
°°°
Semua orang kaget saat melihat seorang wanita datang dengan berderai air mata. Dia masuk nyelonong melewati kakek dan pak Ahmad yang hendak keluar.
"Kak Febby?" kaget Rara saat melihat wanita itu datang. Pikiran buruk tentu saja sempat melintas di pikirannya. Apa mungkin Febby datang untuk suaminya, bukankah katanya mereka sudah lama berpisah lalu ada apa ini. Pertanyaan demi pertanyaan memenuhi pikiran Rara.
"Di mana dia?" tanya Febby pada Rara yang sedang mematung.
"Dia siapa Kak?" Rara bingung, ia kira tadi wanita itu mau menghampiri suaminya tapi saat sudah di dekatnya malah menanyakan orang lain, lalu siapakah dia yang dimaksud.
"Tenang Non," ujar bi Ida yang datang untuk menemani nonanya.
"Bagaimana aku bisa tenang bi, aku belum tau bagaimana keadaannya," tangis Febby kembali pecah, tubuhnya sudah benar-benar lelah untuk mengahadapi semua yang terjadi. Jika bi Ida tidak memegangi nya pasti wanita itu sudah terjatuh.
Sementara Rara semakin bingung saat melihat Febby terisak, sangat terdengar menyakitkan. Sebagai wanita Rara dapat merasakan hal itu, tapi apa sebenarnya yang membuat wanita itu menangis seperti itu. Apa kah karena Revan, tapi sejak tadi Febby bahkan sama sekali tidak memperdulikan Revan.
Kemudian Rara melihat ke arah kakek yang tampak biasa saja saat melihat kedatangan Febby. Kakek seperti sudah menduga jika wanita itu akan datang.
Ada apa ini sebenarnya? Kenapa kakek tidak melarang kak Febby masuk ke ruangan ini. Apa ada hal yang tidak aku tau. Pikir Rara.
Kakek berjalan ke arah Febby tanpa rasa marah atau pun benci. Justru dia menatap wanita itu iba.
"Tenanglah nak, lihat baik-baik siapa yang ada di balik korden," ujar kakek pada Febby.
Sontak Rara pun tersentak, apa maksud kakek, kak Febby mencari assisten Mike tapi apa hubungan mereka sampai kak Febby menangis seperti ini.
Febby pun berjalan mendekati ranjang sebelah yang tertutup korden sebagai pemisah.
__ADS_1
"Bi, itu Mike...," ujar Febby seraya menutup mulutnya tak percaya melihat pria yang kemarin masih segar bugar saat mereka video call, tapi sekarang tubuh itu tergeletak tak berdaya bahkan banyak alat-alat medis yang menempel padanya.
"Mike, apa yang terjadi padamu sebenarnya... kenapa jadi begini?" Febby mendekat dan menggenggam tangan Mike, hatinya sungguh hancur melihat laki-laki dalam keadaan seperti itu.
Sementara bi Ida terus mengusap punggung nonanya walaupun ia juga tak kuasa menahan tangis.
Kakek melihatnya pun sungguh tidak menyangka jika Febby sepertinya sudah berubah. Walaupun awalnya kakek sempat tidak suka pada wanita itu saat memanfaatkan Revan. Namun, kini saat melihat dia yang sedang hamil lalu melihat ayah dari anaknya koma, kakek sungguh merasa kasihan.
"Operasinya berjalan lancar, tapi karena lukanya cukup parah dan terjadi pendarahan jadilah dia koma. Tapi kakek yakin, Mike adalah laki-laki yang kuat. Selama kakek mengenalnya dia bukan laki-laki yang mudah dikalahkan." Kakek memberi semangat pada Febby agar wanita itu tidak terpuruk. Kakek Tio sangat tau bagaimana rasanya saat wanita yang sedang hamil harus ditinggal oleh pasangannya. Dulu putrinya pun begitu terpukul dan hampir putus asa.
Febby diam, dia masih menangis. Bagaimana kalau Mike tidak mau membuka matanya lagi, bagaimana kalau dia di tinggalkan lagi? Tidak pantaskah dia bahagia, tidak pantaskah dia mempunyai seseorang yang menghargai keberadaannya.
Sementara Rara menatap pemandangan itu penuh tanda tanya tapi menahan diri untuk bertanya.
"Kakek tau kamu pasti banyak pertanyaan, nanti kau akan tau sendiri jawabannya. Kakek harap kalian bisa saling menemani dan mendukung. Sesekali ajaklah dia mengobrol agar tidak larut dalam kesedihan." Kakek melihat Rara.
"Kakek pergi dulu," ujar kakek pada Rara.
Pasti sangat menyedihkan saat melihat pasangan kita terluka. Luka kecil saja kadang kita ikut merasakannya, apalagi luka yang parah.
Tunggu... apa mungkin kak Febby dan assisten Mike, mereka pasangan tapi sejak kapan dan bagaimana bisa kak Febby dengan assisten Mike?
Banyak pertanyaan dalam benak Rara, tapi dia tidak mau menyinggung perasaan Febby dengan mempertanyakan itu semua.
Rara lebih memilih kembali ke sisi suaminya yang sama-sama masih memejamkan mata.
Sementara Febby, tidak henti-hentinya menangis. Menumpahkan segala perasaan sesak di dadanya.
__ADS_1
"Bagaimana kalau Mike tidak bangun lagi bi, bagaimana kalau dia pergi," lirih Febby. Tenaganya sudah habis karena terus menangis.
"Tuan pasti sadar Non dan nona tenang saja, ada bibi yang akan selalu di samping nona. Bibi tidak akan meninggalkan nona." Bi Ida jamin itu walaupun dia tidak di bayar sekalipun, karena dia juga seorang diri dan Mike lah yang telah banyak berjasa dalam hidupnya. Kalau hal buruk terjadi, bi Ida akan membalas kebaikan tuannya dengan menjaga calon tuan mudanya.
Rara mendengar semuanya, sangat jelas karena mereka ada di ruangan yang sama. Kini dia semakin yakin jika antara assisten Mike dan Febby ada hubungan yang tidak biasa, melihat bagaimana Febby menangis, Rara bisa merasakan nya.
"Non, ini pakaian ganti dan makanan untuk nona. Dan tadi tuan besar juga berpesan untuk membawa makanan untuk dua porsi, yang satu untuk siapa non?" tanya bi Mur yang baru saja datang, membawakan makanan dan pakaian untuk Rara.
Apa mungkin maksud kakek yang satu untuk kak Febby? tanya Rara dalam hatinya, kini ia yakin jika kakek sudah tau tentang hubungan mereka sebab itulah kakek berpesan agar mereka saling menemani.
"Letakkan dulu di sana bi, nanti aku makan," ujar Rara menunjuk sebuah meja. Dia tidak mungkin makan sekarang sedangkan di dekatnya ada wanita yang sedang bersedih.
"Yang satu ini non, untuk siapa. Bibi harus memberikan pada siapa Non?" tanya bi Mur lagi.
"Kerabatnya assisten Mike bi," bisik Rara, bingung juga mau mengatakan Febby itu siapa.
"Oh ya... apa orangnya ada di sebelah Non?" tanya bibi dan Rara pun mengangguk.
"Syukurlah, tuan Mike tidak sendirian lagi," ujar bi Mur, waktu tadi kakek Tio mengatakan Mike tidak punya keluarga sungguh membuat semua orang iba.
"Benar bi, tapi kita tunggu kondisinya kondusif dulu karena tadi dia sangat terpukul melihat keadaan assisten Mike. Semoga assisten Mike bisa segera sadar ya Bi," harap Rara, ia tidak bisa membayangkan kalau yang mengalami koma adalah suaminya pasti akan sangat terpukul dengan Febby.
to be continue...
°°°
Kok berasa jahat banget bikin Febby sedih terus, maafin author ya Feb.
__ADS_1
Like komen dan bintang 😍😍😍
❤️❤️❤️