Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
63. Cemburunya Revan


__ADS_3

°°°


Hari ini hari terakhir Rara dan suami di Jogjakarta. Meski tidak terjadi sesuatu yang berarti tapi liburan kali ini cukup membuat hubungan mereka jauh lebih dekat dari sebelumnya.


Bergandengan tangan dan memeluk sudah tidak secanggung dulu.


Seperti saat ini mereka tidak melepaskan genggaman tangannya saat turun ke lobi. Revan dengan erat menggenggam tangan istrinya.


"Kamu tunggu disini biar aku panggilkan supir, ok," perintah Revan pada sang istri, ia tidak mau wanitanya kelelahan.


Rara pun hanya menggunakan kepalanya saja. Ia duduk di kursi tunggu sendirian.


Beberapa saat kemudian, saat Revan belum juga kembali. Seorang pria datang menghampiri Rara.


"Rara...," panggilnya memastikan jika gadis cantik itu adalah Rara.


Rara yang mendengar namanya dipanggil pun menoleh.


"Kamu Rara kan?" tanya pria itu lagi, seakan tidak yakin pada penglihatannya.


"Iya saya Rara, tapi maaf anda ini siapa?" tanya Rara yang merasa tidak mengenal orang itu.


"Aku Vino, apa kamu tidak ingat?" katanya dengan wajah berbinar. Ia seperti senang sekali melihat Rara ada di tempat itu juga.


Rara mencoba mengingat-ingat orang yang bernama Vino itu. Memang ia merasa pernah melihatnya tapi ia sama sekali tidak bisa mengingatnya.


"Tidak apa-apa jika kamu tidak ingat, biar aku ingatkan. Kita dulu satu SMA dan satu jurusan."


Jelas Vino yang tau jika gadis itu tidak mengingatnya, karena terlihat jelas dari raut wajahnya yang kebingungan. Ia pun mencoba membantu mengingatkan.


Rara mengerutkan keningnya, ia masih saja belum bisa mengingat pria itu.


"Maaf, tapi aku benar-benar tidak ingat jika kita pernah satu kelas," ujar Rara yang merasa tidak enak.


Namun, Vino malah tersenyum lebar mendengarnya. Bukannya marah atau tersinggung.


"Aku tau kamu pasti tidak mengingatkanku, karena dulu kamu itu tidak peduli pada para pria ataupun apa yang terjadi di sekitarmu. Saat istirahat kamu sibuk membaca buku di perpustakaan dan membantu guru."


Rara cukup terkejut karena semua yang diucapan pria itu benar adanya.


"Kamu pasti kaget kan karena aku sangat tau dirimu dulu. Sayang sekali kamu tidak mengingatku, padahal aku dulu adalah idola sekolah dan cukup terkenal juga. Ya meski nilaiku tidak sebagus punyamu." Vino tertawa renyah saat mengatakannya.

__ADS_1


Berbeda dengan Rara yang masih mencoba mengingat pria yang katanya terkenal di sekolah itu.


"Apa kamu belum ingat juga?" tanya Vino menaikkan alisnya dan Rara pun menggeleng.


"Ada satu hal lagi yang pasti membuat kamu ingat, aku adalah siswa yang sering kena hukum berdiri di depan kelas karena tidak mengerjakan tugas atau suka berisik di kelas."


Rara tersenyum mendengarnya, ia mulai ingat sepertinya.


"Ingat kan sekarang?" tanya Vino dengan mata berbinarnya.


"Aku ingat sekarang," jawab Rara.


"Akhirnya kamu ingat juga, oh ya apa kau sendiri disini? sedang apa kau disini, liburan atau kuliah? Sepertinya kamu sudah mau pergi." Vino memberondong Rara dengan pertanyaannya yang terlalu antusias.


Rara pun bingung mau menjawab yang mana dulu.


"Boleh aku minta nomor ponselmu?" tanya Vino lagi.


Rara cukup terkejut mendengarnya karena baru kali ini ada pria yang meminta nomor teleponnya.


Sementara Revan yang baru saja kembali langsung memanas melihat sang istri sedang mengobrol dengan seorang pria. Tidak menunggu lama ia langsung menghampiri mereka.


"Sayang...," ujar Revan seraya melingkarkan tangannya pada pinggang sang istri.


Namun, bukan hanya Vino yang terkejut. Rara pun sama karena baru kali ini sang suami memanggilnya dengan sebutan sayang.


"Ayo mobilnya sudah siap," ujar Revan pada istrinya yang masih terpaku.


Kemudian Rara tersadar masih ada orang lain di sana yang pasti menatap mereka heran.


"Pria ini siapa Ra?" tanya Vino yang sangat penasaran.


Seketika Revan menatapnya tajam seakan mengangkat bendera perang diantara mereka.


"Oh iya, kak kenalkan dia teman SMA namanya Vino. Kenalkan juga ini suamiku." Rara memperkenalkan mereka berdua.


Vino pun mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan diri pada suami temannya itu. Disambut oleh Revan yang cukup erat menjabat tangan pria itu.


"Vino."


"Revan, suami Rara."

__ADS_1


Tatapan permusuhan diantara kedua pria itu tidak bisa dihindarkan. Revan merasa pria itu punya maksud lain dengan istrinya.


"Ayo," ajak Revan yang tidak ingin sang istri berlama-lama dengan pria itu.


"Maaf, kami harus pergi." Rara berpamitan pada temannya.


"Senang sekali bisa bertemu denganmu disini. Aku harap kita akan bertemu lagi lain kali." Vino sengaja mengeraskan suaranya.


Sontak Revan langsung menatap tidak suka pada pria itu. Beraninya pria itu terang-terangan mengatakan ingin bertemu dengan istrinya lagi. Dalam hati Revan tidak akan membiarkan itu terjadi.


Belum juga Rara menjawab perkataan temannya, Revan sudah menariknya menjauh dari tempat itu. Ia pun pasrah.


"Rara, akhirnya kita bertemu lagi. Sayang sekali kamu sudah menjadi milik pria lain. Jika tidak, aku pasti akan memperjuangkan perasaan ku yang masih sama seperti dulu."


Vino harus menelan kekecewaan melihat gadis yang sudah sejak SMA ia sukai, kini sudah menikah dengan pria lain.


Dulu saat masih SMA Vino diam-diam menyukai Rara tapi ia tidak berani mendekati gadis itu, karena Rara sangat tertutup dan tidak terlalu peduli dengan sekitar. Terbukti saat tadi gadis itu tidak mengenalinya, padahal Vino adalah pria populer di sekolah berkat wajahnya yang tampan.


Walaupun begitu, dulu Vino sempat berusaha mendapatkan perhatian dari Rara. Dengan cara yang pasti mustahil untuk di dengar. Dia sengaja membuat banyak masalah agar dihukum oleh guru dan disuruh berdiri di depan kelas. Pernah juga ia meminta hukuman untuk merapikan buku di perpustakaan agar dekat dengan Rara dan masih banyak lagi yang lainnya.


Semua itu ia lakukan supaya Rara melihatnya dan menyadari keberadaannya. Ia melakukan apa saja demi ingin dilihat oleh gadis itu.


Namun, sayang ia kehilangan kabar tentang Rara setelah lulus SMA. Kabarnya memang gadis itu sudah menikah tapi Vino tidak ingin percaya pada berita itu. Sekarang setelah melihat sendiri barulah ia percaya.


"Semoga kamu bahagia dengan pernikahan mu, Ra."


Vino harap pria yang menjadi suami Rara bisa memberikan kebahagiaan dan bisa menjaga gadis yang ia sukai.


Salahnya yang sejak dulu tidak berani mengungkapkan perasaannya, mungkin jika dulu ia berani ceritanya akan berbeda dari hari ini, tapi ia tidak menyesalinya. Baginya melihat orang yang kita suka bahagia walaupun tidak dengannya, tidak menjadi masalah.


Jika bukan jodoh mau berjuang sekeras apapun juga tidak mungkin bisa bersama.


to be continue...


°°°


...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....


...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....


...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....

__ADS_1


...Sehat selalu pembacaku tersayang...


__ADS_2