Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
72. Suara desahan di kamar mamah


__ADS_3

...Yang masih punya sisa Vote boleh dong dibagi buat author yang sedang merangkak ini. ...


...Wo ai ni...


°°°


Setelah perdebatan yang panjang akhirnya para warga membubarkan diri, Febby bisa stress sendiri gara-gara menghadapi warga. Yang ada dia bukannya mati karena tenggelam tapi karena pusing mendengar suara mereka.


"What!! dimana ponselku," teriak Febby saat baru teringat ponselnya yang masih berada di dalam air.


"Ini semua gara-gara pria itu, padahal sedikit lagi aku mendapatkannya. Hiks..."


Febby meraung-raung tidak jelas.


"Huaa... ponselku. Siapapun tolong ambilkan ponselku."


Febby masih berteriak.


"Kau akan sakit jika begini terus."


Suara bariton milik pria yang tadi menyelamatkannya, eh bukan tapi menggendongnya tiba-tiba muncul dan memberi Febby handuk.


"Kau..." Febby melotot tajam.


"Ini semua gara-gara kamu, aku jadi kehilangan ponsel baruku. Huaaa..." Tangisan Febby semakin keras.


"Maaf aku kira tadi kau mau..."


"Apa Hah? Mau bunuh diri?" Kesal Febby memotong perkataan pria itu.


"Sudah jangan menangis lagi nanti aku ganti dengan ponsel yang baru," bujuk Mike.


Ckk..


Febby berdecak kesal dan meremehkan pria itu.


"Apa kamu tau harga ponsel ku, itu keluaran terbaru dari si apel. Kamu tidak mungkin mampu membelinya." Febby yakin jika gaji seorang bawahan seperti itu tidak mungkin punya uang banyak.


Bukannya tersinggung Mike malah tertawa mendengarnya.


"Heh!! kenapa kamu tertawa. Sudahlah aku tidak butuh ganti rugi darimu, aku bisa membelinya lagi nanti."


Ya tentu saja, Febby ingat ia masih mempunyai black card yang bisa untuk membeli apa saja.


"Apa kau akan membeli menggunakan uangku lagi," gumam Mike setelah Febby cukup jauh.


Dia tidak habis pikir dengan dirinya sendiri yang tadi begitu panik, saat mendapat kabar dari orang suruhannya yang mengatakan, jika Febby mau bunuh diri. Tanpa pikir panjang, Mike pun segera ke lokasi. Begitu melihat Febby hampir ditengah danau, ia pun langsung berlari menyusulnya.


Siapa sangka jika Febby sama sekali tidak berniat untuk mengakhiri hidupnya. Mike pun sempat memarahi anak buahnya yang sudah memberikan informasi palsu.

__ADS_1


"Kamu tidak lemah, aku percaya itu. Aku akan muncul nanti saat waktunya sudah tepat," ujar Mike.


,,,


Febby masih kesal dengan kejadian tadi, ia baru saja kehilangan ponsel mahalnya.


Wanita itu pun memutuskan untuk pulang ke rumah. Bajunya yang basah kuyup sangat membuat tidak nyaman dan bisa membuatnya sakit jika tidak segera berganti pakaian.


Hatchuuu!!


Baru saja dibilang wanita itu sudah bersin-bersin.


Untunglah jarak dari danau itu sampai ke rumah nya tidak begitu jauh.


Di depan rumahnya ternyata mobil mamahnya sudah ada disana, Febby tebak mamahnya pasti sudah pulang dari liburannya.


"Maahhh..." panggil Febby, setelah ia memasuki rumah.


Di ruang tamu berceceran barang belanjaan milik mamahnya tapi orangnya tidak ada disana.


"Bi. Dimana mamah?" tanya Febby pada pembantunya.


"Nyonya di... dia ada... di... " jawab bibi terputus-putus.


"Dimana mamah bi?" tanya Febby mendesak.


"Anu itu Non," bibi pelayan tidak tau mau menjawab apa.


"Itu..." Pandangan bibi ke arah lantai dua.


"Mamah ada di atas, bilang dong dari tadi." Febby pun langsung naik ke lantai atas.


Sementara bibi segera pergi dari sana tidak mau mendengar keributan.


Febby sudah di depan pintu kamar mamahnya, ia sudah meraih handle pintu. Namun ia tidak jadi membukanya saat mendengar suara-suara aneh yang berasal dari dalam kamar.


Suara yang sudah di pahami karena biasanya ia juga akan mengeluarkan suara seperti itu saat sedang bercinta. Tapi tunggu, bagaimana bisa mamahnya mengeluarkan suara seperti itu. Apa ayah tirinya sudah pulang, tapi tidak ada mobilnya di depan.


Karena penasaran Febby pun membuka pintu kamar itu.


"Mamah!!" Mata Febby membulat saat melihat apa yang ada di depan matanya.


Sang mamah sedang bercumbu mesra dengan pria yang jauh lebih muda darinya.


"Febby kenapa kau masuk begitu saja." Mamahnya marah karena sang putri mengganggu kenikmatannya.


"Apa yang mamah lakukan dan siapa pria ini," pelotot Febby pada kedua orang itu.


Mamah Wina yang sudah terlanjur kesal pun menyudahi permainannya, ia kembali memakai pakaiannya dan juga pria itu.

__ADS_1


"Kau pergi dulu, nanti Tante hubungi lagi," ujar mamah Wina pada pria brondongnya seraya menyerahkan segepok uang kertas.


Pria itu pun keluar tapi sebelumnya sempat mere-mas gunung kembar yang tidak lagi kencang milik mamah Wina.


Sontak membuat Febby jijik melihatnya, tidak habis pikir dengan pria yang masih muda itu. Mau-maunya dia bercinta dengan mamahnya yang sudah berumur hanya demi uang.


"Mamah ini apa-apaan, kenapa membawa pria itu ke rumah. Lakukan apapun yang mamah inginkan tapi tidak di rumah. Itu sangat menjijikkan." Febby tidak bisa menahan rasa kesalnya lagi. Hari ini adalah hari yang sangat berat untuknya. Cobaan seperti datang bertubi-tubi padanya.


"Kamu itu mengganggu kesenangan mamah tau, mamah juga butuh hiburan. Papah tirimu sudah tua bangka, sudah tidak bisa memuaskan mamah," ujarnya tidak mau kalah.


"Tapi jangan di rumah, Mah. Bagaimana jika para pembantu melaporkannya pada papah Adi. Kita kan masih butuh tempat tinggal dan makan, mamah mau kita di usir ke jalanan." Febby sudah pusing memikirkan hal lainnya ditambah ulah mamahnya.


"Lagian memang mamah punya uang untuk membayar pria itu tadi?" tanya Febby kemudian.


"Pakai ini," ujar mamah Wina dengan entengnya seraya menunjukkan black card milik putrinya.


"Astaga... itu belanjaan aja sudah sangat banyak, bagaimana kalau orang itu minta ganti sama aku karena sudah memakai kartu itu." Febby memijit pelipisnya. Masalah terus datang padanya.


"Kamu tinggal menikah saja dengan pria itu. Baru tidur satu malam saja dia sudah memberikan black card ini. Apa lagi kalau kamu menikah dengannya."


Wajah mamah Wina berbinar bahagia saat membayangkan hidupnya bergelimang harta.


"Apa mamah tidak memikirkan bagaimana jika pria itu kakek-kakek, atau lumpuh. Aku tidak mau menikah dengan pria seperti itu," tolak Febby mentah-mentah.


"Tidak apa-apa nak, kamu lihat mamah. Selisih umur mamah dengan papah Adi sangat jauh. Tapi mamah tidak masalah, asal kita bisa menikmati hartanya." Mamah Wina menyombongkan dirinya yang berhasil menikah dengan suaminya saat ini.


"Tidak, aku tidak mau. Mamah saja yang menikah dengan pemilik kartu itu, jika memang pria itu sudah tua."


Febby langsung pergi meninggalkan mamahnya, ia butuh ketenangan, butuh istirahat. Ia bahkan sampai lupa apa tujuannya pulang ke rumah.


Febby pun langsung menanggalkan semua pakaiannya dan masuk dalam bak mandi.


"Kenapa hari ini aku sial sekali, sudah diputusin, basah-basahan, trus di rumah melihat mamah mesum. Lalu apa kata mamah tadi, aku disuruh menikah dengan pria yang tidak jelas."


Febby tiba-tiba merasa sedih, meratapi nasibnya sendiri. Ia tidak ingin seperti ini. Bukan, bukan seperti ini.


Hiks hiks


"Aku tidak ingin terus-terusan seperti ini. Aku juga tidak ingin melakukan hal itu lagi, aku ingin dicintai juga."


Febby tergugu sedih. Membayangkan apa masih ada lelaki yang bisa mencintainya apa adanya.


to be continue...


°°°


...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....


...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....

__ADS_1


...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....


...Sehat selalu pembacaku tersayang...


__ADS_2