
°°°
Akhirnya orang-orang suruhan anak pemilik tanah itu pergi juga dari panti asuhan itu. Membuat Lia dan anak-anak panti bisa bernafas lega.
"Terimakasih kak Lia." Anak-anak panti pun menghambur ke pelukan Lia.
Ibu panti yang melihatnya pun terharu sampai menitikkan air mata.
"Lia, kenapa kamu berkata seperti itu. Bagaimana caranya kamu mendapatkan uang sebanyak itu dalam satu malam," ujar salah satu pengurus panti.
"Aku akan berusaha mencari bantuan sebisaku kak. Aku sudah berjanji pada anak-anak, aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan uang itu meski pun sulit sekalipun." Lia melihat wajah anak-anak yang tidak berdosa, kalau bukan kita yang melindungi mereka siapa lagi. Sedang orang tua mereka tidak lagi menginginkan mereka.
Aku janji pada kalian, ujar Lia dalam hatinya.
"Tapi Lia...,"
"Sudah jangan mendesak Lia seperti itu, ini semua bukan tanggung jawab Lia seorang tapi kita semua. Seharusnya kita berusaha untuk membantu Lia bukannya menambah tekanan Lia." Ibu panti menghentikan pengurus panti agar tak lagi bicara.
"Lia, kalau kau tidak bisa mendapatkan uang itu tidak apa-apa. Tidak perlu memaksakan diri, kita akan mencari tempat lain untuk pindah," ujar ibu panti pada Lia.
"Aku akan menemui paman Bun, tunggu Lia kembali dan doakan Lia agar bisa meyakinkan paman untuk membantu panti ini," ujar Lia pada ibu panti.
"Hati-hati nak, kamu tau keluarga pamanmu itu seperti apa. Bunda tidak ingin kamu kenapa-kenapa." Ibu panti yang mengetahui bagaimana keluarga pamannya Lia tentu merasa khawatir.
"Jangan khawatir Bun, titip anak-anak. Aku pergi dulu. Assalamualaikum..." pamit Lia pada ibu panti.
"Wa'alaikumsalam...,"
Kau anak yang sangat baik Lia, semoga Allah melindungi mu dimanapun kamu berada.
Sampailah Lia di depan rumah peninggalan ayahnya yang saat ini di tempati oleh keluarga pamannya. Lia memencet bel rumah itu dan tak lama seorang wanita membukakan pintu.
"Assalamualaikum bibi..." ujar Lia memberi salam pada istri pamannya, tak lupa dia juga mencium tangan.
"Wa'alaikumsalam. Lia, ada apa kamu kemari?" tanya bibi Lia dengan wajah masam.
__ADS_1
"Apa paman ada di rumah? aku mau bertemu dengan paman, bi."
"Siapa yang datang?" tanya seorang pria yang menggunakan kacamata.
"Paman... aku ingin bicara empat mata denganmu, bisa kan?" ujar Lia to the point.
Saat ini Lia berada di dalam ruangan keluarga berdua dengan pamannya saja. Sementara bibinya sudah masuk ke dalam.
"Aku tidak akan basa-basi lagi pada paman, aku kesini mau meminta hak ku sebagai ahli waris peninggalan ayahku." Lia langsung pada intinya karena pamannya juga pasti sudah bisa menebak.
"Bukankah sudah paman bilang kalau peninggalan ayah kamu sudah habis untuk membayar hutang yang ditinggalkan oleh ayahmu."
"Bagaimana mungkin, perkebunan teh seluas itu habis untuk membayar hutang semua paman dan lagi aku tidak pernah mendengar kalau ayah mempunyai hutang." Lia mengeluarkan unek-unek nya.
"Apa kamu menuduh paman berbohong? Paman yang sudah berjuang keras agar pabrik kecil tetap berjalan. Paman juga habis banyak untuk membeli alat-alat produksi yang baru." Terang sang paman.
Selalu seperti itu setiap kali Lia membahas peninggalan ayahnya. Dia tidak punya cukup bukti untuk menyangkal semua pernyataan pamannya.
"Baiklah paman, berikan aku 500 juta malam ini. Setelah itu aku tidak akan mengganggu paman dan keluarga paman. Aku juga tidak akan menginjakkan kaki di rumah ini lagi."
"Uang itu untuk membayar tanah panti asuhan, setidaknya pahalanya akan terus mengalir untuk ayahku. Tolong paman carikan, harta ayah pasti lebih banyak dari itu kan?" Lia kekeh.
"Kau...!! Keluarlah, aku akan pikirkan nanti." Sang paman terlihat sangat kesal.
Lia pergi ke kamarnya, kamar yang dulu ia tempati.
Sementara paman dan bibinya merencanakan sesuatu untuk Lia.
Paginya, Lia kaget saat di dalam kamarnya banyak orang dan menyuruhnya untuk berdandan dan bersiap menggunakan kebaya pengantin. Sontak Lia tidak mau dan menanyakannya pada sang paman.
Dunia Lia seakan hancur saat sang paman berkata akan menjualnya pada juragan beras di kampungnya dan parahnya pria itu sudah berumur dan mempunyai tiga istri.
"Apa maksud paman menukarku dengan uang, aku sedang meminta hak ku lalu kenapa paman malah menikahkan ku dengan juragan itu." Lia membentak pamannya yang sungguh keterlaluan.
"Bukannya kamu mau uang, itu uangnya lima ratus juta dari juragan. Paman mana punya uang segitu banyaknya. Kamu terima atau panti asuhan itu di gusur, terserah kamu mau pilih yang mana."
__ADS_1
Lia frustasi dibuatnya, dia mana mungkin tega pada anak-anak panti. Haruskah dia menikah dengan lelaki tua itu dan menjadi istri ke empat. Atau haruskah dia tega membiarkan anak-anak panti terlantar di jalanan.
"Baiklah aku mau." Lia pasrah, menyerahkan nasibnya pada Tuhan yang maha kuasa. Jika memang dia harus menikah dengan lelaki itu dia ikhlas asal anak-anak panti bisa tetap disana.
Lia sudah duduk di hadapan penghulu dan disampingnya lelaki yang sebentar lagi menjadi suaminya. Tangisan Lia sudah tidak bisa ia bendung lagi. Inilah akhir hidupnya, beginilah akhirnya. Lia memejamkan matanya saat melihat lelaki itu sudah berjabat tangan dengan pak penghulu dan sebentar lagi tinggal mengucapkan ijab kabul.
"Stop!! Hentikan pernikahan ini." Seseorang datang dan membuat semua orang yang ada disana menoleh termasuk Lia.
Dia datang bagai pancaran cahaya bagi Lia, Laki-laki itu mendekat ke arah mimbar dan mengulurkan tangannya pada Lia.
"Ayo kita pergi," katanya, kata sederhana namun begitu sangat berarti bagi Lia saat ini.
"Tunggu, siapa kau? Beraninya mengganggu acara pernikahan ku, apa kamu tidak tau siapa aku. Aku juragan di kampung ini, kau tidak akan bisa pergi dari sini." Juragan itu tampak memanggil anak buahnya untuk memberi laki-laki itu pelajaran. Namun sayang, laki-laki itu sudah lebih dulu melumpuhkan anak buah juragan itu.
"Apa yang anda cari, tidak akan ada yang bisa menghentikan ku membawa calon istri ku pergi dari sini." Ujarnya seraya menarik Lia untuk bangun.
Juragan itu tampak meminta penjelasan pada pamannya Lia.
"Tunggu Lia, kalau kau pergi maka panti asuhan itu akan di ratakan!" ancam sang paman.
"Hal itu tidak akan pernah terjadi karena aku sudah membeli tanah itu tiga kali lipat dari harga nya dan anda siap-siap saja karena sebentar lagi aku akan menyuruh pengacara untuk memeriksa harta warisan peninggalan ayahnya Lia."
"Kau sudah tega mengambil harta anak yatim, maka tunggu saja apa yang pantas kalian terima."
Laki-laki itu membawa Lia pergi dari sana, sementara Lia masih mematung memandang punggung pria itu tanpa bisa berkata apa-apa.
to be continue...
°°°
Siapa sih itu... othor jadi penasaran kan..🤭
Like komen dan bintang lima 😍
Gamawo ❤️❤️❤️
__ADS_1
Sehat selalu pembacaku tersayang