
°°°
Febby bergerak cepat setelah melihat mobil Revan tiba, tapi sebelum itu ia membenahi rambut dan pakaiannya agar terlihat sempurna di depan kekasihnya.
Jalannya di buat seanggun mungkin menghampiri Revan yang terlihat semakin tampan dengan balutan jas kerjanya.
"Hai sayang...," sapanya dengan manis.
Revan hanya tersenyum menanggapi sapaan itu.
"Ayo pulang." Febby menggandeng lengan Revan, mengajaknya segera meninggalkan tempat itu.
"Tunggu, kau masuklah dulu." Revan melepaskan tangan Febby yang melilit lengannya.
"Apa yang kau tunggu, aku tau kau pasti menunggu istrimu kan," sindir Febby.
"Masuklah...," perintah Revan sekali lagi, ia enggan menanggapi wanita itu.
Febby mengepalkan tangannya, menahan rasa kesalnya. Lalu ia masuk ke dalam mobil dengan perasaan dongkolnya.
"Dimana Rara?" tanya Revan dalam hatinya. Karena sejak tadi tidak juga menemukan istrinya.
Tempat Rara duduk memang agak jauh jarak, mungkin Revan tidak melihatnya karena tertutup oleh mobil yang lain.
"Kak," suara kecil dan lembut Rara terdengar.
Revan tersenyum padanya, "Ayo pulang."
Rara duduk di belakang seperti biasa, jika ada Febby di dalam mobil itu.
"Lama banget si, panas tau. Kamu pasti kepanasan kan sayang menunggu istrimu itu," sindir Febby.
Revan tidak menyahut karena pada akhirnya pasti akan ada perdebatan. Sekalipun yang dikatakan Febby itu benar, pelipisnya sedikit berkeringat. Namun, itu bukan masalah baginya. Entahlah, ia sama sekali tidak keberatan meskipun kepanasan menunggu istrinya.
"Makanya kalau ngobrol tuh jangan keasyikan sampai lupa sama suami sendiri. Mentang-mentang mahasiswa baru itu lumayan tampan, tapi masih jauh lebih tampan Revan."
Febby mulai menyalakan api, ia tersenyum menyeringai pikirnya kali ini pasti berhasil membuat suami istri itu bertengkar.
"Apa kamu tau, sayang. Tadi itu istrimu asyik sekali mengobrol dengan mahasiswa baru itu. Sampai tertawa bersama. Semua gadis di kampus saja iri melihat mereka."
Rara membulat, ia diam sejak tadi saat Febby terus saja menyindirnya. Namun, kali ini sepertinya sudah keterlaluan karena apa yang dia katakan tidak sesuai dengan kenyataan yang ia alami.
"Apa maksud kak Febby?" tanya Rara, ia masih bersikap sopan.
"Jangan pura-pura lupa, bukankah tadi kamu itu terlihat bahagia sekali bersama pria itu," cecar Febby memojokkan Rara.
"Aku tidak mengobrol dengannya, di sana juga ada Lia, temanku. Lalu pria itu yang dimaksud kak Febby berbicara pada Lia, bukan padaku," Rara mencoba meluruskan kesalahpahaman itu. Ia tidak tau saja jika memang wanita itu sengaja membuat semua jadi salah.
"Tidak mungkin lah, dia bicara pada temanmu sedangkan yang ada di sebelahnya kamu."
__ADS_1
Febby tidak mau kalah.
"Tidak seperti itu, Kak. Aku sama sekali tidak bicara padanya. Sakka sedang berusaha mendekati Lia, dan kebetulan aku duduk di tengah-tengah mereka." Rara bukan tipe orang yang suka berdebat, tapi yang dikatakan wanita itu sudah kelewatan.
"Cihhh... mana mungkin mengaku," ujar Febby dengan sinis.
Revan menghentikan mobilnya, mendengar perdebatan Rara dan Febby membuat ia tidak berkonsentrasi menyetir.
"Lihatlah Van, dia tidak mau mengaku," ujar Febby mencari pembenaran.
"Itu tidak seperti yang dia katakan Kak." Rara menatap suaminya dengan perasaan berkecamuk.
"Mau mengelak apa lagi, semuanya sudah jelas. Banyak juga yang melihatnya tadi. Akui saja kalau yang aku bilang itu benar." Febby tidak berhenti memojokkan Rara. Ia yakin saat ini Revan pasti percaya padanya.
"Ada apa ini sebenarnya, kenapa kalian berdebat." Revan mencoba menghentikannya.
"Tanyakan saja pada istrimu," ujar Febby.
Rara menggelengkan kepalanya, seperti berkata kalau semua itu tidaklah benar.
"Apa semua itu benar seperti yang dikatakan Febby?" tanya Revan.
"Apa kak Revan meragukan ku, aku tidak melakukan itu," lirih Rara.
"Bukan seperti itu, aku percaya padamu." Sepertinya Revan telah salah menanyakan hal itu.
Lalu Febby ingat kalau ia masih ada cara lagi untuk meyakinkan Revan. Ia mengambil ponselnya untuk menunjukkan foto yang tadi ia ambil.
"Sayang, lihatlah ini. Aku punya buktinya."
Febby memperlihatkan foto itu pada Revan.
Revan nampak berpikir sejenak, dalam foto itu memang terlihat sama seperti apa yang Febby katakan. Pria itu tertawa sambil melihat ke samping kirinya, ada Rara di sana. Namun, Rara sama sekali tidak melihat pria itu, cenderung memalingkan wajahnya. Walaupun dalam foto itu istrinya juga nampak tersenyum, tapi penglihatannya ke arah kiri juga.
Sepertinya ada yang salah dengan foto itu, pikir Revan.
"Benarkan yang aku katakan, Van. Foto ini sudah jelas menunjukkan siapa sebenarnya istrimu itu."
Febby tersenyum senang karena pasti Revan percaya padanya.
"Kak...." Rara menggelengkan kepalanya lemah melihat suaminya tidak percaya padanya. Percuma saja mau menjelaskan, jika rasa percaya itu tidak ada.
Revan tidak berkata apapun , ia tidak ingin ada mendengar perdebatan lagi. Biarlah nanti ia mencari tau sendiri, saat ini bukti itu terlalu kuat untuk disangkal.
Walaupun sebenarnya Revan tidak tega saat melihat istrinya, ia percaya jika Rara tidak seperti yang Febby katakan.
Rara sangat kecewa pada suaminya karena ia lebih percaya pada perempuan itu. Namun, ia tidak punya bukti apapun untuk membela diri. Sedih tentu saja, hatinya terasa sesak saat ini. Tidak ada yang lebih menyakitkan dari pada tidak dipercayai oleh orang terdekat kita.
Rara menyandarkan kepalanya, lalu memejamkan matanya. Lebih baik menenangkan pikiran, tidak ingin kesedihan terus menguasai hatinya.
__ADS_1
Revan melakukan mobilnya menuju rumahnya terlebih dahulu, karena ada yang ingin ia bicarakan dengan Febby. Dia akan secepatnya menyelesaikan hubungan diantara mereka.
Namun, yang dirasakan Rara berbeda. Ia kira suaminya itu sengaja mengantarkannya lebih dulu karena ingin menghabiskan lebih banyak dengan perempuan itu.
Mobil berhenti di depan pintu gerbang.
"Aku turun Kak, hati-hati di jalan." Setelah berkata seperti itu, Rara langsung turun dari mobil.
Sementara Revan serba salah jadinya, istrinya itu pasti sudah salah paham saat ini. Dia hendak menyusul Rara yang sudah melewati pintu gerbang.
"Mau kemana, Van?" Febby mencekal pergelangan tangan Revan.
"Tunggu sebentar."
"Aduhhh... perutku." Febby mengaduh kesakitan sambil memegangi perutnya.
"Kamu kenapa?" Revan panik.
"Perutku sakit, sepertinya karena tamu bulanan ku," jawab Febby.
"Aku bawa kamu ke rumah sakit."
"Ehh, tidak perlu sayang. Kita pulang saja, biasanya mamah akan membuatkan ku air gula untuk meredakan rasa sakit."
Jelas saja Febby tidak mau karena ia hanya pura-pura, agar Revan tidak menyusul istrinya.
Revan menghela nafasnya, ia tidak jadi menyusul istrinya untuk menjelaskan kenapa ia mengantar Febby belakangan. Apa boleh buat, dia akan menjelaskannya nanti sepulang dari kantor.
Febby tertawa puas dalam hatinya, ia menang lagi kali ini dan akan berusaha terus mempertahankan hubungannya dengan Revan.
Ini baru permulaan, Revan itu milikku dan akan tetap menjadi milikku. Banyak cara untuk memisahkan kalian, kita lihat saja siapa yang bertahan.
Semangat Febby menggebu-gebu, bertekad dengan niatnya memisahkan pasangan yang ditakdirkan oleh Sang pencipta.
"Apa masih sakit?" tanya Revan.
"Aa... masih sedikit. Iss...." Febby hampir lupa jika ia sedang berpura-pura sakit karena terlalu senang.
to be continue...
°°°
...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....
...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....
...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....
...Sehat selalu pembacaku tersayang...
__ADS_1