
°°°
Di dalam mobil, raut wajah Revan masih tidak bersahabat dan Rara juga menyadari itu.
Rara tidak berani bertanya kenapa dengan suaminya, padahal yang menjadi sumber masalah adalah dirinya.
Ya Revan sepertinya sudah terkena virus bucin dan posesif. Ia sangat takut saat istrinya berbicara pada pria lain. Mungkin itu yang disebut cemburu, tapi ia tidak menyadarinya.
"Apa kalian dulu dekat saat masih di SMA?" tanya Revan tiba-tiba dan cukup membuat Rara sedikit terkejut dengan pertanyaan itu.
"Maksud kak Revan siapa?" Rara tidak mengerti arah pembicaraan suaminya.
"Kamu dan pria itu yang tadi ada di lobi bersamamu." Revan memalingkan wajahnya, tidak ingin Rara tau jika
"Apa maksudnya Vino?" Rara menaikkan alisnya.
"Ya dia," ujar Revan yang tidak ingin menyebutkan nama pria itu.
"Tidak Kak, aku saja lupa kalau dia tidak mengingatkan," jawab Rara jujur, memang seperti itu adanya.
Ya jawaban itu cukup membuat perasaan Revan lega. Raut wajahnya sudah sedikit mengendur.
"Lalu apa ada pria yang dekat denganmu selama sekolah?" tanya Revan lagi yang sepertinya tertarik dengan hubungan percintaan istrinya semasa belum menikah.
"Tidak ada." Rara menggeleng.
"Apa benar-benar tidak ada." Revan memastikan, ia tidak percaya jika tidak ada yang menyukai istrinya yang cantik itu.
"Iya, tidak ada. Aku hanya sibuk belajar dan belajar saat itu." Bagi Rara pendidikan sangat penting saat itu. Impiannya adalah ingin menjadi guru agar ia bisa mengajari anak-anak yang kurang beruntung.
"Berarti kamu tidak pernah berpacaran sebelum kita menikah?" tanya Revan lagi.
Meskipun Rara heran kenapa suaminya menanyakan hal itu, ia tetap menjawab dengan anggukan.
Sementara Revan sangat bahagia saat ini, karena ternyata dia adalah pria pertama yang dekat dengan istrinya. Dia akan memastikan jika dia juga satu-satunya pria yang akan mengambil hati sang istri.
Namun, sepertinya Revan masih penasaran kenapa istrinya tidak pernah berpacaran sedangkan jaman sekarang anak sekolah dasar saja sudah mulai berpacaran.
"Kenapa kamu tidak pernah mencoba berpacaran, apa kamu tidak ingin seperti teman-temanmu yang lain. Pasti banyak teman-teman kamu yang berpacaran di sekolah kan." Revan ingin tau alasannya.
__ADS_1
"Untuk apa Kak, mereka yang berpacaran setiap hari hanya bisa mengatakan jika mereka sedang galau, gelisah dan khawatir. Bukankah itu tidak ada gunanya, kita bisa menggunakan waktu kita untuk belajar yang pastinya tidak akan menimbulkan perasaan seperti itu."
Revan tidak bisa berkata apa-apa lagi setelah mendapat jawaban dari mulut istrinya. Jika dipikir memang benar, tidak ada manfaatnya sama sekali berpacaran. Yang ada mereka hanya menambah dosa saja dengan berduaan bersama pacar yang pasti belum menjadi muhrimnya.
Revan menatap istrinya dengan kagum, di jaman modern seperti sekarang masih ada gadis polos yang tidak tercemar dengan hal-hal seperti itu.
Lalu ia meraih tangan sang istri, dikecupnya tangan itu dengan lembut.
"Tidurlah, perjalanan kita masih panjang."
Revan meraih kepala sang istri dan meletakkannya dipundaknya.
Rara yang memang mudah sekali mengantuk pun dengan senang hati bersandar pada bahu suaminya. Walaupun ia masih bingung kenapa dengan cepat raut wajah suaminya bisa berubah.
Revan menatap wajah istrinya yang sudah tertidur pulas, padahal baru saja sebentar ia berada diposisi itu. Ia semakin ingin mengenal istrinya dan memahaminya.
Diusapnya pipi halus nan lembut milik sang istri, Revan menatapnya lamat-lamat. Lalu mendaratkan kecupan di kening Rara penuh kasih sayang. Ini adalah pertama kalinya ia mendaratkan bibirnya dan ia melakukannya saat sang pemilik tubuh sedang tertidur.
Apakah ini bisa dibilang mencuri atau mengambil secara diam-diam.
Entahlah, yang pasti Revan belum berani melakukannya saat mata sang istri terjaga.
Revan memikirkan lagi kejadian yang ada di lobi hotel tadi. Kalau dipikir-pikir apa ia itu keterlaluan karena sudah merasa cemburu karena hal sepele.
Sepertinya Revan sudah memikirkan arti dari rasa yang ia alami tadi. Ia bukan cemburu karena Rara berbicara pada pria lain tapi ia cemburu karena melihat istrinya bisa tertawa lepas dengan pria itu. Ia seakan merasa terancam akan kehadiran pria itu.
Revan yang belum sepenuhnya memperbaiki hubungan pernikahannya dan belum bisa membuat istrinya bahagia. Tentu takut jika ada pria lain yang membuat sang istri merasa nyaman. Ya, ia takut Rara meninggalkannya.
Setelah lama memikirkan, akhirnya Revan ikut terlelap dalam tidurnya. Keberadaan sang istri disampingnya selalu membuatnya nyaman.
Sementara supir di depan berusaha sekuat tenaga menahan rasa penasarannya. Ia ingin sekali mengintip tuannya yang sedang bersama sang istri, tapi ia tidak cukup berani. Supir itu dibayar mahal tentunya, tapi ia harus benar-benar menjaga privasi tuannya.
Sabar sabar, demi anak. ujar si supir dan istri, ujar pak supir dalam hatinya.
Sepenasaran apapun pak supir ia dilarang menoleh dan menganggap tidak mendengar apapun. Atau bukan hanya kehilangan pekerjaan tapi dia bisa di blacklist dari perusahaan manapun.
,,,
Perjalanan panjang dan cukup lama itu akhirnya selesai juga. Rara dan suami sampai di kediaman keluarga Herwaman.
__ADS_1
Rara yang sempat mabuk kendaraan merasa tubuhnya sangat lemas saat turun. Padahal sang suami sudah menawarkan agar mereka pergi ke rumah sakit tapi gadis itu tidak mau. Menurutnya sakit seperti itu bisa sembuh sendiri saat sampai nanti.
"Apa masih pusing?" tanya Revan yang melihat wajah istrinya sangat pucat.
"Sedikit Kak." Rara memegangi kepalanya yang sedikit berdenyut.
Ia juga heran kenapa bisa mabuk kendaraan padahal saat berangkat baik-baik saja.
"Ayo aku bantu jalan." Revan pun memutari mobil dan membukakan pintu untuk sang istri.
Rara mencoba untuk berdiri tapi karena muntah terlalu banyak membuat tubuh lemas tak bertenaga. Alhasil saat ia berdiri, tubuhnya limbung dan hampir terjatuh. Untunglah ada Revan yang dengan sigap menangkap tubuhnya.
"Sudah begini masih bilang tidak apa-apa," ujar Revan menyipitkan matanya karena sang istri terus menolak untuk berobat.
Sementara Rara tidak berani membantah lagi, ia akui jika dirinya sudah salah.
"Ehh...," pekik Rara saat tiba-tiba tubuhnya melayang.
Revan mengangkat tubuhnya tanpa aba-aba, rara yang takut terjatuh pun berpegang pada bahu suaminya.
"Berpegangan yang benar jika tidak ingin terjatuh." Revan berjalan masuk ke rumah.
Dengan sedikit ragu Rara pun melingkarkan tangannya pada leher sang suami dan membuat lelaki itupun mengulum senyum.
Rara bisa melihat dengan jelas rahang tegas suaminya, garis wajahnya juga terlihat begitu sempurna. Pantas saja banyak wanita yang mengaguminya.
"Apa sudah puas melihatnya?" tanya Revan, walaupun ia tidak melihat sendiri tapi ia merasakan jika sang istri sedang memandangnya.
Rara pun sontak malu karena lagi-lagi ketahuan, bagaimana tidak ia tidak bosan-bosannya memandangi pria yang sudah menjadi suaminya itu.
Rara menundukkan kepalanya dan menyembunyikan pipinya yang memerah.
to be continue...
°°°
...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....
...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....
__ADS_1
...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....
...Sehat selalu pembacaku tersayang...