
°°°
Setelah selesai dengan kuliahnya, Rara dan Lia segera berjalan keluar menuju parkiran.
"Ra apa kamu sudah bertanya pada kakak sepupumu kapan dia akan pulang?" tanya Lia.
"Sudah, dia baru saja mengirimkan pesan padaku."
"Kalau begitu aku tidak menemanimu lagi ya, aku harus segera pergi ke tempat kerja ku. Assalamualaikum... daahh Rara." Lia melambaikan tangannya dan berjalan lebih dulu meninggalkan temannya.
"Wa'alaikumsalam. Hati-hati di jalan, sampai ketemu besok."
Mereka saling melambaikan tangan. Rara pun bergegas menuju parkiran, tidak ingin suaminya sudah menunggu lama. Entah hari ini mereka akan pulang bersama wanita itu atau tidak.
Rara tidak ingin banyak berpikir, biarlah semuanya berjalan perlahan seperti air mengalir. Hubungannya dengan sang suami adalah sakral dan sah dimata hukum dan agama, ikatan mereka suci. Ia yakin jika dibalik luka yang ia derita akan ada pelangi setelahnya.
"Ayo naik," ujar Revan pada istrinya yang terlihat melamun setelah sampai di depan mobil.
Rara tersadar, ia pun segera menaiki mobil.
"Apa ada tempat yang ingin kamu kunjungi?" tanya Revan.
"Aku rasa tidak ada kak," jawab Rara, bukannya tidak ingin tapi dia tidak tau apa saja yang ada di ibu kota Indonesia ini.
Selama ini dia hanya melihatnya dari televisi atau internet, dia ingin menyebutkan salah satu destinasi wisata tapi takut jika tempat itu ternyata jauh dan butuh waktu lama untuk kesana.
"Kau tidak ingin pergi ke mall?" tanya Revan yang sedang menyetir.
"Mall?" Rara menautkan kedua alisnya.
"Iya, apa kau tidak tertarik untuk pergi ke sana. Mungkin ada yang ingin kau beli atau kamu butuhkan saat ini," tawar Revan lagi, dia terlihat bersemangat sekali saat ini.
Rara tampak berpikir sejenak, kebutuhan dirinya sudah tersedia semua di rumah. Awalnya dia juga bingung, itu rumah atau supermarket, kenapa semuanya tersedia di sana.
"Aku tidak butuh apapun Kak tapi kalau hanya untuk berjalan-jalan, aku mau." Senyuman mengembang di bibir Rara, ia senang mempunyai kesempatan untuk lebih dekat dengan suaminya. Kemanapun itu tidak masalah baginya.
Tanpa sadar tangan kiri Revan terulur menyentuh kepala sang istri dan memberikan usapan di sana. Kehadiran Rara dihidupkan sangat membuat dirinya nyaman dan keinginan untuk membuat istrinya itu terus tersenyum selalu muncul di hatinya. Seperti saat ini, tiba-tiba ia mengajak Rara berjalan-jalan.
"Kita sudah sampai," ujar Revan saat mereka tiba di sebuah mall terbesar di Jakarta.
"Kenapa, kau tidak ingin turun?"
Revan menyerngitkan dahinya melihat Rara diam saja tidak excited seperti dugaannya.
"Aku baru pertama kali datang ke mall sebesar ini, mungkin aku akan sedikit memalukan nanti. Apa tidak masalah untuk kak Revan?" Rara merasa takut suaminya akan malu berjalan bersamanya.
"Kau itu tidak perlu mencemaskan hal seperti itu, ayo turun."
__ADS_1
Bisa dibayangkan bagaimana ekspresi Rara ketika turun dari mobil dan mulai memasuki mall, matanya menatap takjub pada bangunan megah itu.
"Pegang tanganku jangan sampai tertinggal."
Sang istri yang tidak fokus pada jalannya tentu saja membuat Revan khawatir jika mereka terpisah di bangunan yang jauh lebih besar dari kampusnya. Tidak ingin kejadian tempo hari terulang kembali.
Rara pun tanpa ragu menautkan tangannya pada tangan suaminya.
Mereka berjalan menyusuri setiap lantai, rasa lelah tergantikan dengan perasaan yang saat ini tidak bisa mereka jelaskah.
Bisakah aku minta jika hari ini jangan cepat berlalu agar kak Revan tidak melepaskan genggaman tangannya. Rara.
Bisakah senyuman indah itu aku lihat setiap hari.
Revan.
,,,
"Kak pakaianku sudah banyak dan masih banyak yang belum aku pakai," protes Rara yang dipaksa memasuki salah satu toko pakaian oleh suaminya. Lalu Revan menyuruhnya berbelanja.
"Bukankah perempuan suka berbelanja." Revan mengajak istrinya memasuki toko pakaian branded karena yang ia tau perempuan itu suka berbelanja, seperti Febby yang selama ini sering memintanya untuk membelikan sesuatu.
"Tidak Kak aku tidak suka, itu mubasir namanya dan Allah tidak suka." Rara tidak habis pikir dengan suaminya.
"Baiklah jika pakaian masih tidak perlu, bagaimana kalau tas, sepatu atau perhiasan mungkin." Revan mengajak Rara keluar dari toko pakaian dan berjalan mencari toko yang lain.
Pelayan toko pakaian yang tadi dimasuki pasangan itupun sangat iri melihat mereka, hingga mereka berandai-andai. Jika saja ada banyak pria seperti Revan di dunia ini pasti hidup para perempuan akan bahagia.
"Aku juga mau," ujar pelayan yang lain.
"Hai kamu kan sudah punya suami." Mendorong kening pelayan yang ke dua dengan jari telunjuknya.
"Hehehe... tidak apa-apa aku mau nambah satu lagi kalau yang seperti itu."
"Itu namanya serakah, kami yang jomblo mau kebagian apa."
Perdebatan tidak berarti itu berlangsung cukup lama, saling memperebutkan hal yang tidak ada.
,,,
"Kak, ini sudah banyak."
Rara menatap belanjaan yang sebenarnya tidak ingin ia beli tapi suaminya itu memaksa. Ia juga sangat terkejut saat melihat harga-harga barang yang ia beli itu harganya tidaklah murah.
"Baru segitu."
Mata Rara tentu saja membulat, beberapa kantong belanjaan yang berada di tangan suaminya di bilang hanya segitu.
__ADS_1
"Mau beli apa lagi Kak, ini sudah banyak," tolak Rara lagi.
"Ponsel, aku ingin membelikan kamu ponsel yang baru." Jawab Revan dengan santainya.
"Untuk apa Kak, ponselku masih bisa di pakai." Rara mengeluarkan ponselnya dan membolak-balikkan benda pipih itu untuk diperlihatkan kepada suaminya.
"Memang, tapi itu ponsel jadul."
Pada akhirnya Rara memiliki ponsel baru sekarang, menolak pun percuma karena Revan akan terus memaksanya untuk menerima. Akan tetapi dibalik itu semua Ia sangat senang hari ini, dia bahkan meletakkan tas belanjaan yang berisi ponsel barunya di atas pangkuannya. Bukan karena itu adalah barang pertama yang suaminya berikan padanya. Dia akan memakainya nanti.
Sedari tadi pun Revan terus mencuri pandang pada istrinya, pancaran kebahagiaan di wajah Rara membuat hatinya ikut merasa bahagia.
"Oh iya hampir lupa, ada sesuatu yang ingin aku berikan."
Revan memberikan sebuah kartu untuk sang istri.
"Apa ini kak," tanya Rara setelah menerima kartu itu.
"Kartu ATM itu untuk uang jajan dan keperluanmu, maaf aku baru memberinya sekarang."
Revan lupa soal itu dan ia juga tidak menyangka kenapa istrinya tidak pernah meminta haknya.
"Di dalamnya berisi sekitar 50 juta, jika kurang kau bilang saja padaku," Ujar Revan lagi.
"50 juta untuk apa Kak?" Rara terkejut mendengar uang sebanyak itu hanya untuk uang jajan.
"Untuk uang jajan mu dan keperluanmu atau masih kurang. Nanti aku akan transfer kan lagi."
"Tidak kak, ini saja sudah lebih dari cukup."
Jajan apa dengan uang sebanyak itu, kalau di desa pasti bisa untuk membeli kambing untuk Abi, pikir Rara.
"Oh iya kak, apa tidak apa-apa kita tidak membelikan apapun untuk kakek." Barang belanjaan yang begitu banyak semuanya untuk Rara, tentu saja ia merasa tidak enak nanti pada kakek.
"Kakek tidak perlu apapun lagi, kehadiran kamu di rumah sudah cukup untuk membuat kakek bahagia."
Kenapa, kenapa mendengar kak Revan berkata seperti itu membuat aku berdebar. Perlakuannya padaku hari ini juga tidak seperti biasanya, apa dia sudah mulai menerimaku sebagai istrinya.
Rara memeluk ponsel barunya lagi. Berharap hari ini adalah awal yang baik untuk hubungan mereka kedepannya.
to be continue...
°°°
...Salam goyang jempol....
...Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like, komen dan bintang lima ya....
__ADS_1
...Komen apa aja yuk buat author, kirim salam2 juga boleh. Wkwkwk...
...Sehat selalu pembacaku tersayang....