Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
152. Racun


__ADS_3

°°°


Bi Ida benar-benar menepati janjinya dengan tidak menceritakan apa yang menimpa Febby pada tuannya. Orang yang melakukan perbuatan jahat itu juga sudah diamankan oleh pihak berwajib dan bi Ida yakin, orang-orang dari atasan tuannya pasti tidak akan membiarkan orang jahat itu bebas begitu saja.


Lalu bagaimana tentang cacian yang Febby terima? Dia tidak menceritakan hal itu pada bi Ida. Seperti halnya kemarin, Febby merasa dia pantas mendapatkan hal itu.


Febby sudah ikhlas menerima semua yang menimpa dirinya. Yang penting kini adalah anaknya, dia akan fokus pada anak di dalam perutnya. Seperti hari ini, dia memanjakan dirinya dengan melakukan perawatan di rumah dan menonton serial drama favorit nya.


"Bi temenin aku nonton dong," pinta Febby, dia menghampiri bi Ida yang sedang ada di dapur.


"Nonton apa Non?" tanya bi Ida yang sedang memotong sayuran.


"Nonton drama bi, kayak sinetron gitu tapi ini dari Korea. Terus aktornya jauh lebih tampan bi, bisa buat melek mata." Febby menjelaskan pada bi Ida.


"Dari Korea Non, nanti bibi tidak mengerti bahasanya non," ujar bibi membuat Febby menepuk jidatnya sendiri.


"Tenang bi, kan ada subtitle nya... itu loh yang tulisan kecil-kecil di bagian bawah," terang Febby.


"Ohh gitu, ya sudah ayo... tapi beneran ganteng-ganteng kan cowoknya Non?" tanya bi Ida bersemangat.


"Dijamin bi, Aldebaran saja kalah. Bibi pasti nggak kedip nanti nontonnya." Febby terus saja mengkompori bi Ida agar mau menemani nya nonton.


"Waahh berarti ganteng banget dong Non." Mata bi Ida berbinar, "Eh ngomong-ngomong sama tuan Mike lebih gantengan siapa Non?" tanya bi Ida membuat Febby tampak berpikir.


"Gantengan mereka si bi... tapi Miky nya aku lebih tampan karena ada di sini. Soalnya kalau mereka kan jauh bi." Febby malah ikut berpikir konyol seperti bi Ida.


"Iya juga ya Non."


Febby tersadar, gara-gara membujuk bibi yang banyak pertanyaan jadilah dia keasyikan ngobrol di dapur.


"Cepetan bi, sekalian bawa minum sama cemilan. Biar tambah asyik nontonnya." Febby bersemangat. Ya menikmati hidup dan tidak berpikir macam-macam sedikit mengurangi kesedihannya.


"Siap non..."


Walaupun sampai sekarang Mike juga belum menghubunginya tapi Febby mencoba masa bodoh. Meski anak di perutnya tidak bisa dibohongi, ya seolah rasa ingin bertemu dengan laki-laki itu sangat kuat hingga kadang mual mendera.


Namun, Febby tidak mau berpikir berlebihan. Setelah mendengar dari Rara jika memang sedang ada masalah dengan perusahaan milik Revan. Dia jadi sedikit lega, karena sebelumnya dia kira Mike hanya sedang menghindarinya saja. Dia juga tidak mau banyak berharap, bisa tinggal dan menerima banyak perhatian di rumah itu saja Febby sudah banyak bersyukur.


,,,


Di sebuah penginapan.


Mike mondar-mandir di dalam kamarnya, sambil berkacak pinggang dan raut wajah gugup.

__ADS_1


Author : "Oh Mike akhirnya kamu bisa gugup juga."


Mike : "Diam thor, enggak usah meledek. Enggak tau apa aku lagi bingung mau ngomong apa nanti sama Febby."


Author : "Iya ngomong aja, apa susahnya."


Mike : " Dasar author Gaje."


Kembali ke Mike yang masih mondar-mandir seperti setrikaan. Apa yang membuat laki-laki tampak begitu gugup dan gelisah. Siapakah orang yang berhasil membuat si wajah datar itu kini bisa berekspresi.


Ternyata perubahan itu terjadi setelah dia menelepon pelayan rumahnya.


Flashback


Seperti biasa, setiap waktunya makan dan minum vitamin Mike pasti akan menelepon bi Ida untuk mengingatkan agar bi Ida agar tidak lupa.


"Hallo bi, apa dia sudah makan?" tanya Mike.


"Sudah Tuan, barusan nona baru saja menghabiskan makanannya."


"Sedang apa dia sekarang bi?" tanya Mike yang selalu kepo, padahal dia bisa memeriksa cctv.


"Nona, sedang ada di ruang keluarga, sedang menonton TV."


Mike baru mau mematikan sambungan teleponnya tapi bi Ida buru-buru menghentikannya.


"Sebenarnya ada yang ingin saya sampaikan Tuan."


"Ada apa Bi, apa ada masalah lagi?"


"Bukan Tuan, anu... itu tadi nona bilang kalau Tuan itu tidak peduli padanya..." Bi Ida hanya menyampaikan hal itu saja, setidaknya jika tuannya menghubungi sang nona akan lebih baik untuk perasaan ibu hamil itu.


Mike menghentikan jari-jarinya yang sedang mengetikkan sesuatu di laptopnya. Mendengar baik-baik apa yang bi Ida ceritakan.


"Nona merasa Tuan hanya peduli pada anak yang ada dalam kandungannya dan tidak peduli pada nona."


"Kenapa dia bisa berpikir seperti itu bi? Apa ada yang mempengaruhinya lagi."


"Tidak Tuan, itu karena Tuan tidak pernah mengabarinya, tidak pernah menelepon nya langsung dan menanyakan kabarnya."


Mike tampak diam, memang benar jika dia tidak pernah menelepon tapi bukan berarti dia tidak peduli. Malah sangat sangat peduli, selalu memikirkannya dan selalu ingin melihatnya.


"Maaf Tuan, kalau bibi lancang. Mungkin sebaiknya Tuan menghubungi nona langsung agar dia tidak salah paham."

__ADS_1


"Ya sudah, terimakasih bi. Nanti aku coba."


Mike tidak menyangka jika Febby akan merasakan hal seperti itu. Ia kira selama ini wanita itu baik-baik saja tanpanya, tapi ternyata membutuhkannya juga.


Flashback end


Mike kini menatap layar ponselnya, memandangi nama yang tertera di sana. Bingung mau telepon apa tidak.


Setelah menarik nafasnya berulang kali dan menetralkan degup jantungnya yang berdetak kencang. Akhirnya Mike memberanikan diri untuk menekan tombol hijau.


Mike duduk dengan tidak tenang, menunggu yang ia telfon mengangkat panggilannya.


Tut Tut Tut...


Bunyi panggilan terputus atau tepatnya di rijek.


Mike membulatkan matanya, baru kali ini ada yang berani menolak panggilan darinya.


Berani sekali dia mematikan panggilan dariku, kesal Mike.


Dia kembali mencoba menghubungi Febby, tapi lagi-lagi sama. Wanita itu mematikan panggilannya. Membuat Mike geram dan berfikir macam-macam. Sedang apa wanita itu sampai tidak bisa mengangkat panggilan darinya.


Mike pun segera memeriksa cctv dirumahnya.


Terlihat Febby masih di raung keluarga seperti kata bi Ida tadi. Wanita itu bukannya duduk di sofa malah duduk di karpet bersama bi Ida. Lengkap dengan cemilan dan minuman di depan mereka. Tapi tunggu... sepertinya ada yang aneh dengan mereka.


Mike menajamkan penglihatannya pada dua sosok wanita berbeda generasi itu.


Kenapa mereka berdua menangis? pikir Mike.


Segera Mike menghubungi nomor bi Ida, untuk mengetahui apa yang terjadi. Siapa yang berani beraninya membuat wanitanya menangis. Yang pasti orang itu mungkin sudah tidak sayang pada nyawanya sendiri karena berani membuat Febby menangis.


Tidak bisa dibayangkan kalau laki-laki itu tau tentang apa yang menimpa Febby. Mungkin akan langsung pulang dan menghajarnya habis-habisan dengan tangannya sendiri. Untunglah Febby sudah menyuruh bi Ida untuk tidak menceritakannya dan juga meminta Rara untuk tidak menceritakan hal itu pada Revan. Karena bisa saja Mike mendengar percakapan Revan dan Rara di sana.


to be continue...


°°°


Siapa yang keracunan Drakor juga ☝️☝️☝️


Like komen dan bintang lima 😍😍😍


Saranghae ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2