
°°°
Febby masih tetap menolak untuk makan padahal wajahnya sudah sangat pucat. Wajah bi Ida juga sudah pasrah karena tidak tau lagi harus membujuk dengan cara apa.
Rara juga sedang memikirkan bagaimana caranya membujuk Febby agar mau makan. Mendengar dia sedang mengandung jadi membuat Rara makin khawatir kalau wanita itu tetap tidak mau makan.
"Kak, yang dikatakan bibi ini benar. Kakak harus makan, kalau kakak sakit siapa yang akan menjaga tuan Mike nanti dan anak dalam kandungan kakak juga butuh nutrisi untuk tumbuh kak. Tidak akan baik kalau kak Febby bersikeras menunda makan," bujuk Rara, entah akan berhasil atau tidak.
"Bagaimana aku bisa makan kalau melihat dia begini...," ujar Febby, kalau bisa lebih baik dia saja yang terbaring di ranjang karena tidak akan ada yang mencarinya.
"Aku tau Kak, tapi apa kak Febby tidak memikirkan anak yang tidak bersalah di perut kakak. Bagaimana kalau dia bertanya-tanya, kenapa mamahnya tidak memberinya makan, apa mungkin mamahnya tidak sayang padanya." Rara tidak menyerah, itu demi kebaikan Febby dan bayinya.
Febby tampak berpikir, Apa benar aku bukan ibu yang baik.
"Bagaimana kalau bayinya kenapa-napa kak, saat tuan Mike bangun pasti akan sangat sedih. Makan ya kak, biar aku temani," pinta Rara, menatap Febby penuh permohonan.
Febby melihat bi Ida dan Rara bergantian, mereka sudah sangat baik padanya. Tidak enak kalau terus menolak kebaikan mereka dan juga Febby merasa sudah menjadi ibu yang kejam karena tidak memberi anaknya makan.
"Baiklah, aku akan makan," ujar Febby, setidaknya dia harus mengisi perutnya agar punya tenaga untuk terus menemani Mike di sana.
"Syukurlah...," Rara merasa senang.
"Kalau begitu saya belikan makanan dulu Non," ujar bi Ida mau mencari makanan untuk nonanya.
"Tidak usah Bi, tolong ambilkan makanan yang ada di atas meja," ujar Rara.
Bi Ida pun mengambilkan rantang makanan itu, ada dua karena kakek Tio memang sengaja menyuruh bi Mur untuk menyiapkannya.
"Ayo makan kak, kakek yang sudah menyuruh bibi pelayan menyiapkan ini semua untuk kak Febby," ujar Rara seraya mengajak Febby untuk pindah ke sofa.
__ADS_1
Sementara Febby cukup terkejut mendengar kalau kakek Tio menyiapkan makan untuknya juga. Dia ingat sekali dulu kakeknya Revan sangat membencinya, tapi sekarang beliau malah menyiapkan makanan.
"Kakek juga menyiapkan ini untuk aku?" tanya Febby tidak percaya.
"Iya Kak, kak Febby juga cucu menantunya sekarang karena kakek sudah menganggap assisten Mike seperti cucunya sendiri," terang Rara sambil menata makanan di atas meja.
Kini Febby tau mengapa kakek bersikap baik padanya, semua itu karena Mike. Ya karena lelaki itu pasti sudah menceritakan apa yang terjadi di antara mereka. Padahal banyak hal buruk yang sudah Febby lakukan tapi Tuhan malah mempertemukan nya dengan pria sebaik Mike yang mau menerima dirinya apa adanya.
"Terimakasih...," lirih Febby dengan mata berkaca-kaca. Beruntungnya dirinya dikelilingi orang-orang baik.
"Makan yang banyak Kak." Rara mengambilkan lauk pauk ke piring Febby.
"Terimakasih, kau juga makan yang banyak." Febby juga menambahkan beberapa lauk ke atas piring Rara.
"Terimakasih kak, selamat makan..."
Bi Ida dan bi Mur yang mengintip dari luar pun ikut senang melihat kedekatan mereka. Bi Ida juga sudah tau cerita tentang keterkaitan mereka di masa lalu, bi Mur yang mengatakannya. Bi Mur juga merasa lega setelah tau Febby sudah banyak berubah dan sekarang punya ikatan dengan assisten tuannya.
"Iya aku juga senang melihatnya, Da. Bertengkar atau bermusuhan tidak ada gunanya, begini jauh lebih indah dipandang mata." Bi Mur sangat setuju dengan yang diucapkan bi Ida.
Mereka masih memandangi dua wanita yang terlihat seperti kawan lama, bercanda sambil menghabiskan makanannya. Indah sekali dibandingkan awal mereka bertemu. Walaupun dulu tidak tercetuskan bendera permusuhan tapi setiap kali bertemu pasti ada hal yang membuat salah satunya sakit atau iri.
Kini mereka buang jauh-jauh semua itu. Hanya ada Rara dan Febby sebagai teman.
Rara juga sesekali mengusap perut Febby, berharap suatu saat dirinya juga diberikan kepercayaan untuk memiliki momongan.
"Bagaimana rasanya ada bayi di dalam perut kakak?" tanya Rara, setelah mereka selesai makan mereka melanjutkannya dengan duduk dan bercengkrama.
Febby tersenyum mendengar pertanyaan Rara, dia sendiri masih tidak menyangka akan ada bayi di perutnya lalu bagaimana menceritakannya.
__ADS_1
"Belum terasa apa-apa Ra, usianya baru sekitar 7 mingguan. Masih sangat kecil, tidak seperti sedang mengandung rasanya. Hanya yang membuat beda adalah naf*su makan yang makin banyak dan kadang mual. Beberapa ibu hamil juga mengalami yang namanya ngidam."
Febby menceritakan bagaimana rasanya saat sedang hamil.
"Pasti sangat menyenangkan ya Kak, beruntung sekali kak Febby mendapatkan kepercayaan sangat cepat." Rara jadi penasaran ingin merasakan nya juga. Katanya kalau ibu hamil yang ngidam itu harus terpenuhi apa yang ia mau. Kalau tidak anaknya ileran.
"Tapi mungkin anak ini yang tidak beruntung karena harus lahir dari ibu seperti aku. Mungkin dia akan malu kalau mengetahui ibunya seperti apa," ujar Febby, dia bahkan pernah mempertanyakan nya. Kenapa wanita seperti nya harus diberi anak, apa bisa Febby menjadi ibu yang baik untuk anaknya.
"Semua orang pernah melakukan kesalahan Kak. Kak Febby bisa terus belajar untuk memperbaiki diri dan menjadi ibu yang baik. Jadikan kesalahan kakak sebagai pelajar suatu saat nanti jika anak kakak bertanya. Katakan padanya, kalau itu salah dan akibatnya bagaimana. Jangan lupa tetap berdoa agar anak-anak kita tidak pernah melakukan kesalahan yang sama."
"Kau benar Ra, mau menolak atau mengembalikan apa yang sudah Tuhan berikan padaku ini juga tidak mungkin. Selanjutnya aku harus menjawab ibu yang baik untuknya dan memberi tau dia kalau aku dulu pernah melakukan kesalahan." Febby akhirnya terbuka juga menerima anaknya. Kini ia bertekad akan menjaga anaknya dan menjadi ibu yang baik.
"Boleh aku menyentuhnya lagi Kak," Rara meminta ijin untuk mengusap perut ibu hamil itu.
"Tentu, kau adalah tantenya," ujar Febby.
"Hai sayang, ini aunty... aunty tidak sabar untuk bertemu dengan mu." Rara mengajak bicara janin yang ada di perut Febby, tanpa terasa sang pemilik perut sangat tersentuh mendengarnya.
"Makasih auntii., aku juga tidak sabal main sama auntii...," ujar Febby yang menirukan suara anak kecil.
Mereka pun tertawa, sambil terus mengajak bayi yang masih didalam perut mengobrol. Mungkin tujuan Rara ajar Febby sedikit melupakan kesedihannya, tapi tanpa ia sadari ternyata mengajak janin mengobrol sangat baik untuk perkembangan nya.
to be continue...
°°°
Ahhh indahnya melihat perdamaian di antara mereka...🤗🤗
Like komen dan bintang lima 😍😍
__ADS_1
❤️❤️❤️