
°°°
Revan mulai merasa jika istrinya sudah terlalu lama di kamar mandi, entah apa yang sedang gadis itu lakukan.
Revan pun kembali mengetuk pintu kamar mandi yang masih tertutup.
"Sayang, Rara... kau sedang apa. Kenapa lama sekali di dalam?" Heran Revan padahal suara air saja tidak ada lalu sedang apakah Rara di dalam. Apa jangan-jangan dia tertidur lagi seperti tempo hari.
Sontak Revan pun panik dan segera menggedor pintu itu dengan kencang.
"Rara kau tidak tidur di dalam kan, kalau kau tidak keluar juga aku akan buka paksa pintunya." Sudah tidak bisa menunggu lagi rasanya, membayangkan istrinya tertidur di bathtub membuat Revan didera ketakutan.
Sontak Rara yang sedang termenung pun tersentak kaget mendengar teriakkan suaminya, apalagi dia yang berkata mau masuk ke dalam. Padahal sejak tadi ia berharap suaminya keluar dari kamar itu.
"Iya Kak, sebentar lagi...," jawab Rara, walaupun sebenarnya ia belum memutuskan mau memakai apa nanti saat keluar.
Revan pun sedikit merasa lega setelah mendengar jawaban dari istrinya, tapi meskipun begitu dia masih tidak tenang karena sejak tadi gadis itu tidak juga keluar.
"Ya sudah, jangan terlalu lama di dalam sana."
Revan pun kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang, beberapa kali ia sudah menguap tapi tidak ingin tidur sebelum istrinya keluar dari kamar mandi. Revan pun mengambil ponselnya dan memainkannya untuk menahan rasa kantuknya.
Ceklek, kreeet...
Mendengar pintu kamar mandi terbuka, Revan pun mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya.
Pemandangan di depan matanya seketika membuat matanya yang tadi mengantuk kini kembali segar. Bahkan ponsel yang tadi ia genggam sudah terjatuh dari tangannya.
Bagaimana tidak, saat ini istrinya keluar dari kamar mandi hanya menggunakan bathrobe yang panjangnya di atas lutut dan hanya diikat tali.
Jakun Revan sudah naik turun, seakan kerongkongannya kering dilanda dahaga. Ingin segera ia melahap apa yang ada di depan matanya.
Melihat suaminya memaku dengan tatapan mata tidak biasa. Rara pun segera menutupi bagian dadanya yang sedikit terbuka dan menarik bagian bawahnya agar lebih rendah. Sepertinya pilihannya menggunakan bathrobe adalah pilihan yang salah, karena nyatanya suaminya melihatnya begitu.
"Kamu..."
"Aku lupa membawa baju ganti Kak," potong Rara sebelum suaminya mengira yang tidak-tidak.
Sementara Revan hanya tersenyum menggoda, apapun alasannya jika sudah seperti itu maka lanjutkan saja.
Sementara Rara segera berjalan ke arah lemari karena terlalu risih ditatap seperti itu oleh suaminya. Walaupun tidak apa-apa karena mereka adalah suami istri, tapi Rara belum terbiasa dengan hal itu. Mungkin jika Revan sudah biasa t*lanjang dada di depannya, tapi gadis itu selalu berpakaian sopan meski di dalam kamar.
Bisa dibilang ini pertama kalinya Revan melihat sebagain kulit mulus istrinya, tidak bisa laki-laki itu pungkiri jika sebagai pria normal pastilah dia sangat tergoda dengan pemandangan didepannya.
Revan meraih tangan istrinya yang hendak membuka pintu lemari, hingga Rara terjatuh di dadanya.
"Aa...," Rara berteriak kecil karena tiba-tiba suaminya menarik tangannya.
"Kak...," keluh Rara.
"Kenapa harus memakai baju, begini saja sudah bagus." Suara Revan bahkan sudah terdengar serak dan berat.
Rara baru saja mau protes tapi Revan sudah membungkam mulutnya dengan bibirnya, ia pun menerimanya dengan pasrah karena dirinyalah yang sudah memancing gairah sang suami.
__ADS_1
Tidak ada penolakan, Revan pun semakin memperdalam ciumannya, tangannya juga tidak tinggal diam sudah bergerak menekan pinggang dan tengkuk istrinya. Ciuman itu semakin memabukkan keduanya, hingga mereka saling menutup mata dan menikmati setiap gerakan yang lembut namun menuntut.
Keduanya saling berlomba menghirup udara yang tadi habis karena terlampau lama saling bertukar saliva.
Hosh... Hosh...
"Apa aku boleh melanjutkannya?" tanya Revan dengan nafas yang masih berkejaran, tapi nafasnya yang memanas menandakan jika dirinya saat ini begitu bergairah, bahkan libidonya sudah menggelora dan menggebu-gebu.
Sementara Rara juga sama nafasnya tersengal-sengal akibat ciuman yang begitu hebat. Entah kenapa ia juga menikmatinya tapi kini ia tau apa yang diinginkan suaminya. Walaupun sebenarnya ia takut tapi dia tidak boleh menghindar lagi. Mungkin ini adalah waktunya ia menyerahkan dirinya sepenuhnya pada sang suami.
Rara pun mengangguk dengan malu-malu, ia bahkan tidak berani menatap suaminya saat ini.
"Aaa... Kak... " Rara tersentak saat suaminya tiba-tiba mengangkat tubuhnya lalu membawanya berjalan ke arah ranjang.
Revan yang sudah mendapatkan ijin pun langsung menurunkan istrinya hingga berbaring di atas ranjang. Lalu ia juga naik dan merangkak ke atas tubuh istrinya.
Sementara Rara terus membenarkan bathrobe yang sedikit terkoyak karena gerakan suaminya. Ia masih malu tentunya.
"Tidak perlu menutupinya lagi, bukankah kau bilang aku boleh melanjutkannya?" tanya Revan yang sudah berada di atas tubuh istrinya.
Rara pun hanya tersenyum malu, pipinya sudah memerah. Dia pun memalingkan wajahnya karena terlalu malu.
Tapi sayangnya Revan tidak membiarkannya, dengan gerakannya Revan meraih dagu istrinya lalu kembali memagut bibir mungil itu. Kali ini tidak seperti tadi, Revan menyesapnya dengan sedikit rakus. Rara pun memberikan akses untuk suaminya, dia membuka mulutnya agar lidah mereka bisa saling bertaut dan menari-nari.
Tangan Revan tidak tinggal diam, dia mulai mencari tali yang menghalangi tubuh indah istrinya. Walaupun belum pernah melihatnya tapi ia bisa tebak saat pakaian yang dikenakan istrinya itu berukuran normal. Menandakan tubuh Rara tidak gemuk dan tidak kurus.
Kini kain itu sudah terbuka hingga menampakkan pemandangan yang jauh lebih indah dari apapun lagi. Revan menatap istrinya dengan penuh kekaguman, tidak menyangka juga jika sang istri sudah menyiapkan kejutan yang sangat spesial untuknya.
Sementara Rara sudah tidak bisa berkata-kata, ia malu sungguh malu.
"Terimakasih, cup..." Revan mengecup kening istrinya. "Ini bukan hanya kejutan tapi juga hadiah yang sangat indah."
"Kak...," rengek Rara, ia semakin malu saat suaminya terus menatapnya.
"Baiklah karena kau sudah menyiapkan ini dengan baik, maka aku juga tidak akan mengecewakanmu." Revan tersenyum menyeringai membuat Rara bergidik ngeri melihatnya, entah apa maksudnya tidak mengecewakan.
Suasana di kamar itu sudah semakin memanas, kedua insan manusia itu sama-sama sudah terbuai dalam decapan cinta dan larut dalam gairah asmara. Pakaian yang tadi sempat membuat heboh Rara pun sudah terkoyak di lantai, bersamaan dengan pakaian Revan yang sama-sama terkoyak tidak karuan.
Ciuman Revan bukan hanya di bibir tapi turun ke bawah dan semakin bawah. Suara indah Rara bersahutan dengan bunyi benda yang keluar masuk dengan cepat.
Darah segar yang mengalir dari surganya kaum laki-laki menandakan berhasilnya proses pembuatan bayi itu berlangsung. Rasa sakit dan perih yang Rara tanggung terbayar saat ia sudah berhasil memberikan kehormatannya pada suaminya.
POV Rara
Aku malu saat mata suamiku menatap tubuh polos ku yang tak memakai apapun, karena baru saja tangan kak Revan membuka lingerie yang ku pakai dengan tidak sabaran. Alhasil, lingerie itu kini sudah tidak mungkin bisa aku pakai lagi. Haruskah aku minta maaf pada Mbak Luna karena sudah merusak hadiah darinya.
Ahh... sudahlah, toh kak Revan berkata dia akan menggantinya.
Ehhh apa ini, karena sibuk memikirkan lingerie yang sobek aku jadi tidak memperhatikan kak Revan yang berada di atasku. Dan kini aku tersentak saat melihat mulut kak Revan yang sedang bermain dengan dadaku.
Apa yang sedang kak Revan lakukan, bukankah dia sudah besar. Kenapa dia malah seperti bayi yang menyusu pada ibunya.
Ehh... perasaan apa ini. Kenapa tubuhku merinding, kenapa aku suka dengan apa yang kak Revan lakukan.
__ADS_1
Aku pun kembali menatap wajah kak Revan yang masih enggan melepaskan pucuk dadaku yang mulai terasa perih karena kak Revan menghisapnya terlalu kuat.
"Kak..." aku merengek saat sesuatu yang terasa aneh keluar dibawah sana.
Kak Revan pun melepaskan pucuk da*daku dengan sedikit menariknya. Dia menatapku dan tersenyum.
"Apa kau sudah keluar?" tanyanya dengan senyum yang aneh. Tapi tunggu, bagaimana dia bisa tau apa yang terjadi pada tubuhku tadi.
Kak Revan mendekatkan wajahnya dan kembali menempelkan bibirnya, menyesap dan melu-maat bibirku yang terasa membengkak. Tangannya masih berada di dadaku dan mer*emas-re*mas seperti sedang bermain squishy.
"Uhhh... kak..." aku merengek lagi.
"Kenapa sayang?" tanyanya dengan tatapan sayu.
"Apa sudah selesai?" tanyaku yang memang tidak tau apa-apa.
Sedetik kemudian, Kak Revan tertawa katanya aku lucu sekali. Tapi apanya yang lucu, aku juga tidak tau maksudnya.
"Ini belum apa-apa, sayang. Perjalanan masih jauh, kalau cuma begini bayinya nanti tidak jadi," katanya, lagi-lagi senyumnya aneh.
Memang bagaimana agar bayi nya jadi, aku sama sekali tidak tau caranya.
Tau-tau bibir kak Revan kembali memainkan pucuk berwarna pink yang membuat tubuhku terasa lemas, tapi kali ini dia hanya sebentar. Bibir kak Revan turun ke perut lalu semakin turun ke bawah perut ku.
"Apa yang kak Revan lakukan?" tanya ku saat kak Revan mendekatkan wajah tampannya ke bagian bawah perutku.
"Rasakan saja," jawabnya singkat.
"Tapi kak..." aku baru saja mau protes tapi kemudian sesuatu yang aneh menerobos masuk dan membuatku geli. Geli sampai mau pipis.
Tubuhku lemas, sama sekali tidak punya tenaga. Apa masih lama? begitu pikirku.
POV end
"Terimakasih, kau sudah menjaganya untukku." Bertubi-tubi kecupan mendarat di setiap sudut wajah Rara. Suaminya benar-benar memperlakukannya bagai putri malam ini, Rara merasa dihujani cinta dan kasih sayang.
Sepertinya aku harus berterimakasih pada kak Luna, kejutannya benar-benar berhasil membuatku terkagum-kagum.
to be continue...
Masih kurang gak,🤣🤣. Segitu aja ya, takut enggak lolos.
Maafken othor ya, othor khilaf.
°°°
...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....
...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....
...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....
...Sehat selalu pembacaku tersayang...
__ADS_1