Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
141. Febby Galau


__ADS_3

°°°


Di rumah Mike.


Febby masuk ke dalam kamarnya setelah selesai sarapan, tidak ada yang bisa ia kerjakan. Bagaimana kuliahnya? Dia masih kuliah hanya saja Mike belum mengijinkannya, katanya Minggu depan saja atau tunggu tubuhnya sudah benar-benar pulih.


Huhh... lagi-lagi jadi teringat laki-laki itu. Hari ini dia pulang jam berapa ya dari kantor, apa dia lembur atau seperti kemarin pulang sore.


Febby pun merebahkan tubuhnya di atas ranjang king size dengan seprai berwarna biru muda. Dia menatap langit-langit kamar itu, kamarnya sendiri bukan kamar Mike. Dia tidak ingin lancang memasuki kamar pria itu tanpa ijin. Kalau kemarin kan Mike sendiri yang membawanya kesana.


Lagi-lagi Febby teringat ucapan pelayan tadi, rasanya masih membekas dan sulit dihilangkan. Dia memikirkan statusnya saat ini, walaupun ia biasa tidur dengan laki-laki tapi kenapa sekarang lain. Rasanya dia ingin serakah, ya dia ingin diakui dan dihormati sebagai nyonya di rumah itu.


Aahhh... tidak!! Apa yang aku pikirkan. Kenapa juga aku harus memikirkan ucapan orang itu, dia siapa dengan mudahnya menghakimi ku.


Sudahlah, jalani saja.


Febby membuang jauh-jauh pikiran itu dari kepalanya.


Tok tok tok


"Permisi nona," ujar bi Ida.


"Masuk Bi." Febby bangun dari berbaring nya dan duduk di tepi ranjang.


"Saya bawakan buah untuk nona, mau di makan sekarang atau nanti?" tanya bi Ida yang sedang membawa nampan.


"Letakkan saja di meja bi, aku masih kenyang." Febby baru saja menghabiskan semua makanan di meja makan tentu saja perutnya masih terasa penuh.


Bi Ida pun meletakkan potongan buah yang ia bawa di atas meja. Lalu dirinya beralih menatap wajah nonanya yang terlihat sendu. Ia tau pasti ini karena perkataan pelayan tadi.


"Nona jangan memasukkan ke dalam hati perkataan pelayan tadi, nanti pelayan itu akan mendapatkan pelajaran dari tuan Mike." Bi Ida mendekati Febby dan wanita itu tersenyum padanya.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa bi, yang dikatakan pelayan itu benar. Semua yang keluar dari mulutnya semuanya benar, aku memang wanita seperti itu." Febby tersenyum miris, inikah karma yang harus ia dapatkan dari dosa yang telah banyak ia perbuat. Setidaknya cacian dan hinaan itu bisa mengurangi dosa-dosanya.


"Tidak ada manusia yang sempurna Non. Semua manusia yang hidup di dunia ini pasti tidak luput dari dosa. Tinggal kita mau berusaha memperbaiki diri atau tidak." Nampaknya Bi Ida mengerti apa yang dirasakan Febby.


"Dosaku terlalu banyak bi," ujar Febby.


"Orang mencaci dan memaki nona belum tentu lebih baik dari nona Febby. Nona jangan banyak pikiran, janin yang ada di dalam perut nona bisa merasakan kesedihan yang nona rasakan." Bi Ida terus memberikan semangat untuk Febby.


"Jadi bibi tau, kalau aku sedang hamil..." Febby sedikit kaget karena bi Ida tau jika dirinya hamil dan mungkin juga pelayan di rumah itu tau semua.


"Iya Non bibi sudah tau, tuan Mike yang mengatakannya sendiri. Tuan mengatakan jika nona sedang hamil anaknya," ujar bi Ida.


Lagi-lagi Febby tersenyum miris, "Memalukan ya Bi."


"Tidak Non, tuan hanya mengatakan hal itu pada saya."


Febby pun kemudian sedikit tertarik dengan kehidupan Mike. Mungkin bi Ida bisa bercerita tentang laki-laki itu pikirnya.


"Bi sini duduk, ada yang mau aku tanyakan," ujar Febby menyuruh bi Ida untuk duduk di sebelahnya.


"Apa Mike punya pacar bi? Apa pacarnya juga sering tidur di rumah ini?" tanya Febby.


"Setau bibi, tuan tidak punya pacar non dan nona adalah wanita pertama yang dibawa pulang oleh tuan," jawab bi Ida dan jujur jawaban itu sedikit membuat hati Febby lega setidaknya dia bukan jadi orang ketiga lagi saat ini.


"Apa selama ini dia tinggal di rumah ini atau punya rumah lain?" Febby lebih banyak ingin tau mengenai laki-laki itu.


"Sebelum ada nona, tuan lebih banyak tinggal di apartemennya. Pulang kesini mungkin seminggu dua kali." Bi Ida tampak mengingat-ingat.


"Apartemen bi?? Berarti bibi tidak tau dong kalau Mike punya pacar, mungkin dia membawanya ke apartemen bukan ke rumah ini." Ternyata kelegaan itu tidak bertahan lama, ada kemungkinan jika Mike memiliki kekasih.


"Tidak Non, tidak seperti itu. Yang saya tau tuan Mike itu gila kerja, dia banyak menghabiskan waktunya untuk bekerja," sanggah bi Ida.

__ADS_1


"Aku tidak yakin bi, wajahnya tampan, penampilannya keren. Mana mungkin tidak ada wanita yang mau dengannya."


"Bukan tidak ada yang mau non, tapi tuan yang tidak mau. Nona adalah wanita pertama di hidup tuan. Bibi yakin itu." Bi Ida menyakinkan Febby agar tidak berpikiran yang tidak-tidak.


"Benarkah? Bibi yakin?" tanya Febby dengan mata berbinar. Entah kenapa rasanya begitu bahagia mendengar pernyataan bi Ida.


"Iya Non. Saat menyiapkan kamar ini untuk nona saja, tuan sangat memperhatikan detail nya dia seperti takut nona tidak suka."


"Bibi tidak mengada-ada kan? Bukan cuma mau buat aku senang kan?" ujar Febby menyipitkan matanya.


"Beneran non, untuk apa bibi bohong. Sepertinya tuan sangat mencintai nona," ujar bi Ida yakin dengan praduga nya.


Febby diam dan memikirkan apa yang bi Ida katakan. Mungkinkah seperti itu, apa mungkin laki-laki itu mencintainya. Atau hanya karena ada anak dalam perutnya? Ya pasti karena itu. Kalau tidak ada anak itu pasti laki-laki itu tidak akan muncul dihadapan lagi.


"Terimakasih ya Bi, sudah mau menjawab pertanyaan ku," ujar Febby seraya tersenyum. Ia tidak mengatakan apa yang ada di pikirannya.


"Sama-sama Non, apa ada lagi yang ingin nona tau tentang tuan?"


"Tidak Bi, sudah cukup itu saja." Febby bangun dan mengambil buah yang ada di atas meja.


"Kalau begitu saya permisi nona, sebaiknya nona beristirahat, kalau butuh apa-apa panggil saya saja dan kalau mau bertanya tentang tuan saya siap untuk memberitahukan apa yang saya tau." Bi Ida berdiri dan membungkukkan tubuhnya.


"Iya Bi, terimakasih ya. Jangan katakan padanya kalau aku tanya-tanya sama bibi." Febby malu kalau sampai Mike tau.


"Baik Non, bibi akan tutup mulut." Setelah itu bibi pun keluar dari kamar itu, meninggalkan Febby sendirian dengan pikirannya.


Bagaimana sebenarnya perasaan nya padaku. Kalau dia tidak mencintai ku kenapa kemarin dia menyentuhku lagi. Oh Febby apa kamu bodoh, tentu saja laki-laki itu dengan senang hati memakan umpan kan kamu sendiri yang memancingnya kemarin. Febby merutuki kebodohannya.


to be continue...


°°°

__ADS_1


Mike... mbak Febby galau tuh...


Mana ini suara kalian, author nggak denger... 🤗🤗🤗


__ADS_2