadaan Febby. Wanita hamil itu bahkan sempat berlari tadi, untung saja Revan melihatnya.
"Kak Febby... kenapa bisa seperti ini?" tangis Rara saat melihat keadaan Febby yang penuh luka.
"Dia terlampau baik sampai tidak peduli dengan nyawanya sendiri untuk menyelamatkan seorang anak kecil yang hampir saja tertabrak mobil padahal sama sekali tidak ia kenal," ujar Mike.
"Bagaimana kata dokter Mike?" tanya kakek Tio. Beliau dan yang lain begitu khawatir pada pasangan suami istri itu. Mereka baru sebentar merasakan kebahagiaan, bagaimana mungkin sekarang kembali di timpa musibah. Lalu bagaimana kalau kali ini Febby koma sama seperti Mike saat itu.
"Dia sudah melewati masa kritisnya, mungkin sebentar lagi dia bangun. Dia wanita kuat dan tangguh, aku yakin dia akan berjuang demi putranya."
"Di mana baby boy Kak? aku ingin melihatnya." Rara antusias saat membahas bayi. Ya selama ini mereka sering menghabiskan waktu bersama. Rara, Febby dan juga Lia untuk membahas masalah baby. Tentu saja Rara juga sangat ingin melihat putra temannya.
"Dia sedang tidur di sana," tunjuk Mike pada box bayi yang berada di sisi ranjang.
Saking khawatir nya mereka sampai tak menyadari akan adanya box bayi di ruangan itu.
Mereka sama-sama menghampiri baby boy dan seketika mereka jatuh cinta pada bayi kecil itu. Dari bayi saja aura ketampanannya sudah terlihat.
__ADS_1
"Baby boy tampan sekali, kak Febby pasti bahagia saat melihatnya," ujar Rara.
"Kau benar nak, dia sangat tampan. Cicitku sangat tampan," puji Kakek dengan raut wajah bahagia. Dia yang sudah menganggap Mike dan Febby seperti cucunya sendiri ikut merasakan kebahagiaan itu.
Sebenarnya kakek juga sering mengirimkan perlengkapan bayi yang sama seperti milik cicitnya, kakek pun sudah pernah menawarkan rumah yang lebih besar untuk mereka tapi Mike menolaknya. Bukan karena apa-apa tapi ia ingin memberikan apapun untuk putranya dari hasil kerja kerasnya sendiri.
"Apa kau sudah memberinya nama?" tanya kakek Tio.
"Belum Tuan, saya ingin menunggu Febby bangun untuk memberinya nama," jawab Mike.
"Lalu bagaimana masalah kecelakaan itu, apa kau sudah menyelidiki kalau belum kakek akan menyelidikinya. Kakek tidak akan membiarkan orang yang sudah mencelakai keluarga kakek hidup dengan tenang."
"Tidak perlu Kek, ibu dari anak itu justru yang telah menyelamatkan Febby dengan mendonorkan darahnya. Sepertinya memang itu murni kecelakaan dan kelalaian."
Kakek Tio pasti khawatir kalau masih ada orang-orang yang berniat mencelakai keluarga nya lagi seperti dulu.
"Syukurlah kalau begitu." Kakek merasa lega.
Sementara Rara dan Revan masih memperhatikan bayi mungil itu. Sesekali Rara juga mengusap pipi chubby nya.
"Baby boy tampan sekali Kak, bisa dibayangkan nanti kalau sudah besar pasti jadi rebutan para gadis," seloroh Rara.
"Sayang jangan terlalu banyak memuji pria lain, aku bisa cemburu nanti," ujar Revan.
"Ya ampun Kak, dia kan masih bayi. Bagaimana kak Revan bisa cemburu pada bayi kecil ini." Rara justru sengaja menciumi pipi baby boy di depan Revan.
Kakek dan Mike geleng-geleng kepala melihat tingkah Revan.
"Oh iya nak, bagaimana keadaan kakimu?" tanya kakek Tio yang baru saja sadar kalau saat ini Mike tidak menggunakan kursi roda, bahkan bisa berjalan seperti biasa.
Semua orang pun menatap Mike dan melihat kakinya.
Mike pun sama, dia sama sekali tidak ingat kalau beberapa jam yang lalu dia masih terduduk di kursi roda. Namun, ajaibnya saat ini sama sekali tidak ada rasa sakit yang ia rasakan di kakinya. Dia pun menggerakkan kakinya lalu mencoba melompat kecil dan sama sekali tidak terasa sakit lagi.
to be continue...
°°°
Like komen dan bintang lima 😍
__ADS_1
Gomawo ❤️❤️