Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
115. Kostum


__ADS_3

°°°


Revan sedang berusaha membujuk istrinya yang sedang kesal karena ucapannya, yang tidak sengaja mengatakan jika kakak iparnya mau mengerjainya lagi. Dan menurut Rara hal itu membuktikan jika suaminya tidak suka dengan apa yang kakaknya lakukan.


"Maafkan aku sayang, aku tidak kesal pada kakak ipar. Sungguh. Kakak ipar mau melakukan apapun juga aku siap menerimanya." ujar Revan yang saat ini duduk didepan kaki istrinya yang sedang duduk.


"Kalau kak Revan tidak suka bilang saja, nanti aku sampaikan pada Mbak Luna." Sindir Rara dengan gayanya yang sedang cemberut.


"Astaga... tidak seperti itu sayang." Revan frustasi sendiri.


"Maaf kalau kak Revan tidak nyaman dengan sikap Mbak Luna selama ini, tapi mau bagaimanapun dia adalah kakakku. Aku akan berpihak padanya," ujar Rara dengan wajah sendu. Ia merasa suaminya tidak nyaman dengan keluarganya.


"Tidak begitu sayang, lihat mataku." Revan meraih dagu istrinya agar menatapnya.


"Keluargamu adalah keluargaku juga sekarang, kakak ipar kakakku juga. Jadi aku mengerti jika sikapnya seperti itu padaku, aku terima dia mau melakukan apa saja padaku asal dia mau memaafkanku yang telah banyak menyakiti adiknya." Revan tidak ingin istrinya salah paham.


"Benarkah, apa kakak tidak marah dengan sikap Mbak Luna?" tanya Rara.


"Sama sekali tidak, aku dengan senang hati melakukan apapun agar kakak ipar, umi dan Abi mau memberiku maaf. Sekaligus meyakinkan mereka jika aku sudah berubah dan mau memperbaiki kesalahan."


"Terimakasih Kak," ujar Rara yang merasa terharu atas sikap suaminya.


"Apa yang kakak ipar lakukan padaku bahkan tidak sebanding dengan luka yang sudah aku beri padamu, jadi jangan pernah melarang kakak ipar saat sedang memberiku pelajaran." Revan menangkup wajah istrinya dan mendaratkan kecupan di keningnya.


"Kak Revan tidak perlu membahas yang sudah lewat, biarlah itu menjadi pelajaran untuk kita kedepannya saat ujian kembali datang."


"Terimakasih Rara, istriku yang paling cantik. Tidak hanya cantik wajahnya tapi juga hatinya. Terimakasih..." Revan membawa istrinya dalam pelukannya, rasa bahagia menyeruak dalam dada. Guratan kebahagiaan terpancar di wajah tampannya. Hingga tanpa disadari Revan memeluk istrinya dengan begitu kencang.


"Kak... aku sesak nafas," ujar Rara dengan sedikit tercekak suaranya.


Sontak Revan pun melepaskan pelukannya dan buru-buru melihat keadaan istrinya.


"Maaf, aku terlalu bersemangat," Revan menggaruk kepalanya.


"Iya Kak, tidak apa-apa."

__ADS_1


Bunyi ponsel pun menyela keromantisan pasangan suami-istri itu.


"Sebentar aku angkat telepon dulu," ujarnya pada Rara, tapi tetap di ruangan itu karena memang itu telepon hanya dari assistennya bukan dari siapa-siapa.


"Hallo... ada apa?" Revan menjawab telepon itu.


"Baiklah, kamu kirimkan saja lewat email nanti aku lihat."


Sepertinya ada hal yang penting tentang pekerjaan yang harus segera diselesaikan.


"Sayang, aku ke ruang kerjaku sebentar. Kalau kau sudah mengantuk tidurlah dulu, jangan menungguku... cup..." Revan mencium kening istrinya sebelum ia keluar dari kamarnya.


Rara pun mengerti akan posisi suaminya di perusahaan yang kini punya tanggung jawab besar.


Di ruang kerjanya, Revan membuka apa yang assistennya kirimkan, ternyata tentang Mega proyek yang banyak menarik investor dari luar negeri. Akhirnya proyek pertama yang Revan usulkan sudah mendapatkan investor dari perusahaan asing.


Akhirnya, aku akan buktikan pada mereka dengan prestasi ku. Sehingga mereka tidak lagi menganggap aku hanya menumpang enak pada kakek.


Revan pun larut dalam pekerjaannya.


Seketika gadis itu teringat dengan barang yang tadi kakaknya belikan sebagai hadiah. Rara turun dari ranjang dan membuka lemari, ia mengambil sebuah tas belanjaan yang ia simpan di rak bagian atas, karena ia malu jika sampai dilihat oleh suaminya tentunya.


Rara membuka bungkusan itu, ada dua kostum yang satu seperti kucing berwarna hitam lengkap dengan telinga dan ekor, lalu yang satu kostum kelinci berwarna putih juga dilengkapi dengan telinga dan hidung merahnya. Perlu di tandai itu bukan kostum biasa tapi dengan bagian belakang yang terbuka dan memperlihatkan punggung si pemakainya. Lalu bagian rok yang sangat mini, bisa memperlihatkan CD si pemakainya.


Mbak Luna bisa dapat ide dari mana ini. Kenapa jadi kayak pesta anak-anak, pakai kostum binatang seperti ini. Rara bergidik ngeri membayangkan dirinya memakai kostum itu.


Tiba-tiba ia teringat ucapan kakaknya.


"Dek ini dipakainya kalau kalian sedang bosan dan jenuh dengan hubungan kalian, ini bisa jadi membangkitkan gairah pasangan lagi. Ini harus dicoba saat nanti kalian sudah punya anak, biasanya fase itu adalah masa terberat bagi pasangan. Dimana sang suami lelah dengan pekerjaan dan istri lelah mengurus anak."


Rara geleng-geleng kepala mengingatnya, tidak menyangka kakaknya akan tau sampai sejauh itu.


Rara pun kembali menyimpan kantong yang pertama. Masih ada satu kantong belanjaan lagi dan Rara tidak tau apalagi kali ini yang kakaknya pikirkan.


Dibukanya kantong kedua, Rara mangangkat tinggi.

__ADS_1


"Apa ini?" Dahi Rara berkerut, penuh tanda tanya.


"Ini pakaian, tapi kenapa transparan begini. Ini sama saja tidak pakai apa-apa." Rara menggigit bibir bawahnya saat membayangkan ia memakai pakaian seperti itu.


Rara pun kembali memasukkan lingerie itu ke dalam kantong, tapi perkataan kakaknya lagi lagi berputar di kepalanya.


"Ini pas sekali kalau di pakai di malam pertama, ini bisa membuat kesan yang indah dan membuat para suami terngiang-ngiang pada istrinya. Plus... bisa membuat suami betah di rumah."


Rara ragu saat mau memasukkan pakaian itu kedalam lemari.


Apa ini saatnya, apa ini adalah waktu yang pas dan apa aku sudah siap? tanyanya pada dirinya sendiri.


Sebenarnya Rara tidak tau kenapa sampai saat ini suaminya tidak menyentuhnya, katanya saat itu masalah waktu. Memang berapa lama melakukan hubungan suami-istri sampai harus menunggu waktu yang longgar.


Pikiran-pikiran buruk pun mulai berdatangan dalam hatinya, dimana ia berpikir apa sebenarnya suaminya belum benar-benar mencintainya. Ataukah ada orang yang hatinya ia jaga sehingga tidak berani menyentuhnya.


"Astaghfirullah... kenapa aku berpikir seperti itu." Rara buru-buru membuang semua pikiran buruknya pada sang suami.


Hanya ada satu cara bila ia ingin memastikan manakah pikirannya yang benar. Jika terus seperti itu maka hati Rara tidak akan tenang.


Rara pun masuk kedalam kamar mandi dengan membawa kantong belanjaan yang kedua.


"Ayo Rara, kau tidak boleh gugup. Kalian itu suami istri, cepat atau lambat juga akan melakukannya." Rara mencoba memberikan semangat agar lebih berani.


to be continue...


°°°


...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....


...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....


...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....


...Sehat selalu pembacaku tersayang...

__ADS_1


__ADS_2