
°°°
Seketika Revan menghentikan mobilnya mendengar ucapan istrinya.
"Tidak ada kata merepotkan jika untuk kamu," ujarnya.
"Jangan pernah berpikir seperti itu lagi, mengerti?" ujarnya lagi, seraya tersenyum lembut pada sang istri.
Rara pun mengangguk mengerti, dia tersentuh oleh ucapan suaminya.
Revan kembali melajukan mobilnya dan tangannya masih tetap seperti tadi.
"Apa kamu sudah makan siang?" tanyanya.
"Ha... sudah tadi kak, di kantin kampus."
"Baguslah, jangan sampai lupa makan. Karena aku tidak bisa terus disampingmu, maka jaga lah dirimu dengan baik saat aku tidak ada." Diangkatnya tangan sang istri lalu memberikan kecupan disana.
Rona merah menyembul keluar di pipi Rara, kebahagiaan menyeruak di hatinya. Sikap sang suami membuatnya hanyut dalam lingkaran asmara.
Tidak tau kapan mulai jatuh cinta dan siapa yang duluan jatuh cinta. Yang pasti saat ini mereka sudah sama-sama saling cinta. Mereka berhasil melewati ujian di awal pernikahan, kini cinta mereka sudah tumbuh semakin kuat.
,,,
"Aku turun dulu Kak," ujar Rara saat mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di depan rumah.
Namun, Revan tetap tidak mau melepaskan genggaman tangannya. Seolah tidak ingin dipisahkan lagi. Baru sebentar bertemu rasanya belum cukup baginya, apalagi hari ini sepertinya ia harus lembur.
"Kak...," lirih Rara, ia bingung harus bagaimana menyikapi suaminya.
"Aku masih kangen," ujar Revan seraya menciumi tangan sang istri.
Sementara Rara melongo mendengar suaminya tiba-tiba jadi manja.
"Apa ini benar kak Revan?" pikir Rara.
"Tapi kakak harus ke kantor kan, kita bisa bertemu lagi nanti." Rara memberi pengertian, ya memang benar kan mereka tinggal satu rumah pasti akan bertemu lagi nanti.
"Aku belum tau bisa pulang cepat atau tidak, mungkin bisa lembur sampai malam."
Terdengar hembusan nafas kasar dari Revan. Rasanya ia ingin membawa istrinya saja kalau bisa.
"Ohh... jadi kak Revan tidak makan malam di rumah malam ini," sedikit kecewa tapi tidak bisa apa-apa jika itu menyangkut pekerjaan.
"Pekerjaan sedang sangat banyak, mungkin sampai pergantian pemimpin selesai nanti. Tapi nanti ada kakek yang menemanimu." Revan mengusap lembut pipi istrinya yang halus.
__ADS_1
"Iya Kak, kak Revan jangan lupa makan di kantor. Jangan sampai karena sibuk kakak jadi sakit," ujar Rara.
"Hmmm..."
Setelah cukup lama mereka bermesraan akhirnya Revan melepaskan istrinya untuk keluar dari mobil itu. Walaupun rasanya masih kurang dan ingin lebih. Tapi Mike sudah meneleponnya beberapa kali, pertanda bahwa ia harus segera kembali.
"Hati-hati di jalan Kak." Rara sedikit berani kali ini, meski masih takut ada pelayan yang melihat kemesraan mereka.
"Kau masuk dan beristirahat lah," ujar Revan, setelah itu ia menyalakan mesin mobilnya.
"Aku berangkat, assalamualaikum," ujar Revan lagi.
"Wa'alaikumsalam, hati-hati Kak." Rara sedikit berteriak karena mobil yang Revan kendaraan sudah mulai bergerak.
Setelah mobil suaminya melewati pintu gerbang Rara pun masuk ke dalam rumah. Ia langsung berjalan naik ke kamarnya. Hari yang cukup melelahkan bagi gadis itu. Seharusnya pulang jam dua tapi malah sampai sore.
Rara meletakkan tas nya dan juga sepatunya. Semuanya tertata rapi tanpa ada yang kurang.
"Astaghfirullah, aku belum menghubungi Lia," Rara tersentak kaget saat teringat temannya yang ia tinggalkan begitu saja, karena sibuk memikirkan suaminya.
Rara pun mulai mencoba menghubungi Lia, tapi percobaan pertama tidak ada jawaban. Hingga ia mencobanya lagi.
"Kenapa tidak diangkat, oh mungkin dia sedang bekerja. Aku kirim pesan saja kali ya, biar nanti dia baca kalau membuka ponselnya" Gumamnya.
Kemudian Rara menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang, kasur memang tempat ternyaman dan tidak ada duanya. Lambat laun matanya pun mulai terpejam padahal ia belum membersihkan tubuhnya, tapi rasa kantuknya tidak sanggup lagi ia tahan.
Beberapa saat kemudian pun dengkuran halus sudah terdengar, Rara sudah masuk kedalam alam mimpinya.
,,,
Di tempat lain, Lia seperti biasa akan bekerja paruh waktu setelah selesai kuliah. Semangatnya tidak pernah luntur walaupun rasa lelah mendera.
"Lia tolong kamu antarkan ini ke depan," perintah Yuni salah satu karyawan senior di sana.
"Ok Mbak," jawab Lia dengan penuh semangat, ia pun memasang senyumnya.
Selain bertugas menjadi pengantar makanan, Lia juga membantu operasional restoran seperti melayani pelanggan dan membantu di dapur. Apa saja bisa Lia lakukan karena dia tidak pernah perhitungan pada tenaganya.
Itulah yang membuat bos tempat itu sangat menyukai pekerjaan Lia. Tidak seperti orang lain yang hanya melakukan tugasnya sendiri dan tidak mau membantu yang lain jika senggang.
"Silahkan menikmati," ujar Lia setelah meletakkan makanan di atas meja. Tidak lupa dia juga memberikan senyumnya.
Para pelanggan juga sangat puas dengan pelayanan Lia. Selain cantik, ia juga sangat ramah. Sangat tidak membosankan bila dipandang. Namun, tak jarang Lia juga harus menerima cacian dan makian dari pelanggan. Mereka tak segan melontarkan kata-kata kasar jika tidak pelayan melakukan kesalahan.
Ya begitulah orang kaya, mereka hanya memandang rendah orang dibawahnya.
__ADS_1
Tetapi semua hal itu tidak membuat Lia menyerah begitu saja, baginya esok hari bisa mendapatkan uang untuk makan itu lebih penting. Karena makian mereka tidak bisa membuat perut kenyang.
"Hai Li, ponsel kamu bunyi tuh dari tadi," ujar karyawan yang lain.
"Oh iya terimakasih," ujar Lia, lalu ia pergi ke lokernya dan mengecek ponselnya.
Ternyata ada beberapa panggilan dari temannya dan ada pesan juga.
^^^~Rara^^^
^^^Maaf Li, tadi aku pergi begitu saja padahal aku sudah bilang akan pulang dengan mu.^^^
Lia terkekeh membaca pesan dari temannya.
"Tentu saja kau tidak ingat padaku kalau pikiranmu sudah dipenuhi oleh suamimu." gumamnya.
Lia pun mulai mengetik pesan untuk membalas pesan dari temannya.
~Lia
Aku mengerti Ra, matamu sudah dipenuhi oleh wajah suami tampanmu makanya enggak inget aku lagi. (emoticon nangis)
Walau begitu Lia mengetiknya sambil cekikikan.
Setelah itu dia kembali meletakkan ponselnya, karena namanya sudah dipanggil oleh karyawan yang lain agar segera datang membantu. Dengan sigap Lia pun datang.
"Ada apa Mbak?" tanya Lia pada Yuni.
"Tolong kamu antarkan ini, aku mau menghitung nota meja nomor tujuh belas." ujar Yuni.
"Baik Mbak, serahkan padaku. Mbak kembali ke kasir saja." Rara mengambil alih nampan yang berisi makanan dari tangan Yuni.
Yuni dan karyawan yang lain juga senang akan keberadaan Lia di restoran itu. Bagaimana tidak saat mereka kerepotan, Lia dengan sigap bisa menjadi apa saja untuk membantu. Padahal mereka sama sekali tidak bisa membantu pekerjaan Lia saat sedang mengantarkan makanan.
to be continue...
°°°
...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....
...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....
...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....
...Sehat selalu pembacaku tersayang...
__ADS_1