Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
220. Terbalik


__ADS_3

°°°


Febby sudah risih karena sejak tadi mulut sang suami belum juga lepas dari sumber kehidupan putranya.


"Sudah belum Mike, sakit tau kena gigi kamu," keluh Febby setengah merem melek saat sang suami memainkan li daahnya. "Jangan gitu Miky, aku bisa basah nanti," desis Febby lagi.


Plup. Mike menarik kepalanya mundur.


"Sebentar lagi sayang, aku masih mau," ujar Mike sebentar lalu kembali menyantap sumber kehidupan putranya lagi.


"Aakhhh... Miky... sudah hentikan. Bagaimana kalau ada yang masuk," kesal Febby. Kalau sang suami terus seperti itu dia takut kalau jadi tidak tahan, sementara jahitannya belum kering.


Akhirnya Mike pun menjauhkan kepalanya dari benda bulat yang sekarang semakin besar ukurannya. Mungkin karena sedang mengASIhi putra mereka jadi ukurannya sebesar itu.


Dengan telaten Mike menutupi kembali bagian da daa istrinya yang terbuka.


"Mike... itu," tunjuk Febby pada pusaka sang suami yang masih ada di dalam celananya dengan mata yang membulat.


"Tidak apa-apa, nanti juga tidur sendiri," ujar Mike, setelah itu dia menghampiri sang putra yang masih terlelap.


Pantas saja dia cepat sekali besar kalau ASI nya sebanyak itu, kekeh Mike.


"Apa yang kamu tertawakan Mike?" curiga Febby.


"Tidak, aku tidak tertawa. Aku sedang gemas pada putra kita." Mike pun berdalih agar istrinya tidak marah.


"Awas saja kalau menertawakan ku." Febby memperingati suaminya.


Bisa gawat kalau dia tau aku menertawakan nya, aku bisa tidak dapat jatah ASI lagi.


,,,


Beberapa hari berlalu dan Minggu pun lewat, kini berganti bulan ke bulan.

__ADS_1


Usia kandungan Rara hampir mendekati hpl. Perutnya pun sudah membuncit tapi tidak terlalu besar. Padahal makannya banyak dan hampir tidak pernah berhenti mengunyah kecuali tidur.


Setiap memeriksakan kandungan mereka pun selalu bertanya kenapa berat badan Rara tidak naik secara signifikan. Mereka khawatir akan janin yang ada dalam kandungan Rara.


Namun, dokter selalu bilang kalau semuanya baik-baik saja. Berat bayi dalam kandungan juga normal. Jadi kalau si ibu tidak terlalu gemuk juga wajar saja.


"Apa kakak tidak ke kantor hari ini?" tanya Rara yang sedang memakan desert buatan bi Mur.


"Tidak sayang, mulai hari ini aku akan bekerja dari rumah. Aku akan jadi suami yang siaga untuk kamu," ujar Revan, seraya meminta sedikit apa yang sedang istrinya makan.


"Kenapa kakak makan?" protes Rara.


"Sedikit saja sayang, ya aku minta sedikit saja," Revan pun memohon.


Bi Mur dan yang lainnya selalu geleng-geleng kepala melihat tingkah bumil dan suaminya itu. Mereka selalu berebut makanan padahal di dapur pun masih ada tapi anehnya Revan selalu ingin makan apa yang sedang istrinya makan. Pernah saat itu bi Mur ambilkan makanan yang baru tapi Revan tetap tidak mau dan meminta punya istrinya.


Dan yang terjadi adalah, Berat badan Revan lah yang bertambah karena kebiasaannya meminta apa yang istrinya makan itu. Sebelumnya dia tidak suka makan cemilan tapi kalau di rumah melihat istrinya makan dia selalu ikut makan.


Aneh bukan, istrinya yang hamil tapi suaminya yang bertambah gemuk. Tapi Revan tidak memusingkan hal itu, karena mungkin itu karena calon anaknya. Pikirnya nanti bisa berolahraga kalau anaknya sudah lahir.


"Sebaiknya kak Revan berangkat ke kantor saja," keluh Rara yang kesal karena setiap kali ia makan baru sedikit langsung direbut suaminya.


"Tidak sayang, bagaimana kalau tiba-tiba kamu melahirkan lalu aku tidak ada di rumah. Aku akan selalu ada untuk kalian," ujar Revan yang sama sekali tak merasa bersalah.


Bagaimana ini, aku harus membuat Kak Revan berangkat ke kantor. Kalau dia terus di rumah aku tidak bisa makan dengan leluasa.


Tentu saja Rara khawatir kalau suaminya tetap di rumah sedangkan hari perkiraan lahirannya masih dua mingguan lagi.


"Bagaimana kalau panggil Abi dan umi kemari kak, aku juga ingin mereka ada saat aku melahirkan nanti." Ya kalau ada umi di sini, semoga kak Revan jadi pergi ke kantor.


"Baiklah, nanti aku akan menyuruh supir untuk menjemput mereka," sahut Revan.


"Kenapa tidak kakak saja yang menjemput Abi dan umi. Apa kak Revan tidak menganggap mereka orang tua kakak juga." Tiba-tiba Rara jadi melow. Itulah perubahan Rara saat hamil. Dalam hal fisik memang tidak banyak yang berubah tapi sikap, sifat dan moody nya benar-benar berubah.

__ADS_1


"Tentu saja aku menganggap mereka seperti orang tua ku sendiri. Bagaimana kamu bisa bicara seperti itu. Sini, jangan marah lagi," bujuk Revan pada sang istri yang cemberut.


"Aku kan hanya ingin selalu berada di samping kamu, sayang. Aku ingin saat kamu mau melahirkan aku lah yang pertama tau dan saat kamu berjuang melahirkan anak kita, aku juga ada di samping kamu." Revan membawa istrinya dalam pelukannya.


"Ya sudah... tapi kalau kak Revan di rumah terus harus janji tidak akan merebut makananku lagi."


"Sayang, ini juga bukan kemauan ku. Kamu juga tau kan kalau aku tidak pernah makan cemilan." Revan serba salah, padahal dia sudah berusaha mati-matian menahan rasa inginnya saat melihat istrinya sedang makan tapi tetap saja dia tidak berhasil .


"Lalu bagaimana, aku kan lapar Kak. Tadi baru makan sedikit sudah kak Revan minta. Bagaimana aku bisa makan banyak kalau begitu terus," sungut Rara.


"Begini saja, aku ada ide. Kamu kunci ruangan kerja ini dari luar, setelah itu kamu makan. Jadi aku tidak akan bisa mengganggu kamu."


"Ide bagus Kak." Rara pun setuju. Dia sudah tidak sabar mau memakan nasi pecel pesanannya tadi.


Rara benar-benar mengunci pintu ruangan kerja suaminya dari luar. Lalu dia meletakkan kuncinya di atas lemari yang ada di depan ruangan itu.


"Sudah terkunci, sekarang aku bisa makan."


Setelah memastikan pintunya terkunci, Rara bergegas turun untuk makan.


"Bi... mana nasi pecel pesanan ku?" tanya Rara pada bi Mur.


"Ini Non, apa mau dimakan sekarang?"


"Iya Bi, tolong taruh di piring ya." Air liur Rara hampir saja menetes melihat nasi pecel yang sejak tadi pagi ia inginkan ada di depan matanya.


"Ini Non."


"Terimakasih Bi, oh iya aku mau makan di belakang. Nanti kalau kak Revan tanya jangan beritahu dia ya Bi," pesan Rara. Walaupun tadi sudah mengunci pintu tetap saja dia tidak percaya pada sang suami. Bisa saja tiba-tiba Revan muncul dan merebut makanannya lagi.


to be continue...


°°°

__ADS_1


Like komen dan bintang lima 😍


Nikmati aja ceritanya ya guys. Selamat membaca ❤️❤️


__ADS_2