Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
217. Mengajak Pergi


__ADS_3

°°°


Hari berganti hari.


Lia sudah melakukan apa yang dianjurkan oleh dokter. Meminum obat, vitamin dan terapi. Semuanya demi bisa memberikan anak untuk suaminya.


Lia juga sekarang sedikit mengurangi aktivitasnya di butik agar tidak kelelahan. Dia hanya akan memeriksa dari rumah. Lia benar-benar menjalani pola hidup sehat dan banyak menenangkan pikiran.


Kenapa tidak aku saja yang bermasalah, rasanya tidak tega melihat istriku setiap hari seperti memikirkan sesuatu.


Sakka tentu merasa kasihan pada sang istri, dia sudah berulang kali mengatakan kalau tidak buru-buru untuk punya anak tapi Lia tetap kekeuh ingin segera memiliki anak. Kalau apa yang Lia rasakan saat ini bisa digantikan oleh Sakka, pria itu rela menanggungnya.


Padahal yang dulu banyak dosa dan banyak bermaksiat adalah dirinya tapi sang istri yang harus menanggung karmanya.


Ya Alloh hukum aku saja, jangan istri ku.


Sakka memperhatikan istrinya yang sedang melakukan yoga dari jauh.


"Sayang," panggil Sakka seraya mendekati istrinya.


"Sudah pulang Yank, ini kan masih sore?" tanya Lia pada sang suami. Pasalnya Sakka biasanya pulang larut malam.


"Iya, pekerjaanku sudah selesai. Aku ingin mengajakmu makan malam di luar, sekalian kita jalan-jalan. Bagaimana kau mau?"


Tentu saja wajah Lia langsung berbinar, siapa yang tidak mau saat pasangan kita mengajak pergi jalan-jalan. Apalagi makan malam di luar.


Seketika suasana makan malam romantis pun terbayang dalam benak Lia. Dimana lilin-lilin menghiasi dan diiringi musik klasik yang menambah kesan romantis.


"Hai kenapa melamun?" tanya Sakka.


"Tidak apa Yank, hehehe. Memang kita mau kemana?" Lia salah tingkah.


"Nanti kamu akan tau, ayo kita siap-siap."


Di kamar.


Lia sedang mandi saat ini, bersiap mau pergi dengan suaminya. Selesai mandi dia keluar menggunakan bathrobe.


Dahi Lia berkerut saat mendapati sebuah kotak hadiah diatas tempat tidur mereka.


Apa ini, apa ini untukku atau milik Sakka.

__ADS_1


"Yank... ini yang ada di atas tempat tidur milik siapa?" teriak Lia pada suaminya yang ada di balkon kamarnya.


Mendengar sang istri sudah selesai mandi, Sakka pun segera mematikan sambungan teleponnya dan menghampiri sang istri.


"Itu untukmu, bukalah," perintahnya.


"Apa isinya, kamu tidak mengerjaiku bukan?" tanya Lia penuh selidik pasalnya sang suami suka jahil padanya.


"Tidak dong... itu benar-benar hadiah. Coba buka," ujar Sakka.


Dengan perlahan Lia pun membuka kotak hadiah.


"Ini... kapan kamu menyiapkan ini." Lia menutup mulutnya yang ternganga melihat indahnya gaun yang suaminya berikan.


Sakka memeluk sang istri dari belakang, meletakkan dagunya di pundak sang istri.


"Sudah lama aku ingin mengajakmu berkencan seperti dulu. Maaf ya karena semenjak aku menjalankan bisnis jadi tidak punya banyak waktu untuk kita," ujar Sakka.


"Tidak apa-apa, aku mengerti kalau kamu sedang berjuang untuk membuktikan kalau kau mampu sukses dengan usaha sendiri. Aku justru bangga padamu Yank, sedangkan aku tidak bisa membantu apapun." Lia ingin sekali membantu saat sang suami bekerja hingga larut malam tapi dia tidak tau apa-apa.


"Itu tidak perlu sayang..., kau hanya perlu di rumah dan menyambut ku dengan senyuman saat pulang. Itu sudah sangat membantu menghilangkan rasa lelah karena seharian bekerja."


"Kau menggodaku...," ujar Sakka yang kemudian menarik tengkuk istrinya agar bibir mereka kembali menempel. Saling me maa gut dengan penuh cinta yang tak pernah berkurang tapi justru bertambah.


Bunyi decapan pun mulai terdengar saat ciu -man itu semakin dalam dan mulai meminta lebih. Apalagi Lia yang hanya menggunakan bathrobe tentu membuat Sakka mudah terbakar gai -rah.


Lia juga mengalungkan tangannya pada leher Sakka dan membiarkan pria itu bebas mengakses benda kesukaannya.


Hosh hosh hosh


Ahh ... uh...


Lia yang baru saja mandi pun kembali gerah saat bibir suaminya mulai turun membuat hawa dingin di ruangan itu sama sekali tidak berfungsi.


"Aku tidak bisa melanjutkan ini sekarang," ujar Sakka has ratnya sudah di ubun-ubun tapi dia harus tetap waras atau rencananya malam ini akan kacau dan hanya berakhir di ranjang malam ini.


"Kenapa Yank, apa kamu tidak ingin," goda Lia seraya membuka kancing kemejanya suaminya. Dia tau kalau laki-laki itu sudah sangat ingin dan dirinya pun sama.


"Kau lupa kalau kita mau pergi?" Sakka menahan tangan istrinya agar tidak membuka kemejanya.


"Nanti saja perginya..., kita selesaikan ini dulu bagaimana?" ujar Lia dengan nada yang menggoda.

__ADS_1


Hampir saja Sakka terpancing oleh gerakan tangan yang dilakukan sang istri, tapi kemudian dia tersadar kalau malam nanti mereka bisa melakukannya dengan puas. Kalau sekarang mungkin hanya sebentar dan Sakka tidak akan puas.


"Kita lanjutkan nanti malam saja. Sekarang kamu pakai gaun mu. Aku akan pergi mandi," tutur Sakka dengan wajah yang memerah, setelah itu dia bergegas masuk ke dalam kamar mandi.


Lia terkekeh sendiri melihat suaminya yang berusaha menahan diri agar tidak melakukan hal lebih. Ia paham bagaimana tersiksanya seorang pria kalau tidak dikeluarkan sesudah on karena Sakka sering mengatakannya.


"Sayang, tapi itunya bagaimana? Apa tidak apa-apa kalau tidak diteruskan. Bagaimana kalau kau malam pusing nanti," teriak Lia di depan pintu kamar mandi.


Sementara di dalam Sakka baru saja mengguyur tubuhnya dengan air dingin untuk menidurkan miliknya.


"Tidak usah memikirkan nya. Kau dandan yang cantik saya Yank," sahut Sakka.


Sabar ya junior, nanti malam kau bebas beraksi.


Sakka keluar menggunakan handuk kecil di pinggangnya.


"Bagaimana penampilan ku Yank?" tanya Lia yang sudah selesai bersiap. Dia terlihat begitu cantik dengan dress berwarna putih tampa lengan. Sangat kontras dengan kulitnya yang putih bersih.


"Kenapa seperti ini?" tatap Sakka kecewa.


Seketika Lia pun menciut karena mengira penampilannya buruk di mata sang suami.


"Apa penampilan ku sangat buruk sampai kamu terlihat tidak suka begitu," lirih Lia.


"Kau salah paham Yank, kau justru sang cantik malam ini karena itulah aku tidak suka. Di luar nanti akan banyak yang melihat kecantikan istriku jadinya," ujar Sakka menjelaskan apa maksudnya.


"Benarkah? Kamu tidak sedang berbohong demi membuat ku senang kan?"


"Iya sayang, kau boleh tanya pada orang lain. Pasti mereka akan mengatakan hal yang sama," tutur Sakka.


"Tapi kenapa kamu tidak suka, aku menggunakan gaun ini kalau memang terlihat cantik." Lia menatap manik mata suaminya mencari jawaban.


"Kau juga tidak tau. Aku hanya tidak rela kalau para pria di luar sana melihat kecantikan istriku ini."


To be continue...


°°°


Like komen dan bintang lima 😍


Gomawo ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2