
°°°
Semua orang begitu gembira saat mendengar perkataan dokter. Terutama Revan, sejak tadi dia terus menciumi tangan istrinya yang masih terlelap.
"Sayang, bangunlah. Kau pasti senang mendengar kabar gembira ini."
Bahkan rasa haru pun menyeruak di hati orang terdekat mereka.
"Aku akan jadi kakek buyut. Ahmad, kau dengar kan tadi kata dokter. Aku akan jadi kakek buyut." Kakek Tio tidak kalah senang mendengarnya. Dia bahkan sudah menyuruh orang suruhannya untuk membagikan kebahagiaan itu pada panti asuhan di seluruh negara ini.
Itu adalah bentuk syukur pada sang pencipta yang telah memberikan kebahagiaan pada keluarga itu. Tidak peduli berapa uang yang habis karena kekayaan keluarga Herwaman masih mampu menopang hidup anak cucunya kelak.
Harta bisa dicari yang penting sekarang adalah membagikan kebahagiaan yang mereka rasakan pada anak-anak yang tidak beruntung.
Beberapa saat kemudian. Rara bangun dari tidurnya, perlahan dia mengerjapkan matanya.
"Sayang, kau sudah bangun?"
Samar-samar Rara mendengar suara suaminya.
"Kak Revan sudah pulang... aww." Tak sengaja Rara menggerakkan tangannya yang tertusuk jarum infus hingga terasa nyeri.
"Apa ada yang sakit, bagian mana yang sakit Sayang?" panik Revan mendengar istrinya kesakitan.
Rara pun membuka matanya lebar-lebar.
"Ini di mana Kak?" tanya Rara yang masih bingung.
"Kau di rumah sakit sayang. Tubuhmu tadi demam dan lemas makanya aku bawa kemari," jelas Revan.
"Apa masih pusing? Apa kau mau makan sesuatu sekarang?" tanya Revan.
"Tidak Kak, tapi aku sakit apa sebenarnya kak?" Rara sedikit takut.
"Cucuku kau sudah bangun," seru kakek Tio sambil memasuki ruangan itu.
"Kenapa kau diam saja, cepat panggilkan dokter!" perintahnya pada sang cucu yang masih berdiri di samping ranjang.
"Iya iya Kek...," jawab Revan. "Sayang kau tunggu disini, aku panggil dokter sebentar." Cup, Revan mengecup kening istrinya sebelum pergi.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan mu nak, apa bocah itu sudah memberitahu mu?" tanya kakek.
"Memberitahu soal apa Kek? Kak Revan tidak mengatakan apapun." Ada apa ini, apa penyakit ku parah. Astaghfirullah... aku tidak boleh berpikir buruk.
Tidak berselang lama, Revan pun sudah kembali bersama dokter yang akan memeriksa keadaan Rara.
"Itu dok, istri saya sudah sadar."
"Baiklah, biar saya periksa lebih dulu," ujar dokter itu.
Kakek pun sedikit menyingkir, sementara Revan menemani sang istri.
"Bagaimana Dok, apa istri dan anakku baik-baik saja?" tanya Revan yang membuat kepala Rara dipenuhi tanda tanya.
"Keadaan Nona sudah lebih baik tidak seperti tadi. Kalau untuk memastikan keadaan bayinya harus dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Tapi selama tidak ada rasa nyeri di bagian perut, insyaallah bayinya juga baik-baik saja."
"Bayi?? Bayi apa, siapa yang hamil?" Rasa penasaran Rara sudah tidak bisa ditahan lagi.
"Anda Nona, selamat saat ini anda sedang hamil."
"Iya sayang, kau hamil. Sebentar lagi kau akan jadi ibu dan aku akan jadi ayah." Revan membenarkan ucapan dokter.
"Benarkah, aku hamil. Kak, aku akan jadi ibu?"
Revan pun membawa sang istri dalam pelukannya. "Iya sayang, kita akan menjadi ayah dan ibu sebentar lagi. Terimakasih... kau sudah memberikan kebahagiaan yang bertubi-tubi untuk keluarga kita."
Semua orang pun terharu, terutama kakek dan juga pak Ahmad lalu bi Mur. Mereka tau betul bagaimana perjalanan pernikahan Rara dan Revan yang diawali dengan Perjodohan. Dari tidak saling mengenal dan harus hidup bersama lalu cobaan yang menerpa hubungan mereka sampai akhirnya tumbuh perasaan cinta dalam hati keduanya.
Sungguh tidak mudah memang, tapi percayalah pasti akan ada pelangi setelah hujan. Begitupun dengan kehidupan, setelah cobaan yang datang silih berganti pasti akan ada kebahagiaan menanti.
,,,
Rara baru saja melakukan pemeriksaan pada dokter kandungan untuk melihat perkembangan janinnya. Setelah tadi mendengar dari dokter kalau dia hamil, rasanya Rara tidak bisa percaya begitu saja. Sampai setengah melihat dengan mata kepalanya sendiri di layar monitor yang menampilkan janinnya di dalam perut. Barulah ia percaya.
"Sekarang kau percaya kan, kalau kau hamil?" tanya Revan pada istrinya yang sejak tadi memandangi foto USG janinnya.
"Iya kak, Alhamdulillah akhirnya Allah mendengar doa kita semua," kata Rara dengan perasaan yang begitu bahagia.
"Iya sayang, kau wanita yang baik dan taat jadi Allah pasti mendengarkan doamu. Aku berjanji akan menjadi calon ayah yang siaga mulai sekarang, kalau kau menginginkan sesuatu harus secepatnya mengatakan padaku. Aku pasti akan berusaha memberikan apapun yang kau mau. Apapun itu," janji Revan.
__ADS_1
"Benarkah kak Revan mau menuruti semua permintaan ku?" tanya Rara mengetes suaminya. Walaupun saat ini dia tidak ingin apapun.
"Benar sayang, kau bilang saja mau apa. Aku pasti akan memberikan apapun yang kamu mau. Kau mau apa?"
"Aku mau kak Revan temani aku hari ini. Boleh kan?" tanya Rara ragu karena suaminya adalah pemimpin perusahaan, tidak mungkin dia punya waktu senggang.
"Tentu saja, hari ini aku akan disini menemani kamu."
"Tapi bagaimana pekerjaan kakak," Rara menunduk, dia tidak ingin egois karena menginginkan sang suami untuk tetap didekatnya tapi rasanya dia tidak ingin jauh. Sebenarnya tadi pagi pun dia juga merasa seperti itu tapi tidak berani mengatakannya.
"Kamu tenang saja, Revan bisa mengerjakannya di sini. Yang penting sekarang dia harus menuruti keinginan kamu," ujar kakek Tio yang baru saja masuk.
"Kakek...," panggil Rara dengan rasa haru. Kenapa dia jadi mudah terbawa suasana sekarang, mungkin benar kata dokter kalau wanita hamil itu pasti akan mudah berubah mood.
"Apa kamu tidak akan memberitahu kan keluarga kamu nak?" tanya kakek Tio.
Oh iya Rara sampai lupa karena terlalu bahagia.
"Jangan sekarang sayang, bagaimana kalau kita beritahu kalau kita kesana dan memberikan mereka kejutan," saran Revan.
"Apa kamu sudah bertanya pada dokter, apa tidak apa-apa melakukan perjalanan jauh." Kakek tentu saja khawatir pada cicit pertamanya.
"Aku sudah tanya Kek, kalau keadaan Rara sudah membaik tidak apa-apa yang penting hati-hati dan sering beristirahat di jalan nanti. Kalau saja bisa menggunakan jet pribadi kesana aku akan menggunakannya." Namun, sayangnya tidak bisa.
"Tapi kalau Rara masih lemas jangan dipaksakan. Biar nanti kakek akan menyuruh orang untuk menjemput mereka," saran kakek yang tentu ada benarnya.
Beberapa jam kemudian.
Sudah berulang kali Revan menciumi perut rata Rara dan mengusapnya. Kebahagiaannya saat ini benar-benar membuncah.
"Sudah Kak, gelii...," Bukan tidak mau tapi rasanya Rara sungguh geli merasakan sentuhan sang suami. Lebih geli dari biasanya.
to be continue....
°°°
Like komen dan bintang lima 😍
Gomawo ❤️❤️
__ADS_1