
°°°
Mike yang tadi berlari akhirnya sampai didepan ruangan dokter umum, tempat Febby diperiksa.
Mike mengatur nafasnya sebentar sebelum akhirnya ia membuka pintu.
Semua orang yang ada di ruangan itu pun menoleh pada Mike yang masuk tiba-tiba tanpa mengetuk.
"Maaf aku datang terlambat," ujar Mike dengan santai lalu ia duduk di kursi kosong yang ada disebelah Febby. Tidak peduli dengan Febby yang sedang terpaku karena kedatangannya.
"Apa anda suami dari nona Febby, kebetulan sekali. Tolong bantu bawa istri anda untuk diperiksa oleh dokter obgyn." Dokter itu dengan samangat mengatakannya.
"Maksud anda apa Dok, bukankah Anda salah satu dokter terbaik di sini. Lalu kenapa anda tidak bisa mengobati istri saya." Nada bicara Mike meninggi, ia emosi karena ia pikir dokter itu tidak mau mengobati wanitanya.
"Bukan begitu maksud saya Tuan, anda tenang dulu. Lebih baik sekarang anda membawa istri anda untuk menemui dokter obgyn, untuk memastikan dugaan saya." Sang dokter sedikit takut melihat aura wajah Mike yang menakutkan. Sepertinya pasiennya kali ini bukanlah orang biasa.
"Dok, jangan main-main denganku atau saya ratakan rumah sakit ini sekarang juga. Cepat katakan apa sebenarnya yang terjadi dengan istriku dan cepat berikan pengobatan yang terbaik untuknya." Mike tidak bisa menahan diri lagi. Dia tidak akan memaafkan siapapun yang membuat istrinya dalam bahaya.
"Maaf Tuan, itu bukan wewenang saya. Anda bisa mendapatkan jawaban yang pasti dari dokter obgyn nanti." Dokter itu tetap bersikeras dengan prinsipnya. Walaupun kakinya sudah bergetar melihat tatapan mematikan dari pria di depannya.
Brakk...
Mike memukul meja didepannya, hingga membuat semua orang terperanjat. Termasuk Febby yang segera tersadar dari lamunannya.
"Cepat obati istriku, tunggu apa lagi. Apa kalian tidak lihat wajahnya sudah sangat pucat." Ujar Mike dengan berapi-api. Dia menatap nyalang pada dokter dan perawat yang diam saja sejak tadi.
Lalu tiba-tiba saja ada petinggi rumah sakit datang ke sana.
"Maafkan pelayanan kami yang kurang memuaskan Tuan. Kami akan segera melakukan yang terbaik untuk istri anda." Petinggi rumah sakit itu bahkan membungkuk untuk meminta maaf pada Mike. Hal itu tentu membuat dokter dan perawat tadi menelan salivanya. Jika petinggi rumah sakit saja sampai tunduk berarti pria di depannya bukanlah orang sembarang.
"Bagaimana aku tidak marah, dokter kalian yang katanya terbaik disini sangat tidak bisa diandalkan." Mike masih emosi.
__ADS_1
"Maaf Tuan kami akan segera mencarikan dokter yang lain untuk istri anda," ujar sang petinggi rumah sakit sambil terus meminta maaf.
"Ini semua gara-gara kalian, apa kalian tidak tau siapa Tuan ini. Dia adalah Tuan Mike Anderson." Dokter yang mendengar itu langsung berdoa dalam hati agar ia masih bisa bekerja di rumah sakit itu.
"Mari nona, kami akan membawa Anda pada dokter yang lain." Kini pemilik rumah sakit itu beralih pada Febby yang sejak tadi diam saja di tengah keributan yang terjadi.
"Ayo kita pindah," ajak Mike pada Febby yang masih saja diam.
"Stop!! Apa yang kalian ributkan. Bukankah aku yang mau diperiksa disini." Febby menatap semua orang.
Lalu tatapannya berhenti pada pria yang sangat ia ingat, karena dia adalah orang yang menyebabkan ponselnya hilang di danau.
"Lalu kau," tunjuk Febby pada Mike.
"Kau siapa datang-datang bikin ribut dan siapa yang kau sebut istrimu, sejak kapan kita sedekat itu." Febby berkacak pinggang. Ia sudah pusing ditambah ribut-ribut makin membuat kepalanya berputar.
Mike tercengang melihat Febby kesal, karena rasa khawatirnya ia lupa jika wanita itu belum tau dengan apa yang terjadi pada mereka sebenarnya. Sekarang ia harus mencari alasan agar Febby terima dengan yang ia ucapkan.
"Maaf, istri saya memang suka begitu kalau sedang kesal," Ujar Mike pada semua orang, dan perkataan nya itu membuat Febby melotot.
"Sudah sayang jangan marah-marah lagi, maaf karena aku terlalu sibuk belakangan ini karena pekerjaan. Nanti kita ributnya di rumah saja ya, yang penting sekarang kamu di periksa terlebih dahulu." Mike harap kali ini wanita itu tidak mengelak lagi agar dia bisa cepat ditangani oleh dokter. Melihat wajahku yang pucat dan tubuhnya yang sangat kurus membuat Mike merasa sedih.
"Wajar jika sikap istri anda begitu Tuan, itu karena dipengaruhi oleh peningkatan hormon progesteron dan hormon estrogen. Kedua hormon ini bisa memengaruhi otak untuk mengatur semua perasaan termasuk perasaan marah, suasana hati yang buruk, atau pun kecewa."
"Sangat wajar bila istri mengalami perubahan sifat maupun fisiknya nanti." Dokter yang tadi memeriksa Febby mencoba menjelaskan penyebab perubahan sifat Febby.
"Maksud anda apa Dok, hormon-hormon apa itu?" tanya Mike dengan dahi yang berkerut, sama halnya dengan Febby yang sedang mendengarkan.
"Itu hormon yang biasa mempengaruhi suasana hati wanita yang sedang mengandung," ujar dokter itu pada akhirnya. Padahal awalnya dia tidak ingin mengatakan diagnosa nya. Karena itu tugas dokter obgyn nanti yang lebih berhak mengatakan nya.
"Ohhh...." Mike dan Febby ber ohh ria.
__ADS_1
Tapi sedetik kemudian, mereka membulatkan matanya. Apa dokter itu bilang hamil, siapa yang hamil?
"Maksud dokter...," tanya Mike dengan wajah terkejut nya.
"Ya, mendengar apa yang dialami oleh istri anda ciri-ciri nya sama dengan wanita yang sedang hamil muda. Untuk itulah saya menyuruh istri anda untuk memeriksa diri ke dokter obgyn untuk memastikannya." Ujar dokter itu.
Sedetik kemudian, pandangan mata Febby seketika menjadi kabur dan lama kelamaan dia tidak sadarkan diri. Tubuhnya pun terhuyung dan terhempas begitu saja.
"Febby... Hay sadarlah... jangan membuatku takut." Mike berusaha membangunkan Febby yang saat ini pingsan setelah mendengar kenyataan yang menimpa dirinya.
Saat ini tubuh Febby sedang berada di pelukan Mike yang tadi langsung menangkapnya yang hampir terjatuh.
"Kenapa kalian diam saja, cepat buat istriku bangun!" bentak Mike pada semua orang yang hanya diam mematung.
"Ba... baik Tuan." Para dokter dan perawat segera membawa Febby keruang IGD.
Terlihat sekali raut wajah kekhawatiran di wajah Mike saat ini. Bahkan ia terus melayangkan kekesalan pada para dokter yang dinilainya sangat lambat dalam menangani Febby yang tergeletak lemah di atas brangkar.
"Apa kalian tidak bisa lebih cepat!"
"Jika terjadi apa-apa dengan wanitaku dan calon anakku, akan aku ratakan rumah sakit ini!!"
Dada Mike bergemuruh, rasanya seperti patah hati saat melihat wanita yang sedang mengandung anaknya lemah tak berdaya seperti itu. Dia terus menyalahkan dirinya sendiri yang datang terlambat, seandainya dia bisa menyadari hal itu lebih cepat pasti saat ini Febby tidak mungkin merasakan sakit seperti itu.
to be continue...
°°°
...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....
...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....
__ADS_1
...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....
...Sehat selalu pembacaku tersayang...