Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
151. Cobaan Lagi


__ADS_3

°°°


Sampai di rumah, bi Ida yang melihat Febby lecet dan memar di mana-mana langsung membulatkan matanya. Bagaimana bisa sang nona yang berangkat dengan begitu cantik, pulang-pulang jadi begitu.


"Apa yang terjadi pada Nona?" tanya bi Ida.


"Tidak apa-apa bi, aku lelah. Aku mau ke kamar dulu," ujar Febby yang ingin segera menumpahkan air matanya yang sejak tadi ia tahan.


"Baiklah, nanti bibi bawakan makan siang nona ke kamar." Bi Ida membiarkan nona, karena sepertinya dia butuh waktu untuk menenangkan diri.


Namun, baru beberapa langkah Febby melangkah. Dia kembali membalikkan tubuhnya.


"Bi, bisa aku minta tolong... tolong jangan katakan pada Mike tentang apa yang bibi lihat," pinta Febby.


"Baiklah Non, bibi tidak akan mengatakannya."


"Terimakasih Bi." Setelah itu Febby kembali melanjutkan langkahnya menuju kamarnya di lantai dua.


Kasian sekali nona Febby, siapa yang sudah berbuat jahat padanya. gumam bi Ida dalam hatinya.


Bi Ida pergi mencari supir yang tidak mengantarkan nonanya ke kampus, untuk mencari tau apa yang sebenarnya terjadi.


"Pak, sini sebentar," panggil bi Ida pada pak supir yang bernama Yono.


Pak Yono yang sedang mengelap mobil pun datang menghampiri bi Ida.


"Ada apa bi?" tanya pak Yono dengan kain lap yang masih ia pegang.


"Kenapa tubuh nona Febby lecet-lecet begitu? Pak Yono tau nggak apa yang terjadi pada nona," tanya bi Ida.


"Saya tidak tau bi, saya kan cuma nunggu di parkiran tidak ikut ke dalam ."


Bi Ida yang sudah terbiasa bicara dengan pak Yono sedikit tau apa maksud ucapannya.


"Kok bisa nggak tau si, harusnya bapak ngejagain nona yang benar. Kalau Tuan tau pasti bisa marah besar. Pak Yono bisa habis sama Tuan." Bi Ida kesal.


"Ampun bi, jangan bilang sama Tuan." Pak Yono ketakutan, di teringat nasib pelayan yang berani menghina nonanya. Ia takut akan bernasib sama.


Bi Ida pun masuk kembali ke dalam rumah untuk mengambilkan makan siang untuk nonanya, sekalian membawa es batu untuk mengompres memar di tubuh nonanya.


Bi Ida tidak memperdulikan teriakkan memohon dari pak Yono yang takut dihukum. Sebenarnya bi Ida tidak sungguh-sungguh dengan ancamannya, tapi tidak bisa menjamin juga kalau tuannya tidak akan marah kalau tau supir yang mengantarkan nonanya tidak menjaga nonanya dengan baik.

__ADS_1


Di dalam kamar.


Febby terduduk di lantai di belakang pintu. Dia sudah tidak sanggup lagi hanya untuk sampai ke ranjang. Tangisnya luruh seketika, dadanya terasa begitu sakit.


Kenapa banyak sekali cobaan yang menimpanya saat dia mencoba menjadi lebih baik. Seolah alam sedang menghukumnya.


Hiks hiks hiks...


Derai air matanya tidak berhenti mengalir.


Mamah... kamu dimana, aku butuh mamah. Aku butuh pelukan mamah. jerit Febby dalam hatinya.


Bagaimana tidak, di saat dia membutuhkan pelukan hangat sang ibu. Saat dia membutuhkan perhatian tapi entah kemana perginya sang ibu.


Tok tok tok


Bi Ida datang dengan membawa makanan dan es batu.


Mendengar suara ketukan pintu, Febby pun buru-buru menghapus air matanya. Berharap bi Ida tidak tau bahwa dia baru saja menangis.


"Non, bibi bawa makan siang."


Bi Ida pun masuk, dia meletakkan makanan di atas meja lalu beralih melihat nonanya yang duduk menyamping. Hingga bi Ida tidak bisa melihat wajahnya yang sembab.


"Kalau sudah, bibi keluar saja nanti aku makan bi." Febby masih membuang muka menutupi wajahnya dengan rambutnya yang panjang.


"Bibi bawa es batu juga non, untuk mengompres luka memar nona. Biar bibi bantu ya," ujar bi Ida.


"Terimakasih Bi, nanti aku sendiri saja," tolak Febby.


Bi Ida ragu, dia tidak ingin meninggalkan nonanya dalam keadaan sedih.


"Nona bisa menceritakan apapun pada bibi, jangan memendamnya sendiri," ujar bi Ida mendekati Febby.


"Tidak Bi, aku baik-baik saja." Namun tidak dengan suaranya yang terdengar bergetar menahan tangis.


"Saya janji tidak akan memberitahu Tuan kalau nona memang tidak ingin taun tau, nona tidak perlu ragu untuk bercerita." Bi menatap penuh iba pada wanita muda itu, ia yakin sebenarnya Febby itu hatinya baik hanya saja mungkin dia bertemu dengan orang yang salah hingga hidupnya jadi seperti itu.


Akhirnya Febby menghambur ke pelukan bi Ida, wanita tua yang selalu memberikan pelukan hangatnya selama Febby berada di rumah itu. Beliau lebih dari sekedar pelayan bagi Febby, sudah seperti seorang ibu yang selalu memeluk putrinya saat sedang senang dan sendirian.


Bi Ida membiarkan Febby menumpahkan air matanya, ia mengusap punggung dan rambut panjangnya. Miris sekali rasanya, seorang wanita cantik seperti nonanya sampai hidup dalam kesedihan.

__ADS_1


"Ada bibi di sini, nona tidak sendirian. Jadi jangan pernah memendam apa-apa sendiri lagi," ujar bi Ida.


"Terimakasih Bi," lirih Febby dengan terisak.


Cukup lama bi Ida membiarkan Febby menumpahkan tangisnya, sampai wanita itu benar-benar tenang barulah melepaskan diri dari pelukan hangat sang bibi pelayan. Febby sudah tidak memandang apa status bi Ida.


"Apa nona, sudah lebih tenang sekarang?" tanya bi Ida dan Febby mengangguk, menangis terlalu lama membuat suaranya hampir habis.


"Nona minum dulu." Bi Ida memberikan segelas air putih, Febby pun meminumnya hingga tandas.


"Nona makan dulu ya, kasihan anak yang ada di dalam perut nona kalau nona terlalu lama mengosongkan perut."


Febby menurut dan menerima suapan demi suapan makanan itu. Walaupun dengan sedikit pemaksaan akhirnya Febby menghabiskan makanan itu tanpa tersisa.


"Aku kekenyangan bi," keluh Febby dengan mengerucutkan bibirnya.


"Kan nona berbadan dua sekarang, jadi makannya juga harus dua kali lipat," bi Ida terkekeh melihat nonanya.


Setelah menghabiskan makanannya dan sedikit tenang hatinya, Febby mulai menceritakan apa yang terjadi padanya di kampus tadi.


Bi Ida tidak menyangka jika nonanya hampir dilecehkan, tapi bibi bisa tenang setelah Febby menceritakan jika istri dari atasan tuan Mike telah menyelamatkannya.


"Syukurlah non, nona tidak apa-apa. Apa nona kenal orang itu, kalau tuan tau pasti sudah habis orang itu oleh tuan."


"Bibi kan sudah janji tidak akan cerita, bibi lupa," ujar Febby merengut.


"Oh iya Non, tapi orang itu keterlaluan non. Apa nona akan membiarkan begitu saja?" tanya bi Ida.


"Itu semua karena perbuatanku di masa lalu bi, mungkin ini adalah akibat yang harus aku terima."


Bi Ida mengusap punggung Febby, tidak mudah jadi jalan yang dilalui wanita itu. Tapi untung saja sekarang Febby sudah berada di sisi tuannya. Bi Ida yakin jika kedepannya, kehidupan sang nona akan lebih bahagia penuh cinta dan kasih sayang.


to be continue...


°°°


Sabar ya Feb, nanti juga bahagia kalau sudah waktunya 🤗🤗🤗


Like komen dan bintang lima 😍😍😍


Saranghae ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2