Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
114. Kejutan Dari Kakak Ipar


__ADS_3

°°°


Mike kembali keruangannya, hari ini begitu berat rasanya. Dimana urusan perusahaan yang tidak ada habisnya ditambah dengan masalahnya dengan wanita itu.


Mike memijat pelipisnya dan menengadahkan kepalanya ke atas. Memikirkan perusahaan dan masalah seberat apapun tentang pekerjaan mungkin sudah biasa, tapi menghadapi wanita ini adalah pertama kalinya bagi Mike.


"Apa dia sudah makan," gumamnya.


Mike pun segera mengambil ponselnya dan menelfon seseorang yang bisa ia tanyai mengenai wanita yang sedang dirawat di rumah sakit.


"Hallo..."


"Apa dia sudah makan dan sudah meminum susunya?" tanya Mike.


Mike sedikit lega saat mendengar jika Febby sudah makan dan minum susu hamilnya.


"Tuan, beberapa kali jika ada perawat yang masuk. Nona selalu menanyakan anda."


Sontak perkataan orang itu pun membuat Mike sedikit tersenyum miris.


Mike mengusap wajahnya kasar dan meletakkannya kedua tangannya dibelakang kepala. Ditariknya kedepan hingga kepalanya tertunduk. Ia tersenyum nanar saat mengingat perkataan perawat itu berkata jika Febby terus mencarinya.


Apa kau mau bertemu untuk menyelesaikan semuanya atau mau mengatakan jika kau mau melenyapkan anakku.


Mike terus memikirkan cara agar wanita itu mau melahirkan anaknya. Dia tidak akan membiarkan siapapun menyentuh anaknya apa lagi mau menggugurkannya.


Biarpun ibumu tidak menginginkan mu, sekalipun dunia tidak berpihak padamu. Kelak ada ayah yang akan selalu melindungimu.


,,,


Di rumah sakit, Febby merasa sangat bosan di ruangan itu sendirian. Tidak ada yang menemani apa lagi menjenguknya. Dia baru sadar jika selama ini hidupnya terlalu sibuk melakukan hal yang buruk sehingga tidak ada waktu untuk melakukan kebaikan pada orang lain.


Kini sangat terasa saat ia sendirian dan butuh teman.


Sementara ibunya sampai saat ini tidak juga pulang, entah dia tau apa tidak jika putrinya sedang sakit. Mamahnya bahkan lebih gilaa, dia masih suka bersenang-senang dengan para brondong yang hanya memanfaatkan uangnya.


Apa aku terima saja pria itu, tidak ada salahnya juga. Dia tampan dan sepertinya sangat menyayangi anak ini. Dia juga kaya sepertinya.


Febby dilema, antara memilih menjalankan hidupnya seperti semula atau menjalin hubungan dengan pria itu.

__ADS_1


Mamah kemana si, aku butuh saran untuk memutuskan apa yang harus aku pilih.


Febby pun kembali merebahkan tubuhnya di ranjang rumah sakit itu. Kalau dipikir-pikir tidak ada salahnya mencoba untuk menerima pria itu. Cinta bisa dipikirkan belakangan, jika sudah terbiasa dan nyaman perasaan itu akan berkembang dengan sendirinya.


Ya... seperti itu saja.


,,,


Sorenya, Luna dan kedua orangtuanya sudah mau pulang. Sebenarnya berat bagi mereka untuk berpisah satu sama lain, tapi apalah daya bila sang putri sudah mempunyai keluarga sendiri.


Revan juga menyempatkan diri untuk ikut menghantarkan kepulangan mereka.


"Mbak, titip umi dan Abi jaga mereka," ujar Rara saat berpelukan dengan kakaknya.


"Tenang saja Dek, oh iya, jangan lupa pakai yang tadi kita beli nanti malam." Luna menggoda adiknya dengan tersenyum jahil.


"Apa si Mbak, iseng banget si. Aku tidak mungkin menggunakan pakaian seperti itu." Rara tidak habis pikir dengan kakaknya yang mempunyai ide yang bahkan tidak pernah ia pikirkan.


"Kau harus memberikan yang terbaik untuk suamimu agar tidak ada pelakor yang bermunculan lagi, apalagi untuk pertama kalinya kalian harus membuatnya berkesan."


"Mbak kaya udah pernah aja," ledek Rara.


"Iya Mbak, akan aku usahakan. Sudah ya jangan bahas itu terus, yang lain sudah menunggu diluar," ujar Rara yang merasa malu bila membahas mengenai hal yang berbau intim.


Sekarang mereka masih ada di kamar tamu tempat Luna menginap tadi malam.


"Mbak harap kamu bahagia terus seperti ini Dek." Mereka berpelukan melepaskan segala kerinduan yang sudah memenuhi dada.


"Aku juga berharap Mbak bisa segera menemukan seseorang yang bisa membuat Mbak bahagia," ujar Rara.


"Enggak Dek, Mbak tidak mau meninggalkan umi dan abi." Tidak bisa Luna bayangkan jika umi dan Abinya tinggal sendirian, tanpa putri-putrinya disampingnya.


Memang benar jika seorang anak perempuan itu sangat berat saat memutuskan untuk mengikuti suaminya yang belum tentu bisa menjadi imam yang baik atau tetap bersama ayahnya yang sudah pasti imam yang paling baik bagi mereka.


"Tapi suatu saat pasti akan datang jodohmu Mbak, kita tidak boleh menolak sesuatu yang sudah Allah rencanakan."


"Iya Dek, tapi untuk saat ini aku masih ingin menghabiskan banyak waktu bersama umi dan Abi," ujar Luna.


"Dan tugasku di rumah juga masih banyak, aku sedang menikmati pekerjaan baruku. Trus ingin mengembangkan usaha Abi juga agar bisa semakin banyak membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar." Begitulah impian sederhana Luna, yang ingin memberdayakan masyarakat sekitar tempat tinggalnya sebelum nantinya ia pergi mencari pengalaman diluar tempat tinggalnya.

__ADS_1


"MasyaAllah, mulia sekali impian kamu Mbak. Aku yakin Allah akan memberikan jalan yang mudah bila niatnya sebaik itu," bangga Rara pada kakaknya.


"Kalau aku punya kesempatan, aku juga ingin sekali membantu." Lanjutnya lagi.


"Sudah, kau urusi saja suami dan kakekmu. Mengabdikan diri pada keluarga juga hal yang mulia," ujar Luna agar adiknya tidak berkecil hati.


"Iya Mbak, aku mengerti." Mereka berpelukan lagi seperti tidak ingin lagi berpisah.


Revan yang awalnya mau memanggil kakak iparnya pun mengurungkan niatnya saat melihat kakak beradik itu saling berpelukan. Pasti menyenangkan sekali mempunyai saudara kandung, bisa berbagi suka maupun duka.


"Apa sudah selesai? Umi dan Abi sudah menunggu di bawah," ujar Revan.


Kakak beradik itupun segera melepaskan pelukan mereka. "Sudah, ayo Dek," jawab Luna.


Luna pun berjalan keluar terlebih dahulu.


"Aku sudah menyiapkan kejutan spesial untukmu adik ipar," bisik Luna tersenyum penuh arti pada adik iparnya.


Revan pun hanya menaikkan alisnya, tidak mengerti apa yang dimaksud dengan kejutan. Bayangannya justru mengarah ke hal-hal yang tidak menyenangkan, pikirnya kakak iparnya pasti lagi-lagi mengerjainya.


"Apa kau tau kejutan apa yang kakak ipar siapkan?" tanya Revan pada istrinya, setidaknya jika tau sejak awal dia bisa bersiap.


Sontak pipi Rara menyembul merah, merona dan gugup. Mbak Luna bilang apa pada kak Revan?


"Sayang... kenapa kau diam saja. Apa kakak ipar mau mengerjaiku lagi?" tanya Revan lagi.


"Apa kakak keberatan kalau Mbak Luna mengerjai kak Revan?" tanya Rara memasang wajah tak suka.


Ehhh ngambek kan...


to be continue...


°°°


...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....


...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....


...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....

__ADS_1


...Sehat selalu pembacaku tersayang...


__ADS_2