Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
85. Benci tapi Rindu


__ADS_3

°°°


Rara kuliah pukul sepuluh pagi hari ini, dia berangkat diantar oleh supir keluarga Herwaman. Sesuai perintah suaminya pagi tadi tentunya, ia pun mengirimkan pesan untuk mengabari jika dirinya sudah berangkat kuliah.


Tidak ada balasan dari sang suami, tapi tidak membuat Rara berpikir negatif. Ia kira suaminya itu sedang sibuk karena sebentar lagi kakek Tio akan pensiun dan suaminya harus menggantikannya.


Meski Rara tidak tau bagaimana dunia pekerjaan tapi sedikit mengerti.


"Kak Revan pasti sedang sibuk. Kata kakek, beliau sebentar lagi pensiun dan digantikan oleh kak Revan," pikir Rara.


Gadis itu pun kembali menyimpan ponselnya ke dalam tas.


,,,


Di perusahaan Fresh Grup, Revan yang baru saja mengikuti rapat terlihat sedikit melipat dahinya. Rapat tadi cukup menguras kesabarannya, menghadapi para petinggi yang tidak suka dengannya ternyata tidak mudah.


Beruntungnya Kakek Tio telah mempersiapkan semuanya, jadi tidak memberatkan Revan.


Revan menyandarkan tubuhnya, memejamkan matanya dan memijit pelipisnya. Menenangkan diri dan pikiran. Ia harus sangat berhati-hati dalam bergerak, karena salah selangkah saja orang-orang itu pasti akan mengambil celah untuk menjatuhkannya.


"Permisi Tuan, ini berkasnya." Mike masuk meletakkan berkas yang ia bawa di atas meja. Dia tidak bertanya lebih jauh pada tuannya karena ia sudah tau apa yang menyebabkan tuannya terlihat kusut.


"Anda tidak perlu banyak berpikir Tuan, tuan besar sudah mengurus semuanya untuk anda. Tuan Revan hanya perlu mengerjakan pekerjaan dengan baik dan buktikan pada mereka. Sisanya serahkan pada tuan besar." Mike yang tidak tega pun memberikan sedikit wejangan pada tuannya. Dia yang sudah lama bergelut di perusahaan pasti sudah tau semua tabiat buruk orang-orang yang rakus.


Bahkan sebelumnya dia sudah lebih dulu berbisnis di pasar gelap, hanya dengan melihat wajahnya Mike tau bagaimana orang itu dalam bekerja.


"Ya kau benar, tapi aku tidak mau terus bergantung pada kakek. Untuk apa dia pensiun jika masih mengurus permasalahanku." Revan benar-benar ingin kakeknya beristirahat di rumah.


Mike tersenyum mendengarnya, ternyata bos mudanya cukup tangguh juga. Pantas saja, darah tuan besarnya pasti menurun. Dimana seorang kakek Tio sangat ditakuti bila ia sudah murka, Mike harap cucunya pun bisa lebih dari itu.


"Tuan besar pasti bangga pada anda, tenang saja ada saya dan kepercayaan tuan besar yang lain. Kami pasti membantu kesulitan anda, Tuan," ujar Mike seraya menyilangkan salah satu tangannya di depan dada dan membungkuk.


Ya itulah salah satu keberuntungan Revan mendapatkan dukungan dari kepercayaan kakeknya. Mereka sudah pasti berpengalaman dan sangat profesional. Jika dilihat para petinggi perusahaan juga sedikit takut pada Mike dan satu orang lagi yang setia di samping kakek Tio.


Setelah cukup tenang, Revan melihat jam ditangannya. Ternyata sudah jam sepuluh lewat.


Rara pasti sudah berangkat kuliah, pikirnya.

__ADS_1


Dihadapkan dengan setumpuk pekerjaan dan masalah Revan hampir saja melupakan istrinya. Segera ia memeriksa ponselnya yang tadi ia tinggalkan di atas meja kerjanya.


Benar saja ada pesan masuk dari istrinya yang mengatakan jika ia sudah berangkat kuliah. Revan tersenyum saat membacanya.


"Sangat patuh dan manis." gumamnya.


Revan tidak membalas pesan istrinya, nanti ia berniat ingin menelponnya saja jika sang istri sudah istirahat.


,,,


Di kampus semuanya seperti biasa tidak ada yang aneh, semua mahasiswa/i mendengarkan penjelasan dosen yang sedang mengajar.


Namun, tidak dengan Rara dan Lia. Mereka mungkin sama sedang merasakan jatuh cinta tapi ada perbedaan dari keadaannya.


Bila Rara sudah memetik hasil kesabarannya, Lia mungkin yang harus bersabar kali ini.


Dia sudah berusaha menekan pikiran dan perasaannya tapi justru semakin teringat pada pria yang sudah meninggalkan jejak keburukannya. Sesekali Lia bahkan mencuri pandang pada kursi yang biasa di duduki pria itu.


Hari ini Sakka kembali tidak berangkat kuliah dan itu sukses membuat Lia sedikit khawatir. Apa memang benar karena ingin menghindarinya atau terjadi sesuatu.


Benar kan semakin dia coba melupakan malah semakin membuat dia terus ingat.


"Aku tidak melamun Ra," elak Lia yang tidak ingin ketahuan sedang memikirkan Sakka.


"Tidak melamun gimana, dari tadi saja kamu tidak memperhatikan dosen. Ibaratnya itu raga kamu ada di sini tapi pikiran kamu tidak tau kemana." Dilihat dari wajah Lia, sepertinya dugaan Rara benar. Gadis itu sedang memikirkan sesuatu atau jangan-jangan memikirkan pria itu.


Lia tidak menyahut lagi, mau menyangkal takutnya malah ketahuan sedang berbohong. Ia juga tidak tau kenapa sejak tadi perasaannya tidak enak. Seperti terjadi sesuatu tapi tidak tau apa itu.


"Kan melamun lagi, kamu mikirin Sakka?" tebak Rara. Sontak Lia membulatkan matanya.


"Hush... jangan keras-keras Ra," bisik Lia seraya menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya.


"Jadi benar?" tanya Rara.


"Iya deh, aku ngaku. Aku juga bingung Ra, kenapa aku terus memikirkan dia dan aku merasa ada yang tidak beres. Apa ini hanya perasaanku saja?" Jujur Lia pada akhirnya, mau bagaimana juga bercerita pada temannya mungkin akan sedikit mengurangi kecemasannya.


"Apa karena dia tidak ada disini. Oh iya apa baru hari ini dia tidak ada?" tanya Rara memastikan.

__ADS_1


"Dari hari kami sedikit bertengkar dia tidak berangkat kuliah, seperti yang aku ceritakan kemarin. Dia datang dan nenarikku tiba-tiba, lalu ya itu..."


Lia, apa yang salah denganmu. Bukannya kamu seharusnya senang jika dia tidak ada, bahkan menghilang dari dunia ini.


Lia berperang dengan pikirannya.


"Bagaimana kalau kita cari tau apa yang terjadi padanya, bukan berarti aku menyuruh kamu untuk dekat dengan dia. Tapi jika terus-terusan begini kamu tidak akan tenang," saran Rara, menurutnya Lia harus berdamai dengan pria itu jika memutuskan ingin menjauh. Karena jika tidak hatinya tidak akan tenang. Menyelesaikan kesalahpahaman dan permasalahan.


"Tapi kalau aku cari tau nanti dia besar kepala dan dia bisa mengira aku memberinya harapan, Ra." Lia tidak ingin memberikan harapan yang belum tentu dirinya bisa menerimanya.


"Bukan memberi harapan, kita bisa mencari tau sebagai seorang teman. Anggap saja dia temanmu seperti aku. Kalian harus berdamai, aku rasa diantara kalian ini ada salah paham Li."


"Coba bicarakan baik-baik, baru putuskan apa yang menurut kamu terbaik bagi kalian."


Lia mencoba memikirkan apa yang Rara sarankan, ada benarnya memang. Jika dilihat dari perkataannya kemarin sepertinya Sakka sangat kecewa saat mendengar ucapan Lia. Jika tidak diselesaikan secara baik-baik pasti keduanya sama-sama tidak memiliki ketenangan.


to be continue...


Ini judulnya kayak lagunya Momo Geisha.


...Sungguh aku tak bisa...


...Sampai kapanpun tak bisa...


...Membenci dirimu sesungguhnya aku tak mampu...


...Sulit untuk ku bisa...


...Sangat sulit ku tak bisa...


...Memisahkan segala cinta dan benci yang kurasa.... uwwooooo......


°°°


...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....


...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....

__ADS_1


...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....


...Sehat selalu pembacaku tersayang...


__ADS_2