Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
179. Bertemu Calon Mertua


__ADS_3

°°°


Lia terus berpegangan pada Sakka dengan erat saat akan memasuki rumah besar itu. Degup jantungnya semakin berdebar kencang saat kakinya mulai menapaki lantai marmer yang menjadi alas rumah itu.


"Ayo kita masuk," ujar Sakka seraya memberikan usapan lembut di tangan Lia, meyakinkan dia kalau tidak akan terjadi apa-apa. Percayalah.


Mereka mulai memasuki rumah itu, para pelayan sudah siap menyambut kedatangan mereka dengan membungkukkan tubuhnya. Lia merasa risih di perlakukan seperti itu, dia merasa belum pantas mendapat penghormatan dari mereka.


Berjalan lebih dalam menyajikan kemegahan rumah yang menghipnotis Lia sejenak, dari lantai hingga langit-langitnya semuanya mewah.


Apa ini rumah? Indah sekali...


"Kau suka dengan rumah ini?" tanya Sakka membuyarkan lamunan Lia.


"Rumah ini sangat indah, aku seperti sedang di negari dalam dongeng. Kenapa kamu lebih memilih tinggal di apartemen kalau punya rumah sebagus ini," heran Lia, kalau dia pasti betah lama-lama di rumah.


"Kalau sudah ada kamu di rumah, aku pasti juga betah disini," seloroh Sakka yang lagi-lagi hampir mendapat pukulan tapi kali ini dia bisa menepisnya. "Tidak kena, sayang."


Ternyata sejak tadi ada yang melihat interaksi mereka diam-diam. Sang ayah ikut senang melihatnya, dia bersyukur putranya telah menemukan wanita yang tepat dan bisa membuatnya berhenti dari dunianya yang salah. Dari dulu beliau berharap agar putranya tak mengikuti jejaknya, sang ayah tidak pernah mencoba melarangnya karena beliau sendiri juga sama tapi sekarang sudah ada orang yang bisa mengatur anaknya.


"Selamat datang di rumah ini," sambut ayah Bayu dengan tersenyum lebar.


"Lihat, itu ayahku. Ingat, tidak usah terlalu dekat dengannya," bisik Sakka.


"Bocah tengil, apa yang kamu katakan pada calon menantu ayah. Jangan dengarkan dia nak, sini kemarilah...," ujar ayah Bayu menyuruh Lia agar mendekat. Sementara Sakka memutar bola matanya jengah melihat ayahnya sok ramah, padahal biasanya kalau bertemu dengannya pasti marah-marah bisanya.


Untuk menghormati ayahnya Sakka, Lia pun mendekat dan mencium tangan ayah Bayu.


"Malam paman, perkenalkan nama saya Lia paman." sapa Lia seraya tersenyum lembut dan bersikap sopan.


"Kau cantik sekali, lebih cantik aslinya dari pada di foto. Beruntung sekali bocah tengil itu mendapatkan kekasih sebaik kamu," sindir ayah Bayu seraya melirik putranya.


"Paman bisa saja, aku yang beruntung karena paman sudah mau menerima kedatangan ku." Lia berkata dengan lembut lagi, bak wanita bangsawan yang sedang menemui tamu. Membuat Sakka sedikit tergelitik karena biasanya Lia sangat cerewet dan bersuara cempreng.

__ADS_1


"Sudah, sudah... katanya mau makan malam, aku sudah lapar." Sakka mengakhiri sesi perkenalan calon mertua dan menantu itu karena kalau diteruskan pasti akan lama jadinya.


"Ohh iya ayah sampai lupa karena terlalu senang bisa bertemu dengan calon menantu ayah. Mari nak, kita makan dulu. Setelah itu kita lanjut mengobrol." Ayah Bayu mempersilahkan Lia untuk makan malam. Makan malam perdana bersama calon mertua.


"Sayang apa kamu tidak lelah terus tersenyum seperti itu," ledek Sakka.


"Apa si kamu, aku kan sedang berusaha menampilkan kesan yang baik di mata paman. Kamu bukannya mendukung malah meledak." Lia di buat kesal oleh sikap Sakka.


"Tidak usah berlebihan, natural aja Lia sayang. Ayah lebih suka yang santai jadi tidak perlu kaku dihadapan ayah. Ayo kita makan." Sakka menggandeng tangan wanitanya untuk menuju ke meja makan.


Di atas meja makan sudah tersedia berbagai macam menu makanan. Ayah Bayu sengaja menyuruh koki untuk memasak itu semua karena beliau tidak tau apa yang di sukai calon menantu nya.


"Duduklah nak," ujar ayah Bayu yang sudah lebih dulu duduk di ujung sebagai kepala keluarga.


Sakka menarik kursi untuk Lia, setelah itu dia duduk di samping kekasihnya.


"Mari makan, tidak perlu sungkan padaku. Anggap saja rumah sendiri... paman tidak tau apa yang kamu suka. Pilihlah makanan yang kamu suka, kalau tidak ada yang cocok kamu katakan saja." Ayah Bayu sangat antusias, sudah lama rasanya dia selalu makan sendiri. Rasanya sangat menyenangkan ketika ada yang menemani makan.


"Terimakasih paman, anda baik sekali. Aku tidak terlalu pemilih makanan, apa saja bisa aku makan," ujar Lia. Dia jadi malu karena dia datang tidak membawa apa-apa untuk calon mertuanya tapi di rumah itu dia disambut dengan sangat baik.


"Iya paman," jawab Lia tapi mana mungkin dia makan banyak. Dari kemarin dia sudah banyak melihat tata cara bertata Krama yang baik saat berkunjung ke rumah calon mertua, Lia banyak melihat di Internet dan YouTube bagaimana cara orang kaya makan sampai tersenyum.


"Sayang, ambilkan aku ayam," pinta Sakka yang ingin bermanja pada kekasihnya, Lia pun mengambilkan apa yang Sakka minta.


"Ini, apa ada lagi?" tanya Lia.


"Ini saja, terimakasih calon istri ku...," Sakka sungguh membuat Lia tersipu dengan panggilan itu.


"Sudah, kau makan saja sendiri nak. Tidak usah pedulikan dia, biasanya juga dia tidak suka makan di rumah dan membiarkan ayahnya kesepian." Ayah Bayu sepertinya sangat ingin menjelaskan putranya sendiri.


"Ayah bicara apa sih, aku tidak betah di rumah kan karena ayah yang selalu membawa wanita-wanita itu ke rumah. Aku mana mau melihat ayah bermesraan dengan para wanita itu." Sakka tidak mau kalah.


"Ayah kan hanya kesepian, kalau nanti sudah ada kalian disini dan ada cucu-cucu yang menemani. Ayah tidak akan membawa mereka lagi."

__ADS_1


"Baguslah kalau ayah sadar, kalau sampai itu terjadi. Aku dan Lia lebih baik tinggal di luar." Sakka memperingati ayahnya.


Lia yang mendengar keributan kecil itu justru merasa senang, karena ia merasa mereka sebenarnya saling menyayangi tapi mungkin caranya memang seperti itu.


Puas menyantap makan malam, kini mereka bertiga duduk dan mengobrol di ruang tamu. Sebenarnya Sakka ingin mengajak Lia langsung pulang tapi sang ayah menahannya.


"Jadi bagaimana, kapan kalian akan menikah?" tanya ayah Bayu.


"Secepatnya Yah, ayah siapkan saja pestanya."


Jawab Sakka tanpa bertanya pada Lia terlebih dahulu.


"Apa kalian sudah membicarakannya? Ayah si senang saja kalau kalian segera menikah tapi ayah tidak ingin kalau salah satu dari kalian ada yang terpaksa," ujar ayah Bayu yang melihat Lia tidak setuju dengan jawaban Sakka.


"Bagaimana Lia apa kamu mau menikah secepatnya?" tanyanya kemudian pada Lia.


"Tentu saja Lia mau," serobot Sakka.


"Biarkan Lia yang menjawab." Ayah Bayu melemparkan sebuah bantal kursi ke putranya.


"Emm... saya sebenarnya ingin menyelesaikan kuliah lebih dulu paman, tapi kalau menikah dulu juga tidak apa-apa. Nanti bisa sambil kuliah kalau Sakka mengijinkan."


Sakka lega mendengar jawaban Lia, dia kira kekasihnya akan memintanya menunggu hingga lulus kuliah.


to be continue...


°°°


Makasih ya yang masih setia membaca cerita ini. Walaupun cuma beberapa orang saja yang baca tapi othor senang. Apalagi baca komentar kalian yang bikin semangat buat up. 🤗🤗


Sehat-sehat ya semua, semoga yang sedang sakit juga segera sehat kembali.


Like komen dan bintang lima 😍

__ADS_1


Gomawo ❤️❤️❤️


__ADS_2