Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
162. Sadar


__ADS_3

°°°


Tanpa disadari juga jika seseorang ternyata sudah bangun dari tidurnya.


Revan sudah bangun sejak tadi tapi dia tidak bersuara.


Flashback


Aku melihat sebuah truk bergerak kearah mobil yang kami kendarai. Padahal jalanan begitu lengang tapi entah kenapa truk dari arah berlawanan tiba-tiba berbelok ke arah kami.


Aku berteriak ,"Mike awaass!!"


Aku melihat jelas Mike yang terlihat panik, ya aku pun sama. Hal ini di luar rencana kami.


Truk besar itu sudah menghantam mobil di depan kami. Mobil yang tadinya kami kendarai, tapi di tengah jalan tadi kami bertukar mobil. Tujuannya untuk mengelabuhi musuh karena takut ada yang mengikuti kamu. Tapi tidak disangka jika ada kejadian seperti itu dan kami tidak siap.


Aku melihat mobil didepan hancur dan terus terdorong ke belakang. Ke arah kami.


Aku mencoba membanting setir yang sedang Mike pegang, karena laki-laki itu mematung.


Aku membanting setir ke arah berlawanan atau ke kanan karena tidak ada mobil yang melaju disana. Tapi truk itu semakin dekat dengan cepat sudah ada di depan mata. Entah bagaimana, mobil yang kami tumpangi malah berbelok ke kiri dan ...


Brakkkk!!


Mobil ringsek yang terdorong truk menghantam mobil yang kami kendarai dan otomatis Mike duluan yang terkenal.


Aku teriak, sedangkan Mike sudah tidak sadarkan diri. Sementara truk itu terus melaju hingga mobil kami menghantam mobil yang ada di belakang kami.


Aku berusaha memutar kemudi dan menginjak pedal gas. Hingga mobil yang kami tumpangi berhasil bebas dari tabrakan beruntun itu. Tapi naas, karena gugup aku menabrak pohon besar di pinggir jalan.


Kepala ku terbentur, sekejap mataku menggelap tapi samar-samar aku melihat Mike yang sudah lebih dulu tak sadarkan diri.


"Bertahanlah Mike...," ujarku sebelum akhirnya aku ikut memejamkan mataku.


"Tolong kami... tolong... ," semua menggelap dan aku tersadar dari tidurku yang menyakitkan. Bayang-bayang kecelakaan itu menghantui ku sekaligus yang menyadarkan ku.


Aku melihat sekeliling, aku tau sekarang pasti aku ada di rumah sakit tapi kenapa tidak ada siapapun disampingku. Aku hampir saja memanggil nama istriku tapi kemudian aku mendengar suaranya. Rupanya istriku ada di balik korden.


Tunggu tapi kenapa dia menyebutkan nama Febby dan suara itu memang terdengar seperti Febby. Sedang apa wanita itu ada di kamar ku dan kenapa istriku terdengar begitu akrab dengan Febby.


Aku diam mendengarkan obrolan mereka, hingga suatu kenyataan yang mereka ucapkan membuat aku tau kalau Febby ada disini bukan untukku.

__ADS_1


Aku tetap diam karena sepertinya istriku sedang menghibur Febby karena Mike.


Tunggu, apa berarti Mike terluka parah. Bagaimana keadaannya sekarang, aku ingin melihatnya juga.


Tapi aku tahan rasa ingin tahuku. Aku tidak ingin menambah kesedihan Febby kalau melihat aku sadar duluan. Biarlah aku tunggu Rara mendekat saja baru aku bertanya.


Flashback end


Cukup lama Rara menemani Febby dengan terus menyemangati dan menghiburnya. Hingga ia lupa jika sudah meninggalkan suaminya sendirian.


Rara bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri suaminya karena katanya Febby mau kembali menemani assisten Mike.


Betapa terkejutnya Rara saat melihat mata sang suami sudah terbuka bahkan bibirnya pun tersenyum.


"Kak Revan sudah sadar," senang Rara.


"Apa ada yang sakit Kak? Bagian mana yang sakit, aku panggilkan dokter ya...," Rara sangat senang hingga tidak tau harus melakukan apa.


"Tunggu sayang," cegah Revan menggenggam tangan istrinya agar tidak pergi kemanapun.


"Aku panggilkan dokter dulu Kak, biar dokter kondisi memeriksa kakak terlebih dahulu," ujar Rara.


"Kak Revan mau minum?" Revan menggeleng.


"Aku ingin memelukmu, kemarilah..." Revan berusaha merentangkan kedua tangannya, tapi tangan kirinya sedikit retak dan masih sakit untuk di gerakan. "Aaww..."


"Apa sakit Kak, seharusnya kak Revan jangan banyak bergerak dulu." Rara melihat tangan yang menggunakan gips itu agar tidak banyak bergerak.


"Kalau aku tidak boleh banyak bergerak, berarti kamu yang memelukku saja," Revan tersenyum.


Tanpa menolak, Rara segera memeluk suaminya. Setetes air mata keluar begitu saja, membayangkan bagaimana jadinya kalau suaminya tidak selamat dalam kecelakaan itu.


"Terimakasih sudah membuka matamu lagi, Kak."


Revan tersenyum mendengarnya, tidak menyangka kalau sang istri akan begitu mengkhawatirkan dirinya.


"Aku sudah berjanji akan pulang, tentu saja aku harus menepati janjiku."


"Berjanjilah satu hal lagi, jangan membuat aku takut lagi lain kali," ujar Rara.


"Aku janji..." Revan mencium pipi Rara yang masih dalam pelukannya. Sementara hanya satu tangannya yang bisa memeluk sang istri.

__ADS_1


Tidak sengaja Revan melihat Febby yang sedang melihatnya juga. Revan akui Febby yang sekarang sangat berbeda saat dulu masih berpacaran dengannya. Wanita itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya, lalu kembali menghilangkan di balik korden.


Revan tau maksudnya, dia tidak ingin mengganggu dirinya dan sang istri yang sedang melepas rindu.


Kau sudah banyak berubah, aku ikut senang mendengar kau sudah menemukan orang yang tepat. Aku harap Mike segera bangun dan kembali bersamamu. Aku tau sekarang apa yang membuat Mike bekerja begitu keras agar bisa cepat pulang, tapi sayangnya perjalanan kami tidak semulus yang dibayangkan.


Kakek pasti sudah mengurusnya untuk kita Mike, kau cepatlah sadar.


Revan memandang ke samping kirinya, dimana tubuh Mike ada di sana.


Rara melepaskan pelukannya setelah puas melepaskan kerinduannya, ia takut menyakiti tubuh suaminya jika terlalu lama.


"Aku mau memberitahu kakek dulu Kak," ujar Rara.


"Tunggu, siapa yang mengijinkanmu pergi," Revan menahan istrinya lagi.


"Tapi aku harus memberitahu kakek kalau kak Revan sudah sadar," tutur Rara, menatap suaminya bingung.


"Mendekatlah..." perintah Revan.


Rara pun mendekatkan wajahnya karena mengira suaminya mau membisikkan sesuatu.


"Lebih dekat lagi."


Rara menurutinya walaupun terlihat aneh karena sekarang wajah mereka sangat dekat, dekat dan dekat hingga Revan mampu meraih bibir sang istri.


Tanpa ada penolakan Rara menerima apa yang suaminya lakukan padanya. Karena jujur dirinya juga sangat merindukan sang suami. Saling memejamkan mata dan menikmati setiap gerakan dan kehangatan. Sepasang suami istri itu sampai lupa jika diruang itu bukan hanya mereka berdua.


Febby yang mau menyapa Revan dan bertanya mengenai apa yang terjadi pada Revan dan Mike membelalakkan matanya, saat melihat adegan di depannya.


Ihss... Kalian ini tidak punya perasaan, membiarkan aku yang sendirian melihat adegan seperti itu. Kesal Febby yang sudah kembali duduk di samping Mike.


to be continue...


°°°


Yak😂 Febby iri jadinya kan, gara-gara pasutri itu. Sabar ya Feb, tunggu Mike sadar nanti kamu bisa sepuasnya 🤭🤭🤭


Like komen dan bintang lima 😍😍


❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2