
°°°
Hari pertama satu sekolah dengan Nathan sangat menyenangkan bagi Arin. Entah kenapa setiap berdekatan dengan pria kecil itu membuat gadis kecil keluarga Herwaman itu berbunga-bunga.
"Sayang, sepertinya kau bahagia sekali. Apa kau banyak teman baru tadi?" tanya Rara berbasa-basi, sebenarnya dia tau apa yang membuat gadis kecilnya itu senyum-senyum sendiri.
"Iya Bu, teman-teman di TK baik-baik pada Arin. Tapi Arin lebih bahagia karena sekarang satu sekolah dengan kak Nathan," jawab jujur gadis kecil itu.
Rara pun tersenyum gemas melihat tingkah putrinya, sejak kecil memang dia sangat suka bermain dengan Nathan. Walaupun putra dari Febby dan Mike itu pendiam dan sedikit dingin seperti papahnya.
"Arin boleh bahagia bisa satu sekolah dengan Nathan tapi ingat pesan ibu. Arin tidak boleh selalu mengganggu Nathan, nanti kalau Nathan tidak mau berteman dengan Arin lagi bagaimana?" Rara terpaksa melakukan hal itu karena tidak baik nantinya bagi Arin kalau terus dibiarkan terlalu menempel pada Nathan. Mungkin sekarang mereka masih kecil tidak masalah tapi nanti saat sudah dewasa akan kacau kalau ternyata salah satu dari mereka mencintai orang lain.
"Iya Bu, Arin selalu ingat pesan ibu. Arin juga tidak selalu dekat dengan Kak Nathan kan kelas kami berbeda, jadi kalau istirahat baru Arin cari kak Nathan." Aahhh namanya juga anak kecil, mana dia mengerti maksud yang dikatakan ibunya.
Rara tersenyum sambil mengusap lembut kepala putrinya yang sangat cantik. Tapi entah kenapa, Rara merasa Nathan sangat tidak nyaman dengan putrinya. Sedari kecil tiap kali Arin menyapa dan mengajak bermain Nathan, pria kecil itu sepertinya sangat terpaksa menemani Arin.
Ya Allah, semoga apa yang aku pikirkan tidak benar. Mereka masih kecil jadi mana mungkin punya perasaan seperti itu. Namun, jika memang kelak Arinku menyukai Nathan kuatkah lah dia jika memang mereka tidak berjodoh.
"Putri kecilnya ibu harus jadi wanita yang kuat dan mandiri, jangan bergantung pada orang lain. Nanti kalau kau sudah dewasa pasti mengerti apa yang ibu katakan." Walaupun Rara yang kalau putrinya tidak mengerti dengan apa yang ia ucapkan tapi Rara tetap akan selalu mengingat putrinya agar jadi wanita yang kuat. Bukan hanya dalam hubungan saja tapi dalam segala hal.
"Aku ingin bertemu ayah dan menceritakan semuanya Bu. Ayo kita ke kantor ayah," ajak gadis kecil itu. Ia sudah tidak sabar menunggu nanti sore atau malam untuk menceritakan apa yang sudah ia alami tadi di sekolah.
"Nanti saya saat ayah pulang ceritanya. Ayah kan bekerja sayang. Nanti kalau dia terganggu bagaimana? Nanti kalau ayah nggak kerja, Arin nggak bisa beli-beli mainan lagi," lembut Rara tapi sebenarnya menyiratkan sebuah pesan pada sang putri. Kalau apapun yang ia minta tidak selama bisa harus ia dapatkan.
"Aku ingin ceritanya pada ayah sekarang Bu. Apa tidak bisa kita kesana sebentar?" Arin menunduk, ia merasa kali ini dia pasti akan mendapatkan penolakan dari ibunya lagi. Berbeda dengan sang ayah yang selalu menuruti semua keinginannya.
Rara tampak memilah keputusan apa yang mau ia ambil. Sampai ponselnya berbunyi, panjang umur sekali karena Revan lah yang menelepon.
"Assalamualaikum Kak?"
__ADS_1
📞"Apa kalian sudah pulang, maaf tidak bisa menjemput kalian karena tadi ada meeting to tiba-tiba."
Revan tampak menjelaskan kenapa akhirnya dia tidak bisa menjemput anak dan istrinya.
"Tidak apa-apa Kak, kami sudah lagi di jalan ini."
"Ibu... boleh tidak aku bicara pada ayah," pinta Arin dengan mata penuh harap, mana tahan orang yang melihat.
Rara menghela nafasnya, dia tau apa yang mungkin putrinya bicarakan dengan ayahnya tapi rasanya tidak tega melarang putrinya untuk berbicara pada ayahnya.
📞"Kenapa sayang? Kau diam?"
"Arin mau bicara katanya, sebentar."
Dan seperti dugaan Rara gadis kecil itu meminta ijin untuk datang ke kantor ayahnya. Tentu saja sang ayah dengan senang hati mengijinkan putri kesayangannya datang. Tapi Rara masih bersyukur karena sang putri tidak meminta dengan cara merengek, justru meminta ijin dulu pada sang ayah.
Ya semua orang kini telah tau pernikahan Rara dan Revan, termasuk seseorang yang pernah mengira kalau Revan menyukainya. Beruntungnya tidak lama dia tua kalau perasaannya itu salah, karena Revan terlihat sangat mencintai istrinya.
"Pagi nyonya...," sapa sekretaris Revan yang bernama Rindu.
"Pagi... apa suami ku ada di dalam?" tanya Rara ramah bahkan senyumnya tak pernah pudar sejak tadi saat para karyawan menyapanya.
"Ada Nyonya, mari saya antarkan," ujar Rindu tapi Rara langsung menolaknya.
"Tidak perlu, teruskan saya pekerjaan kamu. Saya tidak akan mengganggu lagi." Rara menggandeng putri kecilnya untuk masuk ke dalam ruangan suaminya.
"Assalamualaikum Ayah...." Arin yang terlalu gembira pun langsung menghambur memeluk ayahnya.
"Wa'alaikumsalam sayang. Kalian sudah sampai. Putri Ayah kenapa kelihatannya bahagia sekali, apa tidak ingin bercerita pada ayah," ujar Revan pada putrinya yang kini tengah duduk di pangkuannya.
__ADS_1
"Sayang, sini dulu. Jangan ganggu ayah kerja," pinta Rara pada sang putri, dia merasa tidak enak pada suaminya.
"Tidak apa-apa sayang, aku bisa teruskan nanti." Revan menatap istrinya lembut.
Rara pun pasrah kalau sudah begitu, dia lebih memilih untuk duduk di sofa sambil memperhatikan ayah dan anak itu.
"Apa ayah tau kalau Arin sekarang sekolah nya bareng sama kak Nathan. Arin senang sekali, impian Arin sudah jadi kenyataan." Arin menceritakan apa saja yang terjadi di sekolah dan semuanya tentu berhubungan dengan Nathan, kakak idolanya.
"Ayah senang kalau putri ayah bahagia seperti ini." Revan gemas pada pipi putrinya yang memerah setelah menceritakan tentang Nathan. Dia pun menghujani pipi sang putri dengan ciuman.
"Sudah ayah... Arin geli... hahaha...," rengek Arin yang perutnya hampir kaku karena ulah sang ayah.
Tak lama pintu ruangan itu pun di ketuk. Seseorang masuk dan lucunya Arin langsung diam dan malu-malu saat orang itu datang. Tapi sepertinya hanya Rara yang menyadari itu.
"Tuan, ini berkas yang anda minta," ujar Mike seraya menyerahkan berkas yang ia bawa.
"Terimakasih Mike, letakkan saja disitu."
Tatapan mata Mike pun beralih pada gadis kecil yang ada di pangkuan Revan. Gadis kecil yang suka malu-malu saat menatapnya.
"Sayang, kau tidak ingin menyapa paman?" ujar Revan, tidak taukah dia kalau sang putri sedang malu.
to be continue...
°°°
Like komen dan bintang lima 😍
Terimakasih 🤗🤗🤗
__ADS_1