
°°°
Sampai di depan pintu ruangan kamar rawat Mike. Rara hendak mengetuk pintu tapi ia urungkan saat terdengar suara orang yang sedang berdebat di dalam sana.
Rara menatap suaminya untuk bertanya apa yang harus ia lakukan.
"Nanti saja, sepertinya di dalam sedang ada orang lain," ujar Revan yang tidak ingin ia dan sang istri terlalu ikut campur urusan Febby.
Rara menurut dan mereka pun duduk di kursi tunggu yang ada di depan ruangan.
Ternyata di dalam ruangan sedang ada mamah Wina. Dia begitu syok saat mengetahui fakta kalau putrinya sedang mengandung anak dari pria yang masih koma itu. Selama ini dia tidak terlalu menyadari karena perut Febby belum membesarkan tapi tadi dia melihat saat Febby sedang berganti pakaian. Dia melihat putrinya memiliki perut yang sedikit buncit.
"Sayang, jadi kau hamil anak pria itu. Bagaimana mungkin? Kenapa kau ceroboh sekali sampai hamil dengan pria yang kerjanya hanya jadi assisten, sedangkan dulu Saat bersama Revan kau tidak berpikir untuk mengandung anaknya." Mamah Wina protes pada Febby, dia tidak mau mempunyai mantu seperti Mike.
"Mah... aku sudah bilang kalau mamah tidak perlu lagi ikut campur urusan ku dengan Mike. Bukannya aku sudah memberikan apa yang mamah mau. Sekarang apa lagi?" Sentak Febby.
"Coba kamu pikirkan lagi, Mike juga belum tentu bangun lalu bagaimana nasib kamu nanti kalau harus mengurus anak sendirian. Mamah hanya tidak mau nasib kamu sama seperti mamah yang harus menanggung anak seorang diri. Mamah tau bagaimana rasanya, nak," bujuk mamah Wina. Dia mendekati putrinya dan menceritakan bagaimana tersiksanya punya anak tanpa suami.
"Tidak mah, aku berbeda. Mike sangat mencintai ku, jadi dia tidak mungkin menyia-nyiakan kami." Febby percaya pada Mike, kalau dia sangat mencintai dirinya dan juga anaknya.
"Tapi bagaimana kalau hal buruk terjadi, apa kau sudah memikirkan bagaimana kalau dia tidak bangun. Kamu mau merawat anak ini sendiri, apa kamu sanggup?"
Febby sangat sedih mendengar nya, bukannya seharusnya yang dikatakan mamahnya sebagai nenek mereka tidak seperti itu. Ya seandainya saja sang mamah mengatakan 'Kamu tenang saja nak, ada mamah yang akan membantu merawat cucu mamah.' Sayangnya itu hanya dalam bayangan Febby semata. Nyatanya mamah Wina begitu tega mengatakan kalau darah dagingnya adalah beban untuk Febby.
"Anak yang aku kandung itu cucu Mamah, kenapa mamah bilang seperti itu. Tenang saja, kalaupun Mike tidak bangun lagi. Aku akan merawat anakku seorang diri dan tidak akan merepotkan Mamah barang sedetikpun." Mata Febby dipenuhi kilatan kekecewaan yang begitu besar.
__ADS_1
"Terserah padamu kalau begitu, mamah tidak akan membantu mu suatu saat nanti. Mamah sudah peringatkan kamu, jadi jangan menyesal nantinya. Menggugurkan nya belum terlambat, mumpung masih kecil," ujar mamah Wina dengan entengnya.
Sontak Febby melotot, nenek macam apa sang mamah. Bagaimana bisa ia tega menyuruh Febby menggugurkan kandungan nya, itu nyawa lohh bukan sekedar gumpalan darah tapi janin itu punya nyawa. Dia berhak hidup di dunia ini.
"Cukup mah!! Please, aku mohon mamah jangan bicara seperti itu lagi. Aku tau bagaimana tersiksanya mamah dulu, tapi aku berbeda. Aku menyayangi anakku, tidak seperti mamah yang hanya menyesali kehadiran ku."
"Lebih baik mamah pergi dari sini. Urus saja diri mamah sendiri. Tidak perlu lagi menemui ku," tegas Febby yang sudah berlinang air mata, ia memalingkan wajahnya dari sang mamah. Kalau boleh ia memilih, dia tidak ingin dilahirkan dari mamahnya. Bagaimana bisa ia lahir dari ibu yang sama sekali tidak pernah menginginkannya.
"Kau mengusir mamah, hanya karena anak dan laki-laki itu. Mamah ini orang yang sudah melahirkan kamu, tapi kamu malah mengusir mamah. Apa kamu mau menjadi anak durhaka?" teriak mamah Wina.
Febby menghirup nafas panjang agar tidak ikut terbawa emosi. Dia ingat kalau saat ini ia berada di rumah sakit, Febby juga tidak mau kalau sampai kemarahannya nanti berpengaruh pada anak dalam kandungannya.
"Maahhh... aku minta maaf kalau aku belum bisa menjadi putri yang baik untuk mamah. Aku sayang sama mamah, aku juga tidak ingin mengusir mamah seperti ini. Aku juga ingin seperti anak-anak yang lain, memeluk mamah saat aku ingin menangis dan ada masalah." Febby menggenggam tangan mamahnya, menatapnya penuh kelembutan.
Mamah Wina melepaskan tangannya yang digenggam sang putri.
"Aku kecewa padamu, kamu berubah begitu mengenal laki-laki ini. Dulu kamu sangat patuh pada mamah, tidak pernah melawan. Sekarang kamu seperti bukan Febby putriku. Sudahlah... terserah kamu mau apa. Mamah tidak akan ikut campur tapi mamah juga tidak mau tau kalau nanti kamu menyesal." Mamah Wina mengambil tas mahalnya yang ia taruh di sofa lalu berjalan keluar.
Febby hanya menatap kepergian mamahnya dengan tatapan nanar. Dia sadar kalau ia memang sudah berubah tapi ia merasa kalau perubahannya saat ini jauh lebih baik dari pada Febby yang dulu.
Maaf Mah, aku harap suatu saat nanti mamah bisa berubah juga.
Mamah Wina keluar dari ruangan itu dengan perasaan kesal.
Cihhh... kamu sudah berani sama mamah sekarang. Awas saja kalau kamu menyesal Feb. Mamah tidak akan mau menampung kamu lagi.
__ADS_1
Mamah Wina mengumpat anaknya sendiri.
Revan dan Rara yang sejak tadi menunggu pun langsung berdiri saat melihat seseorang keluar dari ruangan Mike. Mereka pun tersenyum pada mamah Wina sebagai bentuk rasa hormat mereka pada orang yang lebih tua.
"Kalian, untuk apa kalian ada disini. Apa kalian mau mentertawakan putriku, kalian senang kan hidup Febby sekarang begitu menderita. Dia harus menunggu laki-laki yang tidak tau mau bangun atau tidak," tuturnya pada Revan dan Rara.
"Maaf Tante, kami datang untuk menemui Febby sekaligus menghibur nya. Bukan seperti Tante yang hanya membuat Febby sedih," celetuk Revan yang tadi mendengar semua percakapan mereka yang memang sedikit keras.
"Apa maksudmu, kamu yang membuat Febby jadi seperti itu. Kalau saja kamu dulu tidak mencampakkannya, Febby tidak mungkin salah jalan seperti ini." Mamah Wina melampiaskan amarahnya pada Revan.
Rara menggenggam tangan suaminya agar tidak meladeni ucapan mamahnya Febby. Dia tidak ingin membuat keributan apalagi mereka ada di rumah sakit dan Rara juga tidak ingin menyakiti hati Febby.
"Kak, jangan sampai ribut. Kita masuk saja," bisik Rara.
"Maaf Tante, kami masuk dulu ke dalam. Permisi...," ujar Rara sopan. Mereka hendak pergi dari sana tapi tiba-tiba....
to be continue...
°°°
Hai hai hai... Selamat pagi, selamat beraktifitas. Jangan lupa sarapan 🤭🤭
Like komen dan bintang lima 😍
Gomawo ❤️❤️
__ADS_1