Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
199. Sebelum Janur kuning Melengkung


__ADS_3

°°°


Setelah mengisi perut dan mengganti pakaian, Rara dan Revan pun memutuskan untuk pulang. Sebenarnya menginap pun tidak apa-apa tapi jarak ke kantor dan ke kampus cukup jauh dari sana. Sementara itu bukan weekend.


"Sayang, sepertinya kita harus sering-sering menginap di luar." Revan puas sekali hari ini walaupun mesti basah-basahan karena hujan tapi dia senang karena akhirnya mereka berakhir di kamar hotel.


"Di rumah aja bisa kak, membuat bayi kan?" seloroh Rara.


"Iya tapi kita harus menjajalnya di beda-beda tempat juga," ujar Revan.


"kenapa belum ada yang tumbuh juga disini, apa sebaiknya kita periksa kak?" Rara memegang perutnya yang datar.


"Tidak perlu buru-buru, kita baru menikah beberapa bulan dan masih banyak waktu untuk itu. Sebaiknya kita nikmati saja waktu kita berdua sekarang," ujar Revan seraya memegang tangan sang istri yang menempel di perutnya.


"Terimakasih Kak, oh iya aku besok mau ke rumah sakit untuk menemui Kak Febby. Aku sudah janji akan datang untuk menemaninya ke dokter kandungan dan setelah itu mengajarinya sholat. Boleh kan Kak?" Rara meminta ijin pada suaminya.


"Tentu saja boleh sayang, tapi harus ditemani bodyguard. Aku tidak mau kalau sampai ada kejadian seperti tempo hari," ujar Revan yang mengkhawatirkan istrinya.


"Iya Kak, bagaimana baiknya menurut kak Revan saja." Rara tidak masalah karena selama ini dia pun tau kalau ada beberapa pengawal yang selalu mengikutinya. Entah itu suruhan kakek Tio atau suaminya, dia tidak protes selama pengawal itu tidak menggangu dirinya.


"Penurut sekali istriku," puji Revan.


"Iya dong, kalau untuk sesuatu yang baik kenapa aku harus menolak." Rara memasang senyum di bibirnya.


"Berarti kalau nanti malam aku minta lagi, kamu juga tidak akan menolak kan."


Sontak Rara mendaratkan pukulan di lengan keras sang suami.


"Tidak lagi kak, aku benar-benar lelah," pinta Rara.


"Aku bercanda sayang, malam ini kamu bisa tidur nyenyak." Tapi tidak besok malam. Revan tersenyum menyeringai.


,,,


Esok harinya.

__ADS_1


Rara berangkat pagi karena kelompok mereka akan presentasi hari ini karena itu sang suami juga menyempatkan diri untuk mengantarkan sang istri.


"Aku masuk dulu Kak." Rara meraih tangan suaminya untuk Salim.


"Tunggu sayang. kau melupakan sesuatu," ujar Revan membuat Rara menautkan kedua alisnya.


"Apa itu Kak?"


Revan pun mengerucutkan bibirnya, itu tanda kalau dia ingin ciu man dibibir.


"Tapi disini ramai kak, bagaimana kalau ada yang lihat," ujar Rara yang khawatir kalau ada yang lihat.


"Sebentar saja...," Revan langsung menempelkan bibirnya, seperti katanya tadi benar-benar sebentar dan hanya menempel. Kalau sampai ada lu matan pasti ujung-ujungnya dia yang tersiksa sendiri.


"Kalau begitu aku turun Kak, assalamualaikum." Rara turun dengan pipi yang memerah. Walaupun katanya kaca mobil itu tidak terlihat dari luar tapi melakukannya di tempat umum seperti itu membuatnya berdebar.


Semoga saja tidak ada yang lihat.


Sementara dari kejauhan ada seseorang yang sejak tadi memperhatikan mobil yang ditumpangi Rara tadi. Sampai dia melihat bagaimana tersipu nya wanita itu saat turun dari mobil. Meski tidak bisa melihat, tapi orang bodoh saja tau apa yang mungkin barusan terjadi di dalam mobil itu.


Presentasi hari ini pun berjalan dengan begitu lancar, tidak menyangka kalau seorang Bima yang seperti patung es akan sangat memukau dihadapan dosen dan teman-temannya.


"Sekarang kamu percaya kan Li, kalau dia bisa melakukannya," bisik Rara pada temannya yang kemarin meragukan kemampuan Bima.


"Iya Ra, aku sampai kagum padanya. Dia bisa begitu lancar berbicara di sana. Bisa mengingat apa saja isi dari hasil tugas kita secara detail. Aku kira kemarin dia sama sekali tidak mendengarkan," kagum Lia.


"Jangan mengagumi nya seperti itu, nanti aku cemburu," bisik Sakka yang sejak tadi dicueki oleh kekasihnya yang sibuk mengamati presentasi Bima. Kalau tau begitu dia tidak akan mengusulkan Bima untuk tampil.


Bukan hanya teman satu kelompoknya saja yang kagum tapi para gadis yang ada di sana juga dibuat klepek-klepek oleh Bima.


"Bagaimana, apa cukup?" tanya Bima pada teman satu timnya.


"Bagus, tadi itu sangat keren Bim," puji Lia, membuat Sakka dilanda rasa cemburu karena kekasihnya memuji laki-laki lain.


"Sayang, kan sudah aku bilang jangan memuji laki-laki lain seperti itu. Apa aku tidak cukup bagimu, aku juga bisa seperti Bima tadi kalau cuma presentasi begitu," cibir Sakka yang sedang cemburu.

__ADS_1


"Ohh ya, kalau begitu biar aku bilang pada dosen pembimbing kalau kamu juga mau presentasi," ancam Lia, dia tau betul kalau kekasihnya itu sama sekali tidak berbakat pada bidang akademis. Mungkin kalau di bidang olahraga raga atau yang mengandalkan fisik dia bisa mengalahkan Bima tapi kalau soal urusan pelajaran sudah di pastikan kalau Sakka tidak ada apa-apanya.


"Ehh tidak, maksudku nanti aku akan tunjukkan padamu saja presentasi nya. Kasian kalau dosen harus memberikan nilai lagi," sanggah Sakka, tentu saja dia gelagapan sendiri. Tidak menyangka kalau Lia akan benar-benar menyuruhnya untuk presentasi.


Lia hanya mendengus kesal pada Sakka.


Sementara Bimo melihat ke arah seseorang sejak tadi, seseorang yang ia harapkan mau memberinya pujian.


"Ayo Ra kita pergi saja merayakan keberhasilan tim kita," ajak Lia seraya menarik lengan temannya.


,,,


Sementara di perusahaan fresh grup.


Sejumlah karyawan sedang mengikuti seleksi untuk menjadi sekretaris direktur utama. Ternyata bukan cuma berapa lama mereka bekerja di sana yang menjadi tolak ukur, tapi juga perlu beberapa keahlian lainnya.


"Aku tidak menyangka kalau aku bisa sampai di tahap akhir, kamu tau sendiri kan siapa saja saingan kita. Para wanita yang sudah lama di perusahaan ini dan mereka juga dekat dengan beberapa atasan," bisik salah satu karyawan pada temannya.


"Aku juga, tapi aku tidak yakin karena aku baru beberapa Minggu bekerja di sini." Rindu pesimis kalau dia tidak mungkin punya kesempatan untuk bertemu dengan direktur utama perusahaan itu.


"Walaupun kamu baru sebentar disini tapi kamu sudah sangat baik Rin, manager kita saja sering memuji kinerja kamu. Pasti sebelumnya kamu sudah pengalaman ya," ujar temannya tadi.


"Iya, sebelum disini aku pernah bekerja di perusahaan kecil. Kalau dibandingkan dengan perusahaan ini tidak ada apa-apanya," ujar Rindu.


"Ehh... mereka sudah dateng, waah Dirut kita ternyata datang langsung untuk memilih. Aku jadi deg deg an."


Semua orang yang ada di ruangan itu langsung excited menyambut kedatangan direktur utama mereka yang super tampan.


to be continue...


°°°


Like komen dan bintang lima 😍😍


Jangan lupa ramaikan novel othor yang satunya lagi yuk, Gak kalah seru juga loh.

__ADS_1


Gomawo 🤗


__ADS_2