Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
170. Pergerakan Mike


__ADS_3

°°°


Mamah Wina masuk ke dalam ruangan rawat Mike.


"Sayang, tadi mamah lihat Revan sudah boleh pulang," ujarnya pada Febby.


"Iya mah, Revan sudah lebih baik jadi boleh pulang." Febby sedang membereskan sisa makannya, setiap hari bi Ida rutin membawakan makanan untuknya.


"Apa kamu tidak bosan disini terus, mau sampai kapan kamu nungguin dia sadar." Mamah Wina duduk di samping Febby.


"Aku akan menunggu sampai kapanpun Mike sadar Mah," tegas Febby.


"Sayang... mamah hanya kasihan padamu kalau harus menghabiskan waktu di rumah sakit seperti ini," ujar mamah Wina yang tidak ada habisnya mengompori Febby agar meninggalkan Mike.


Febby bangun dan tidak menghiraukan ucapan mamahnya. Sudah lelah rasanya kalau harus ditambah memikirkan ucapan mamahnya.


"Mamah kesini mau apa, kalau cuma mau membujuk aku. Sebaiknya mamah pulang ke rumah atau mamah bisa pergi bersenang-senang lagi dari pada membuang waktu disini." Febby masuk dalam kamar mandi.


"Bukan begitu nak, mamah ingin nemenin kamu disini tapi kalau kamu tidak suka mamah ada disini mamah akan pergi," ujar mamah Wina dengan nada kesal.


Febby diam tidak menyahut lagi, dia tidak ingin berdebat dengan ibunya sendiri. Biar bagaimanapun mamah Wina adalah wanita yang telah melahirkannya.


Sementara mamah Wina bangun dari duduknya dan berjalan ke sisi ranjang. Memperhatikan Mike yang masih terpejam dengan alat-alat medis yang menempel di tubuhnya.


Kalau saja kamu bukan orang kaya, aku pasti sudah menyeret Febby pergi dari sini dan menikah dengan pria kaya. Tapi karena kamu masih berguna untuk ku, aku akan membiarkan Febby disini.


Lalu mamah Wina pergi dari ruangan itu, ya sebenarnya kedatangannya ke sana hanya ingin menarik simpati putrinya semata dan membujuk nya untuk pergi tapi sang putri sama sekali tidak mau mendengarkan nya.


Setelah mendengar suara pintu terbuka, Febby pun keluar dari kamar mandi. Menyembulkan kepalanya untuk melihat kalau sang mamah sudah benar-benar pergi.


Fyuuuhhh... Febby menghela nafasnya.


Kalau orang lain pasti senang kalau ditemani mamahnya, tapi apa yang Febby rasakan justru tidak nyaman. Lebih baik dia sendiri, dia juga tidak ingin Mike mendengar semua ucapan mamahnya yang keterlaluan.


"Bagaimana mungkin aku meninggalkan mu, hanya kamu yang mau menerimaku saat tidak ada seorang pun yang peduli padaku. Kamu memperlakukan dengan begitu berharga."


Febby menggenggam tangan Mike dan sedetik kemudian dia begitu terkejut saat merasakan ada pergerakan yang dirasakan tangannya.


"Miky... kau mendengar ku. Mike bangunlah kalau kau mendengar ku," pekik Febby seraya mengguncang pelan tangan Mike tapi semua itu bagai mimpi karena tidak ada lagi sahutan tak ada pergerakan.


"Aku harus memanggil dokter...," ujar Febby seraya menghapus air matanya yang terharu karena merasakan pergerakan dari jari tangan Mike.


Febby berlari keluar dari ruangan itu dan mencari dokter.

__ADS_1


"Dokter... dokter...!!" Seru Febby dengan sedikit panik.


"Iya nona ada yang bisa saya bantu," jawab dokter yang mendengar panggilan dari Febby.


"Dokter, tolong lihat Mike ku, tadi dia bergerak Dok. Tadi jarinya bergerak, aku melihatnya bergerak Dok." Febby antusias memberitahu dokter.


"Baiklah Nona, anda tenang dulu. Saya akan melihatnya," ujar dokter itu seraya mengambil perlengkapannya.


"Iya cepatlah Dok," ujar Febby.


Di dalam ruangan.


Febby dengan setia menunggu Dokter yang sedang memeriksa keadaan Mike. Dalam hatinya Febby terus berharap agar ada kabar baik yang ingin ia dengar.


"Bagaimana Dok, apakah dia akan segera sadar?" tanya Febby begitu dokter selesai memeriksa Mike.


"Sebenarnya saya tidak melihat ada tanda-tanda kalau tuan Mike akan sadar, tapi kalau memang benar tadi nona merasakan jarinya bergerak mungkin itu suatu pertanda yang baik." Dokter itu sebenarnya tidak ingin mematahkan kebahagiaan Febby yang tadi sangat senang melihat Mike bergerak tapi dia harus mengatakan hasilnya.


Febby terdiam, mungkin bukan itu yang ingin ia dengar dari sang dokter tapi pergerakan yang ia rasakan tadi sungguh nyata.


"Baiklah Dok, terimakasih," ujar Febby membungkukkan sedikit tubuhnya.


"Sama-sama Nona, saya permisi dulu. Anda jangan bersedih, percayalah kalau keajaiban pasti ada. Mungkin tadi tuan Mike mau menyampaikan sesuatu hal pada nona, hingga dia bergerak. Anda bisa terus merang*sang syaraf-syaraf otaknya." Dokter itu memberikan pesan.


Mungkin benar apa kata dokter, mungkin Mike juga merasakan kesedihan yang aku rasakan hingga dia merespon ku.


"Terimakasih Mike, aku tau kamu mendengarku."


,,,


Di dalam mobil.


Revan dan Rara masih dalam perjalanan pulang. Rara senang akhirnya sang suami di perbolehkan pulang juga. Senyaman apapun fasilitas rumah sakit masih tetap nyaman rumah sendiri.


"Sayang, aku ingat waktu aku mau berangkat ke luar kota. Kamu meminta tolong padaku, lalu bagaimana keadaan temanmu," ujar Revan.


Ahh ya hampir lupa, karena terlalu sibuk mengurusi suami. Rara sampai lupa untuk mencari tau lagi tentang temannya yang sampai sekarang belum ada kabar.


"Astaghfirullah... aku lupa kak. Lia sudah pulang waktu itu dan sampai sekarang belum ada kabar. Aku sebenarnya mau membicarakan ini pada kak Revan kalau kakak sudah pulang tapi karena ada insiden kecelakaan jadi aku lupa." Rara merasa sangat bersalah pada temannya, bagaimana kalau Lia disana butuh bantuan.


Revan menggenggam tangan istrinya yang terlihat cemas.


"Apa sampai sekarang dia tidak ada kabar sama sekali?" tanya Revan.

__ADS_1


"Iya kak, aku sama sekali tidak bisa menghubunginya. Katanya waktu itu sudah ada yang membantu tapi aku masih khawatir kak."


"Tenanglah, nanti aku akan menyuruh orang untuk mencari tau. Kamu jangan khawatir lagi, kita akan mengetahui keadaannya sebentar lagi," ujar Revan membawa istrinya ke dalam pelukannya.


"Benarkah, terimakasih Kak." Sedikit lega karena sang suami yang tentunya masih banyak masalah yang harus ia hadapi tapi masih mau membantunya.


Dering ponsel memaksa Rara melepaskan diri dari pelukan sang suami.


"Sebentar kak, aku angkat telepon dulu."


Revan pun mengangguk dan memberikan istrinya waktu untuk mengangkat panggilan telepon.


Rara mengambil ponselnya yang ada di dalam tas, lalu matanya membulat melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Segera Rara menggeser tombol hijau.


"Assalamualaikum Lia..." Rara begitu senang temannya akhirnya menghubungi nya lagi.


"Lia kamu dimana, kenapa tidak ada kabar? Bagaimana dengan masalah panti apa sudah selesai, kak Revan sudah pulang dan dia mau membantu." Rara memberondong temannya dengan pertanyaan.


"....."


"Apa, kamu akan segera kembali ke Jakarta? Benarkah, kapan?"


"...."


"Alhamdulillah aku senang mendengarnya kalau begitu, syukurlah rumah anak-anak panti tidak jadi digusur."


"...."


"Wa'alaikumsalam, sampai ketemu lagi di Jakarta."


Rara akhirnya bisa bernafas lega. Segala permasalahan temannya sudah selesai dengan baik.


to be continue....


°°°


Yahh... kirain Mike mau bangun, kok gak jadi.


Dannn Siapa yang nolongin Lia nih kira-kira...


Like komen dan bintang lima 😍😍


❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2