Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
158. Bertahan


__ADS_3

°°°


Di sebuah rumah mewah minimalis.


Febby juga sudah gelisah karena laki-laki yang ia tunggu tidak kunjung datang.


"Bi, kenapa Mike belum sampai juga?" tanya Febby, ya dia memang belum mengetahui perihal kecelakaan itu karena polisi hanya memberi tau keluar kakek Tio.


"Mungkin ke kantor dulu Non," jawab bi Ida.


"Tapi kenapa perasaan aku tidak tenang bi..." Mungkin karena ada ikatan yang kuat antara janin yang ada di perutnya dengan sang ayah.


"Nona jangan berpikiran macam-macam, mungkin sebentar lagi tuan akan pulang." Bi Ida terus menenangkan nonanya.


"Bagaimana aku tidak berpikir macam-macam bi, kalau nomornya saja tidak bisa dihubungi." Pikiran Febby sudah entah bagaimana.


"Kalau begitu, biar bibi suruh orang untuk mencari tau ya Non," ujar bi Ida.


"Iya Bi, cepetan. Perasaan aku tidak tenang." Dada Febby bergemuruh dengan perasaan yang tidak karuan.


Bi Ida segera menyuruh orang untuk mencari tau.


Beberapa saat kemudian, orang yang diperintahkan untuk mencari tau tentang Mike sudah kembali. Dari raut wajahnya terlihat jika telah terjadi sesuatu.


"Bagaimana, apa kau tau dimana tuan Mike?" tanya bi Ida.


"Anu itu bi... tuan...,"


"Tuan kenapa? Cepat katakan." Bi Ida mendesak orang itu untuk segera bicara.


"Tuan... kecelakaan bi... dan sekarang sudah di bawa ke rumah sakit. Sedang di operasi, bersama atasannya," ujarnya.


"Kecelakaan...?" bi Ida ternganga mendengar berita itu, sekarang bagaimana caranya dia memberitahukan pada nonanya. Bagaimana kalau wanita itu terpukul dan akan membahayakan bayinya.


"Bi...," panggil Febby dari dalam rumah.


"Bagaimana bi, apa sudah ada kabar?" sambungnya.


Dengan langkah yang berat bi Ida menghampiri nonanya. Mau bagaimana pun harus tetap memberitahu apa yang terjadi.


"Bi... ada apa?" tanya Febby yang menangkap gelagat aneh.


"Tuan... tuan kecelakaan non," ujar bi Ida terbata, tidak sampai hati dia memberi tahukan berita buruk itu.

__ADS_1


"Apa Bi!! kecelakaan!!" Seketika air mata menggenang di pelupuk matanya. Bahkan lolos begitu saja bersamaan dengan tubuhnya yang terduduk lemas di lantai.


"Bagaimana mungkin bi... tidak mungkin!! Itu pasti salah, ya kan bi. Cepat bilang kalau itu tidak benar!" Jerit Febby terdengar sangat pilu. Kenapa di saat dia baru menemukan seseorang yang menghargai nya sebagai seorang wanita, dia harus mendengar kabar seperti itu.


"Tenang Non, tenangkan diri nona dulu." bi Ida memeluk Febby, ikut larut dalam tangisan.


"Dia sudah janji akan pulang bi, kenapa dia ingkar janji." Febby masih tidak percaya dengan semua itu.


"Yang tabah Non, nona harus ingat ada anak dalam perut nona. Nona harus tenang, kita belum tau keadaan tuan. Mungkin saja tuan tidak apa-apa," ujar bi Ida menenangkan nonanya.


"Ayo bi, kita lihat Mike. Aku akan menghajarnya karena tidak menepati janji," ujar Febby, dia yang begitu sakit berusaha menghibur dirinya.


,,,


Di rumah sakit.


Semua orang berdiri saat lampu di atas ruang operasi berubah warna merah dan dokter keluar dari sana.


Dengan sigap Febby membantu kakek untuk berdiri.


"Bagaimana keadaan cucu saya Dok?" tanya kakek.


"Operasi berjalan lancar Tuan, tunggu beberapa saat lagi. Baru keluarga boleh melihat pasien." Senyum terpancar dari wajah dokter, rasanya perjuangan panjang di dalam ruang operasi terbayarkan saat sang dokter bisa membawa kabar bahagia untuk keluarga pasien.


"Maksudnya, cucu saya selamat. Dia baik-baik saja?" tanya kakek yang masih belum percaya.


"Alhamdulillah...," tidak ada kata selain rasa syukur atas keajaiban yang telah Tuhan berikan.


Semua orang sangat bersyukur mendengarnya.


"Tapi tuan, ada hal yang harus saya sampaikan...," ujar dokter dengan wajah serius.


"Ada apa Dok?" Wajah semua orang kembali tegang.


"Pasien yang satu, luka di kepalanya cukup parah dan kemungkinan dia akan koma."


"Mike...," Kakek cukup terpukul mendengarnya, bagaimana pun kakek sudah menganggap Mike seperti cucunya sendiri.


"Berikan pengobatan yang terbaik untuk dia Dok, tolong selamatkan dia," pinta kakek.


"Kami akan berusaha Tuan." Dokter itu juga manusia yang juga menyerahkan segalanya pada Tuhan.


"Terimakasih Dok," ujar Rara.

__ADS_1


"Sama-sama Nona, kami permisi dulu." Rombongan dokter itu pun berlalu.


"Kakek, kak Revan bisa bertahan...," ujar Rara menatap sang kakek penuh haru.


"Iya nak, anak itu pasti kuat."


,,,


Beberapa saat kemudian, Revan dan Mike sudah di pindahkan ke ruangan khusus. Kakek memutuskan untuk menggabungkan ruangan mereka, karena ia tau Mike tidak memiliki kerabat lain di sini. Sementara Rara juga tidak masalah, kasihan juga kalau assisten Mike tinggal di kamar sendirian, walaupun dia masih koma tetap saja tidak tega.


Kakek dan yang lain sudah ada di dalam kamar melihat keadaan Revan dan Mike.


"Kakek tau kamu kuat," ujar kakek pada Revan yang masih tidak sadarkan diri. Meski Revan tidak dinyatakan koma tapi luka di kepalanya membuat dia butuh waktu untuk sadar setelah operasi.


Lalu kakek beralih pada Mike, pria yang kakek kenal sangat kuat dan tangguh kini tergeletak di ranjang tak berdaya. Tapi dalam hati kakek yakin, jika Mike akan bisa melewati itu semua karena kakek tau betul jika Mike pernah melewati hal yang lebih besar dari ini saat masih dalam dunia gelapnya. Dimana pria itu pernah hampir meregang nyawa tapi akhirnya selamat.


Kakek yakin kamu akan bertahan, Mike. Bukankah ada anak yang sedang menunggu kepulangan mu, ujar kakek dalam hatinya karena memang Mike sudah menceritakan semuanya tentang hubungannya dengan Febby.


"Kek, apa tidak sebaiknya kita memberitahu keluarga assisten Mike," ujar Rara yang merasa iba pada Mike karena sejak tadi tidak ada yang datang melihatnya.


"Tidak perlu karena keluarganya adalah kita," Jawab kakek.


Walaupun Rara penasaran tapi dia tidak berhak ikut campur urusan orang lain.


"Kakek harus mengurus sesuatu, kamu tidak apa-apa di sini sendiri?" tanya kakek, dia ingin tau perkembangan kasus kecelakaan yang membuat cucunya terluka.


"Tidak apa-apa Kek, nanti bi Mur juga datang lagi setelah mengambil beberapa baju ganti," ujar Rara yang sedang duduk di kursi yang ada di dekat ranjang suaminya.


"Kalau kau lelah kau bisa beristirahat, kakek sudah menyiapkan kamar sebelah untuk kamu beristirahat." Kakek mengusap lembut kepala Rara, dia sudah menyiapkan ruangan untuk Rara beristirahat karena kakek yakin wanita itu tidak akan mau untuk pulang.


"Iya Kek, saat ini aku ingin menemani kak Revan dulu," ujar Rara. Rasa rindu yang sudah begitu menggunung membuatnya ingin selalu ada di dekat suaminya.


"Kalau begitu kakek pergi dulu... Assalamualaikum..."


"Wa'alaikumsalam kek, hati-hati."


Tepat saat kakek hendak keluar, seseorang datang dengan berderai air mata.


to be continue...


°°°


Nah loh, siapa yang datang?

__ADS_1


Like komen dan bintang lima 😍😍😍


❤️❤️❤️


__ADS_2