
°°°
Mike terus menemani wanita yang saat ini kembali tergeletak lemah di atas ranjang rumah sakit. Tangannya tak pernah lepas menggenggam tangan Febby. Untung saja tidak ada yang terjadi pada ibu dan janinnya, jika tidak entah bagaimana murkanya Mike saat ini.
"Kenapa kau membuat Mamah mu kesusahan nak," ujarnya seraya memandang perut yang sampai saat ini masih datar.
"Kasihanilah Mamah mu, jadilah anak yang baik di dalam sana. Jangan menyusahkan apalagi merepotkan mamah. Kau tenang saja meski mamahmu tidak menginginkan mu, ada ayah yang menyayangi mu dan akan menjagamu."
"Baik-baiklah di perut mamah, jangan biarkan dia kesakitan lagi."
cup
Kali ini Mike mencium perut itu dengan lembut, memberikan usapan dan kehangatan yang mengalir dalam darah Febby yang masih terlelap.
Tanpa disadari, perlakuan lembut Mike ternyata telah merangsang alam bawah sadar Febby. Dia bisa merasakan hangatnya sentuhan Mike dan bagaimana rasanya dikhawatirkan.
Dalam ketidaksadaran nya Febby melihat seorang anak kecil datang padanya dengan berlari kecil, senyum pun mengembang di wajah anak kecil itu. Namun, senyum itu kian memudar saat anak itu sampai tepat didepan matanya. Senyumnya yang begitu menggemaskan berganti dengan raut wajah yang penuh akan kekecewaan.
"Kenapa Mamah membuangku dan tidak menginginkan ku, apa salah dan dosaku. Apa aku tidak pantas menjadi anakmu mah..." Katanya dengan menatap Febby yang mematung.
"Kau siapa...?" tanya Febby pada anak itu.
"Aku anakmu Mah, darah dagingmu. Aku yang sudah kau buang dengan tanpa perasaan." tatapan kekecewaan itu kini berganti dengan mata merah penuh amarah.
"Tidak itu tidak mungkin, bukankah kau sudah mati..." ujar Febby dalam mimpinya.
"Aku tidak akan mati, aku akan selalu menghantui hati dan pikiranmu Mah. Hahahaha..." Tawa itu begitu menakutkan, bahkan Febby pun mundur perlahan.
Tapi anak itu kembali mendekati Febby dengan tawa yang terus ada di wajahnya.
"Tidak jangan mendekat... aaa...."
"Aa.... tidak..." teriak Febby tersadar dari pingsannya.
Mike yang mendengar Febby berteriak pun segera mendekat dan mencoba membangunkannya.
"Febby, bangunlah. Kenapa kau berteriak? Jangan membuatku takut." ujar Mike penuh rasa khawatir.
Mata Febby perlahan membuka saat mendengar seseorang memanggilnya, ia melihat tempat itu dan sekelilingnya. Ternyata apa yang ia lihat barusan hanya mimpi, lega rasanya.
__ADS_1
"Untunglah hanya mimpi," gumam Febby.
"Bagian mana yang sakit, kenapa kau berteriak?" tanya Mike yang melihat wanita itu diam tidak menjawab.
Bola mata Febby pun beralih pada suara laki-laki yang sudah sangat ia tunggu-tunggu. Dia menatap wajah Mike dengan perasaan campur aduk, ada rasa bahagia menelusup dalam hatinya.
"Akhirnya kau datang juga," ujar Febby dengan tiba-tiba memeluk tubuh Mike.
Sementara laki-laki mematung dengan reaksi Febby yang saat ini memeluk erat tubuhnya, seakan tidak ingin ditinggal lagi.
"Jangan pergi lagi, maaf karena perkataan ku sudah keterlaluan. Tapi aku tidak sungguh-sungguh dengan ucapanku kemarin." Febby terisak dalam dekapan laki-laki yang sudah sangat ia nantikan. Entah kenapa, tapi rasanya pria itu seperti sebuah cahaya yang datang menyinari hidupnya yang begitu kelam.
Terlepas bagaimana awalnya mereka bertemu, tapi Febby sadar baru kali ini ada orang yang benar-benar mengkhawatirkan dirinya. Melindungi bahkan begitu menghargainya.
"Benarkah, kau tidak sungguh-sungguh dengan ucapanmu? Itu berarti kau mau melahirkan anakku?" tanya Mike dengan nada bahagia.
Febby tanpa ragu mengangguk, ia tidak ingin menyia-nyiakan laki-laki sebaik itu. Walaupun belum ada cinta diantara mereka, setidaknya ada janin di dalam perutnya yang akan mendekatkan mereka.
Mike pun membalas pelukan Febby, ia begitu bahagia bahkan matanya sampai berkaca-kaca.
"Terimakasih, kau sudah mau tetap membiarkannya tumbuh dalam rahimmu," ujarnya.
,,,
Revan baru saja menyelesaikan pekerjaannya yang akan menjadi bahan meeting esok hari dengan investor besar yang baru ia dapatkan.
Dia memandang jarum jam yang sudah menunjukkan pukul 10 malam, ia pikir istrinya pasti sudah tidur saat ini.
Revan pun menutup laptopnya dan beranjak dari kursinya. Ia keluar dari ruangan kerjanya menuju ke kamarnya.
Sementara Rara sama sekali belum tidur, hatinya berdebar dan sedikit menyesal karena sudah menggunakan pakaian yang diberikan kakaknya. Ia malu kalau sampai suaminya melihatnya dengan pakaian itu.
"Sepertinya aku ganti lagi saja, apa tanggapan kak Revan kalau melihatku memakai baju begini."
Tatap Rara pada tubuhnya yang hampir terlihat semuanya seperti tidak menggunakan apapun. Bagaimana tidak, lingerie dengan warna merah menyala dengan bahan transparan dan bagian atas bawah yang terbuka.
Aku ganti saja lah, aku malu sekali kalau sampai kak Revan melihat aku seperti ini.
Rara hendak keluar dari kamar mandi, untuk mengambil baju ganti karna baju yang tadi ia pakai sudah ia masukkan ke dalam keranjang kotor. Tapi baru saja ia melewati pintu, seseorang datang ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Ceklek.
Buru-buru Rara kembali masuk ke dalam kamar mandi.
Siapa itu yang datang, jangan-jangan kak Revan.
Bagaimana ini aku belum memakai pakaian yang benar.
Rara ketakutan sendiri, ia merutuki kebodohannya yang tadi sudah sok berani tapi sekarang malah nyalinya menciut saat orangnya sudah datang.
Revan sendiri sedang mencari istrinya yang ternyata tidak ada di tempat tidur, ia pikir tadi istri kecilnya sudah terlelap.
"Sayang, apa kau ada di dalam?" tanya Revan di depan pintu kamar mandi.
Bahkan mendengar suara bariton milik suaminya saat sudah membuat tubuh Rara meremang. Ia dilanda keresahan saat ini, haruskah ia keluar dalam balutan pakaian yang menyesatkan mata laki-laki atau ia harus memakai kembali pakaiannya yang sudah kotor.
"Sayang, kau di dalam kan. Kenapa tidak menjawab, apa terjadi sesuatu padamu?" tanya Revan lagi, karena dia tidak mendengar suara apapun.
"I...ya Kak, sebentar." teriak Rara.
"Baiklah, cepat keluar ini sudah malam. Jangan terlalu lama di kamar mandi," ujar Revan. Ia akhirnya memilih untuk pergi mengambil pakaian tidurnya dan menggantinya di kamar itu. Toh istrinya juga ada di kamar mandi jadi dia tidak akan melihatnya. Mau melihat pun sah-sah saja.
Mbak semua ini karena idemu, pemikiran dari mana coba kalau malam pertama harus memakai pakaian kurang bahan begini.
Rara merutuki kakaknya yang sudah memberikan ide gilaa itu, padahal nyalinya sangatlah kecil.
to be continue...
Besok lagi ya... sabar pemirsa... 🤭🤭
Yuk vote ya mana, besok basah-basahan bareng 🤣
°°°
...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....
...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....
...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....
__ADS_1
...Sehat selalu pembacaku tersayang...