
°°°
Sementara di rumah sakit, hari ini Febby sudah diijinkan pulang karena keadaannya sudah membaik setelah kejadian pingsan dikamar mandi. Sampai saat ini Febby merasa tubuhnya sudah sangat pulih, apalagi saat berada di dekat sang ayah dari anaknya.
Saat ini ia sedang menunggu kedatangan pria yang sudah ia ketahui namanya tadi pagi. Ya namanya Mike, Febby tersenyum gemas mengingat namanya.
"Nama ayahmu lucu sekali, aku bisa memanggilnya Miky...," ujarnya berbicara pada janin yang ada di perutnya.
"Sudah semuanya Nona, apa anda perlu yang lain?" ujar suster yang baru saja selesai membereskan barang-barang Febby.
"Tidak sus, kau bisa keluar jika sudah selesai," ujar Febby seraya tersenyum manis.
Sang perawat pun lalu undur diri, tapi sebelumnya ia sempat terpana pada kecantikan Febby yang sangat berbinar. Aura kebahagiaan menambah kecantikannya.
Untunglah saat ini sikap Febby tidak seperti dulu, Febby yang angkuh dan sombong seolah telah lenyap begitu saja saat tumbuh janin di perutnya. Mungkin kehadiran anaknya itulah yang perlahan mengikis sifat buruknya. Apapun itu Febby nyaman dengan sikapnya yang sekarang.
Febby duduk di dekat jendela, memandang cerahnya langit kala itu. Dia memikirkan perilakunya yang kemarin-kemarin, ia malu pada dirinya sendiri.
Tanpa disadari seseorang bertubuh tinggi datang ke ruangan itu, dilihatnya wanita yang sedang melamun sendirian. Terlihat sekali jika wajahnya sangat kesepian dan banyak beban, karena itulah Mike mengiyakan permintaan Febby yang ingin segera keluar dari rumah sakit.
"Kau sudah siap?"
Suara Mike mengagetkan Febby, wanita itu melengkungkan senyumnya. Entah itu bawaan bayinya atau dari dia sendiri, tapi setiap melihat pria itu rasanya sangat bahagia dan ingin segera berlari ke pelukannya.
"Sudah," jawab Febby seraya mengangguk.
"Mau pulang sekarang?" tanya Mike lagi.
Febby pun mendekat dan mengulurkan tangannya, "Ayo kita pergi."
Meski bingung dengan sikap Febby yang tiba-tiba berubah, Mike tetap menerima uluran tangan itu. Tangan satunya digunakan untuk membawa tas milik Febby.
Kini kedua orang itu sudah ada di mobil, yang Mike kendarai sendiri.
"Apa ada yang kamu ingin makan?" tanya Mike penuh perhatian.
Febby tampak berpikir, lalu ia melihat gerobak makanan yang menjual cimol di pinggir jalan. Seketika air liurnya sudah memenuhi mulutnya saat melihat para anak-anak sedang memakan jajanan itu.
__ADS_1
"Aku mau itu," tunjuk Febby pada orang yang sedang berjualan cimol.
Mike pun segera menepikan mobilnya, tidak ingin sampai anaknya ileran ia berjanji akan memenuhi setiap permintaan Febby jika memang ia sanggup.
"Kamu tunggu disini, biar aku saja yang belikan," ujar Mike yang begitu menjaga Febby. Kesehatannya baru saja membaik, laki-laki itu tidak ingin kesehatan Febby kembali memburuk.
"Terimakasih Miky," ujar Febby tanpa sadar ia memanggil nama Mike dengan sebutan Miky.
Awalnya Mike menyerngitkan dahinya saat mendengar panggilan aneh itu disematkan untuknya. Tapi kemudian ia tersenyum mengingat jika itu seperti panggilan khusus dari Febby untuknya.
Mike sempat mengacak rambut Febby sebelum ia keluar dari mobil, lalu ia menghampiri tukang cimol yang tadi diinginkan wanita itu.
"Satu porsi berapa bang?" tanya Mike.
"Satu porsi lima ribu, mau beli berapa?" tanya kang cimol.
Lima ribu, masih ada makanan lima ribuan. Pikir Mike. Dia jadi bingung mau beli berapa, dan tidak tau Febby mau rasa yang apa. Pada akhirnya dia memborong cimol dengan beberapa varian rasa.
"Bungkusin rasa yang beda-beda ya bang," ujar Mike.
Mike pun menunggu, diantara kerumunan anak-anak dan para orang tuanya. Wajah Mike yang sedikit blasteran membuat para ibu-ibu memandanginya.
Mike hanya tersenyum kecil pada orang-orang yang sedang melihatnya.
Sementara di dalam mobil Febby sangat terhibur dengan pemandangan didepannya, dimana Mike sedang membelikan jajanan untuknya dengan dikerumuni ibu-ibu.
Lucu sekali wajahnya...
Ihh itu emak-emak ngapain si genit begitu sama Miky.
Terkadang Febby tersenyum lalu kesal, tergantung pada apa yang ia lihat.
"Ini, makanlah." Mike menyerahkan jajanan yang tadi ia beli. Febby pun menerimanya dengan wajah berbinar.
Tidak terasa Febby hampir menghabiskan semua cimol yang dibeli oleh Mike. Padahal laki-laki itu pikir Febby hanya akan memakan salah satu rasa, tapi ternyata semuanya di lahap.
"Apa kau kuat menghabiskan semuanya?" tanya Mike.
__ADS_1
"Iya, makanan seperti ini sama sekali tidak membuat kenyang. Lihatlah kalau dipencet kempes begini." Febby menunjukkan bagaimana cimol itu bisa menciut, tidak sebesar kelihatannya.
Mike pun ber-oh ria, jujur dia tidak tau sama sekali tentang makanan seperti itu. Walaupun dulu ia pernah hidup susah dia bahkan tidak pernah membeli jajanan seperti itu. Entah apa yang ia makan.
"Kita mau kemana? ini bukan jalan ke rumahku?" tanya Febby menatap bingung pada laki-laki tampan di sampingnya.
"Kita akan pulang ke rumahku," jawab Mike. Kenapa ia memilih untuk membawa Febby pulang kerumahnya, jawabannya sederhana dia hanya ingin lebih banyak waktu untuk menjaga wanita itu. Karena jika Febby pulang kerumahnya sendiri, tidak tau apakah ia akan sempat berkunjung mengingat jaraknya yang cukup jauh dari kantor.
"Kau tidak apa-apa kan, jika pulang ke rumahku?" tanya Mike karena sejak tadi Febby tidak bereaksi apa-apa.
"Aku tidak masalah, karena tidak ada yang akan mengkhawatirkan ku jika tidak pulang sekalipun," lirihnya.
"Tapi bagaimana dengan keluargamu, apa yang akan kamu jawab jika mereka bertanya siapa aku?" entah kenapa Febby ingin tau apa yang akan Mike katakan di depan keluarganya. Dan sejujurnya ia berharap laki-laki itu memperkenalkannya sebagai pasangan.
"Aku sudah tidak punya siapapun," jawab Mike membuat Febby menatap bingung.
"Orang tuaku sudah tidak ada," jelasnya. Dia tidak ingin Febby mengetahui masa lalunya yang begitu kelam, cukup tau Mike yang sekarang saja.
"Ohh... maaf aku tidak tau," Febby merasa bersalah karena telah mengungkit orang yang sudah tidak ada.
"Tidak apa-apa, sekarang sudah ada kalian di hidupku." Pernyataan Mike sontak membuat Febby merasa dihargai dan diingini. Baru kali ini ada orang yang menghargai keberadaannya dan menginginkan kehadirannya.
Tidak menyangka jika orang itu adalah Mike, laki-laki yang bahkan tidak ia kenal dan di pertemuan dengan cara yang tidak biasa. Mungkin bisa disebut kesalahan, awalnya kesalahan semalam tapi bagi Mike adalah itu adalah awal perubahan dalam hidupnya.
to be continue...
Neng Febby sudah berubah tuh, jangan dihujat lagi ya...
°°°
...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....
...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....
...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....
...Sehat selalu pembacaku tersayang...
__ADS_1