Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
138. Sudah Lebih Dulu Berhasil Membuat Anak


__ADS_3

°°°


Rara berangkat kuliah dengan diantar oleh supir, hatinya masih tidak tenang memikirkan suaminya. Walaupun kakek sudah bilang berkali-kali jika suaminya akan aman karena pergi dengan Mike, sang assisten yang jago bela diri.


Tapi mau dia jago bela diri, mau dia pintar berkelahi, itu semua tidak bisa menjamin keselamatan seseorang.


Sudah beberapa kali Rara mengirimkan pesan pada suaminya padahal baru sejam yang lalu mereka berpisah. Apakah itu rindu? Ya mungkin saja tapi ada yang lebih dominan dari rasa rindu yaitu khawatir. Bohong kalau Rara tidak takut, bohong kalau Rara tidak khawatir. Sekuat apapun dia mencoba berpikir positif tapi hatinya tetap merasa gundah.


Kenapa perasaanku tidak tenang seperti ini. Ini tidak benar, aku tidak ingin memikirkan hal yang tidak baik.


Ohh ya Allah, lindungilah suamiku.


Berkali-kali pula doa selalu Rara panjatkan.


Rara kembali mengambil ponselnya, untuk melihat apakah suaminya sudah membalas pesan darinya. Telat sebentar saja rasanya Rara sudah tidak karuan.


~Rara


Kak... apa kakak tidur?


,,,


Sementara di dalam mobil, sejak tadi Revan dan Mike terus membahas masalah proyek yang bermasalah. Ada yang aneh kenapa tiba-tiba bisa seperti itu, padahal sudah berjalan setengahnya dan selama ini baik-baik saja.


Belum lagi ada yang menjadi korban akibat robohnya sebagian bangunan itu. Revan harus bekerja keras untuk mencari solusinya.


"Sebentar Mike, ada pesan dari istriku," ujar Revan, seraya mengambil ponselnya. Wajahnya tersenyum cerah melihat istrinya yang berulang kali mengirim pesan. Ia tau jika istrinya pasti tidak tenang saat ini.


~Revan


Aku sedang membahas masalah proyek, sayang. Apa kau sudah berangkat kuliah?


Revan membalas pesan dari istri, tidak ada perasaan kesal ataupun terganggu. Dia senang malahan, karena Rara sangat mengkhawatirkannya. Dan rasanya, hatinya menghangat merasa sangat dicintai istrinya.

__ADS_1


Mike yang melihat tuannya terus senyam-senyum pun sedikit iri. Seandainya dia juga punya istri, apa akan begitu juga rasanya.


Seketika Mike mengingat Febby, baru kemarin mereka kembali merengkuh kenikmatan tapi sudah harus dipisahkan lagi. Rencananya hari ini Mike akan mendaftarkan pernikahan tapi dengan terpaksa ia harus menundanya.


Mike sangat ingin menghajar orang-orang yang sudah membuat masalah sehingga dirinya yang menjadi korban. Karena seharusnya hari ini dirinya sudah menikah dengan Febby. Entah apa yang akan dipikirkan wanita itu karena lagi-lagi Mike menghilang setelah melakukan pertempuran panas.


Tadi pagi niatnya mau pamit tapi ternyata wanita itu masih terlelap dalam mimpi indahnya. Mike pun tidak tega membangunkannya yang tertidur diatas ranjangnya sejak pertempuran itu.


Nanti aku akan menghubunginya, atau aku buat kejutan saja saat pulang. Pikirnya.


"Kamu kenapa Mike, ngalamun?" ujar Revan menyadarkan assisten yang sejak tadi terdiam padahal dirinya sudah mengajaknya bicara beberapa kali.


"Tidak Tuan," elak Mike.


"Nyetir yang benar, aku belum membuatkan cicit untuk kakek jangan sampai terjadi apa-apa." Revan menepuk pundak Mike yang sedang menyetir.


Ingin rasanya Mike memamerkan pada tuannya jika saat ini dirinya sudah lebih dulu berhasil menanamkan benihnya. Agar tuannya itu tidak lagi menyindirnya. Tapi nanti dulu, banyak hal yang ia pertimbangkan. Mengingat hubungan Revan dan Febby yang pernah menjadi sepasang kekasih.


Namun, Mike sudah menceritakan semuanya pada kakek Tio dan tuan besar nya itu pun mengerti walaupun awalnya ragu. Karena ia tau persis bagaimana Febby. Sama halnya dengan Revan, kakek juga takut Mike hanya dimanfaatkan saja.


"Tenang saja Tuan, saya tau itu." Mike malas, dia lebih memilih untuk fokus pada jalanan di depannya dari pada menanggapi sindiran tuannya.


Tapi sayang, niat hati ingin menebalkan telinga dari perkataan Revan. Mike malah jadi terbayang pergumulan panasnya kemarin. Bayang-bayang bagian tubuh Febby yang tambah besar di bagian tertentu membuatnya panas dingin.


Shittt!! Kenapa kau harus bangun, disini tidak ada yang bisa kau masuki. Tidurlah lagi.


"Kau kenapa Mike, apa kau sakit? kenapa tiba-tiba wajahmu memerah?" tanya Revan seraya menelisik wajah assistennya.


Sontak Mike berusaha menenangkan pikirannya dari hal-hal kotor yang menguasainya. Mungkin dia sudah gilaa, ya menggilai tubuh Febby.


"Tidak apa-apa Tuan, saya baik-baik saja. Anda tidak perlu khawatir. Kita bisa lanjutkan yang tadi." Ya sepertinya membicarakan pekerjaan adalah cara yang paling ampuh untuk mengalihkan pikirannya.


Mereka melanjutkan perjalanan sambil membahas rencana apa selanjutnya. Untunglah hari itu jalanan cukup lengang karena bukan akhir pekan. Coba kalau akhir pekan, antrian panjang kendaraan sudah pasti terjadi.

__ADS_1


,,,


Wanita **** yang selalu membayangi pikiran Mike baru saja menggeliat. Tubuhnya yang lelah membuat nya tidur nyenyak.


Febby mulai mengerjapkan matanya, cahaya matahari yang sudah cukup terik membuatnya silau.


"Jam berapa ini, tubuhku rasanya sakit semua. Pria itu benar-benar sangat ganas saat bermain."


Febby berseri-seri saat mengingat bagaimana Mike membuatnya melayang. Akhirnya dia bisa merasakan secara nyata saat bercinta dengan pria yang menjadi ayah dari anaknya. Permainan hebat laki-laki itu membuatnya sama sekali tidak menyesal karena telah mengandung anaknya.


Terimakasih nak, berkat kamu. Mamah jadi bisa merasakannya lagi, bercinta dengan papahmu.


Febby melihat sekeliling, ternyata ia masih ada di kamar laki-laki itu. Dia meraih bantal dan selimut, dihirupnya dalam-dalam bau aroma Mike yang menempel disana.


"Ahh... baunya sangat maskulin, aku suka."


Dia mencium sambil membayangkan otot-otot tubuh Mike yang tercetak sempurna. Sangat puas kemarin Febby meraba otot-otot itu. Jangan ditanya apa Febby suka milik laki-laki itu, tentu saja jawabannya sangat suka. Milik Mike yang besar dan panjang mampu membuatnya menggelinjang hebat.


Tenang Febby, kau masih mempunyai banyak kesempatan untuk kembali menikmati itu semua, ujarnya dalam hati.


Dia segera bangun untuk membersihkan diri, karena perutnya sudah minta diisi. Padahal tadi malam sebelum tidur, dia sudah makan banyak sekali tapi sekarang sudah lapar lagi. Aah ia lupa jika saat ini ada anaknya yang juga membutuhkan asupan makanan. Pantas saja sebentar-sebentar dia merasa lapar.


Setelah membersihkan diri Febby lantas bingung karena dikamar itu pasti tidak ada baju wanita, sedangkan pintu yang menghubungkan kamar mereka hanya bisa di buka dari kamar Febby.


"Bagaimana ini, apa kau keluar dan berjalan pakai handuk saja," gumamnya.


"Ehh tunggu, aku kan bisa pakai pakaian Miky dulu." Febby mengulum senyum.


to be continue...


°°°


Kacau nih Mike sama Febby 🤦🤦

__ADS_1


Kenapa jadi pasangan mesyuuummm begitu🙈🙈


__ADS_2