
°°°
Setelah beberapa jam menyelesaikan tugas dan membagi bagian masing-masing akhirnya mereka berempat selesai juga.
Mereka merapikan buku catatan dan laptop masing-masing, lalu memasukkan nya ke dalam tas mereka.
"Kamu yakin pilih Bima buat presentasi besok?" bisik Lia pada Sakka.
"Tenang saja, kalau soal urusan tugas dia selalu menyelesaikannya dengan baik." Sakka mengerlingkan sebelah matanya.
Sementara Lia masih tidak begitu yakin dengan pilihan kekasihnya. Tadi dia sudah mengusulkan biar Rara saja yang presentasi tapi Sakka malah menyuruh agar Bima saja dan Rara pun setuju.
"Ra, kenapa si kamu setuju kalau patung es itu yang presentasi. Kamu tau sendiri kalau dia tidak banyak bicara dan sepertinya juga kurang mengerti tentang apa yang kita kerjakan." Sekarang Lia berbisik pada Rara yang sedang mengirim pesan pada suaminya kalau dia sudah selesai.
"Bukankah Sakka berteman dengannya sejak SMA jadi tidak ada salahnya mempercayainya. Lagian dia sepertinya tidak separah yang kamu bilang Li. Dia memang diam tapi kalau kita ada salah tadi dia langsung menggeleng," ujar Rara yang memang tipe orang yang tidak pernah berprasangka buruk pada orang lain.
"Iya Ra, aku paham tapi ini tugas juga masuk nilai akhir semester kita. Aku takut dia tidak melakukannya dengan baik," takut Lia.
"Tenang saja Li, kita kan ada di sana. Kalau tiba-tiba dia tersendat kita bisa menggantikan nya," saran Rara meyakinkan temannya.
"Ya sudah deh, aku setuju dengan kalian. Tapi kalau ada apa-apa kita harus cepat mengambil alih," setuju Lia pada yang lain.
Rara pun mengangguk setuju.
Sampai di parkiran restoran itu. Mereka sudah bersiap untuk pulang.
"Rara, kamu beneran tidak usah kami antar?" tanya Lia saat mereka sudah berada di dekat mobil.
"Iya Li, kak Revan mau datang menjemput ku. Dia sudah ada di jalan, jadi tidak usah cemas lagi." Rara meyakinkan temannya agar tidak perlu cemas.
"Sayang ayo naik," ajak Sakka yang sudah masuk duluan ke dalam mobil.
"Sebentar yank, aku temani Rara dulu sampai kak Revan datang ya. Kasian dia menunggu sendiri," pinta Lia. Nyatanya dia mana tega membiarkan wanita secantik Rara harus menunggu sendiri, pasti nanti banyak lalat yang mengganggu.
"Tidak usah Li, kan aku yang jadi tidak enak. Kamu pulang saja, aku akan menunggu dia halte depan," ujar Rara seraya mendorong tubuh Lia agar segera masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Eh... eh... Rara. Kenapa aku didorong," protes Lia. "Aku kan cuma mau temenin kamu, bahaya kalau menunggu sendiri Ra," ujarnya lagi.
"Iya sayang ku... aku tau makanya aku pilih tempat yang ramai. Di sana banyak orang yang sedang menunggu bis jadi tidak usah khawatir." Rara sudah berhasil menutup pintu mobil itu.
"Makasih traktirannya hari ini Sak, kalian hati-hati di jalan. Dadah...," Rara melambaikan tangannya seraya berjalan menjauh. Kalau tetap disana pasti Lia akan berubah pikiran lagi.
"Dasar Rara, teman tidak setia kawan," kesal Lia karena tidak diijinkan untuk menemani Rara.
"Jangan ngambek gitu yank, kamu jadi makin imut," seloroh Sakka seraya tersenyum gemas.
Sementara Lia hanya melirik sekilas lalu lebih memilih untuk memandang keluar jendela.
"Siapa yang menjemputnya?" tanya Bima tiba-tiba.
"Kenapa bro, apa kamu tertarik pada Rara. Aku peringatkan nih ya, lebih baik kamu batasi perasaan kamu mulai sekarang sebelum terlambat." Sakka memperingati Bima. Walaupun raut wajah pria itu datar dan seperti patung es tapi Sakka bisa melihat kalau di mata Bima menyimpan kekaguman pada Rara.
Bima tidak menghiraukan perkataan Sakka, dia tetap diam dan memandang lurus ke depan.
Sementara Lia dibuat heran dengan pernyataan sang kekasih barusan. Yang mengatakan kalau patung es itu menyukai Rara. Dari mana Sakka bisa menebak isi hati patung es itu. Wajahnya saat senang, sedih, lapar dan kenyang saja sama ekspresinya.
Bagian mananya yang mengatakan kalau Bima suka Rara. Sakka pasti mengada-ada.
,,,
Kenapa kak Revan belum sampai juga. Apakah masih macet.
Hari sudah mulai mendung dan sudah tidak banyak lagi orang yang ada di halte itu seperti tadi. Rara mulai cemas apalagi saat nomor suaminya tidak bisa dihubungi.
Benar saja, suara petir mulai terdengar bersamaan dengan angin yang bertiup kencang. Langit pun sudah menghitam seluruhnya dan hujan mulai turun perlahan hingga semakin deras.
"Ya ampun hujan, bagaimana ini. Apa aku naik taksi saja, tapi dari tadi juga tidak ada taksi lewat. Mau naik bis, aku tidak tau kemana pemberhentian nya."
Satu-satunya yang bisa Rara lakukan hanya menunggu suaminya datang.
,,,
__ADS_1
Di jalan.
Revan berusaha semaksimal mungkin mengendarai mobilnya untuk segera sampai di tempat sang istri berada. Namun, sayang perbaikan jalan membuat antrian panjang kendaraan.
Revan meraih ponselnya untuk memberi kabar pada sang istri kalau macetnya seperti nya akan lama tapi ternyata ponselnya kehabisan baterai.
"Kenapa harus mati sekarang, ya Allah bagaimana ini. Mana mendung lagi, kasian sekali istriku pasti sudah menunggu sejak tadi."
Baru kali ini rasanya macet itu sangat mengesalkan. Revan berulangkali menanyakan pada yang mengatur jalan agar segera dibuka bergantian, tapi memang tidak memungkinkan untuk lewat sekarang.
Hujan... ya ampun. Rara pasti kedinginan menunggu. Aku harus cari jalan lain, sepertinya ada meski lumayan agak memutar.
Setelah berusaha keluar dari macet dan berbalik arah. Revan pun mempercepat laju mobilnya di bawah guyuran hujan lebat. Kaca depan mobilnya bahkan sampai mengembun dan mengganggu pandangan.
Pada akhirnya Revan menurunkan kecepatannya karena hujan yang bertambah lebat. Dia tidak mau mengambil resiko dan malah tidak bisa menemui istrinya.
Beberapa saat kemudian akhirnya Revan sampai juga di kawasan restoran yang Rara sebutkan. Dia melihat sekeliling dan mencari letak halte karena katanya tadi sang istri menunggu di sana.
"Di mana Rara, apa dia sudah pulang?"
Revan tidak menemukan istrinya dimana pun, dia mulai panik. Takut terjadi apa-apa dengan sang istri tercinta nya. Tanpa menunggu lama dia pun turun dari mobil dengan menggunakan payung yang selalu ia bawa.
"Rara... sayang... di mana kamu?" teriak Revan di bawah guyuran hujan lebat. Pastilah suaranya tidak begitu terdengar.
Di mana kamu sayang. Jangan membuatku takut, apa kau sedang berteduh di suatu tempat.
Karena terlalu panik Revan sama sekali tidak berpikir untuk mencharger ponselnya yang mati. Padahal dengan benda itu, dia bisa mengetahui di mana istrinya.
to be continue...
°°°
Rara kemana kira-kira ya...
Terimakasih yang masih setia disini. Kalian luar biasa 😍
__ADS_1
Like komen dan bintang lima 😍
Gomawo ❤️❤️