
°°°
Esok harinya...
Para wanita sudah sangat antusias menyambut kedatangan para laki-laki yang tidak pulang hampir dua Minggu.
Di rumah keluarga Hermawan.
Rara sudah bangun sejak tadi pagi, mendengar suaminya akan pulang hari ini membuat dia bersemangat untuk bangun lebih awal. Menyiapkan makanan dan kue yang sudah beberapa hari ini ia pelajari.
"Pagi Bi..." sapa Rara pada bi Mur yang sudah lebih dulu ada di dapur. Entah jam berapa bangunnya tetap bi Mur nomor satu yang ada di dapur.
"Pagi non...," jawab bi Mur yang sedang mengupas bumbu dapur.
"Kelihatannya Nona sedang bahagia sekali pagi ini pasti ada kabar gembira." Sangat jelas terlihat oleh bi Mur, wajah berseri nonanya tidak bisa di sembunyikan.
"Bibi bisa saja." Rara malu.
"Apa tuan Revan pulang hari ini Non," tebak bi Mur.
"Kok, bibi tau?" Rara menaikkan alisnya.
"Karena hanya kepulangan tuan yang bisa membuat wajah nona begitu bahagia," ujar bi Mur. Tebakkannya sangat tepat sepertinya.
"Bibi tau saja... iya benar bi. Katanya Kak Revan akan pulang hari ini katanya bi," ujar Rara berbinar bahagia.
"Syukurlah Non, bibi ikut senang mendengarnya. Semoga tidak ada masalah berat lagi kedepannya," ujar bi Mur.
"Amiinn bi, terimakasih doanya bi."
"Jadi nona mau masak apa hari ini?" tanya bi Mur.
Rara pun membuat makanan spesial untuk menyambut kepulangan suaminya. Menuangkan rasa rindunya dalam masakan. Berharap sang suami merasakannya ketika mencicipi masakan buatannya.
,,,
Di meja makan pagi ini, sudah tersaji banyak sekali makanan.
"Waahh banyak sekali makanannya...," ujar kakek yang baru saja turun untuk sarapan.
__ADS_1
"Iya Kek," jawab Rara malu-malu pada kakek.
"Beruntung sekali Revan mempunyai istri sebaik kamu, menyambutnya pulang dengan penuh perhatian dan cinta," Kakek sangat bahagia melihat senyum di wajah Rara.
"Aku juga beruntung bisa mempunyai keluarga yang begitu baik di rumah ini." Rara memang seperti itu kalau di puji.
"Apa anak itu sudah bilang mau pulang jam berapa nak?" tanya kakek.
"Katanya pulang pagi kek, tadi jam enam sudah berangkat dari sana," terang Rara.
"Ohh kalau tidak macet pasti sebentar lagi sampai. Sebaiknya kamu sarapan dulu bareng kakek, takutnya nanti suami kamu sampai di rumah sudah siang." Perkataan kakek benar belum bisa dipastikan Revan akan sampai jam berapa.
"Tapi kek aku...," ragu Rara.
"Kakek mengerti, kamu pasti ingin makan bersama suamimu kan," potong kakek. "Tidak apa-apa, sekarang kamu makan sedikit. Nanti kalau suamimu sudah sampai, kamu bisa temani dia makan." Kakek sangat bijak dan pengertian pada cucu menantunya.
"Baik kek, aku akan sarapan sedikit." Rara menurut karena memang apa yang dikatakan kakek Tio itu benar.
Rara mulai mengambilkan makanan untuk kakek, barulah dia mengambil makanan untuknya sendiri.
,,,
Namun, berbeda dengan Rara yang sibuk menyiapkan makanan. Febby malah sibuk melakukan perawatan untuk menyambut kedatangan sang ayah dari jabang bayinya.
Seperti saat ini, dia sedang luluran seluruh tubuhnya dengan dibantu orang yang profesional tentunya. Dari ujung rambut sampai ujung kuku kakinya, semuanya tidak ada yang terlewatkan. Febby ingin membuat Mike tidak berkedip melihatnya.
Febby senyum-senyum sendiri membayangkan bagaimana reaksi Mike nanti.
Para pelayan dan orang salon yang sedang membantunya melakukan perawatan pun ikut tersenyum melihat nonanya bahagia.
"Bi, aku sudah cantik belum?" tanya Febby sudah berkali-kali pada bi Ida.
"Sangat cantik Non, dijamin tuan pasti terpesona saat pulang nanti," puji bi Ida berkali-kali juga membuat Febby merona.
Tapi memang benar saat ini kecantikan Febby jauh lebih terlihat dengan riasan tipis dan natural. Wajahnya amat cantik dan terlihat muda.
"Bagusan yang warna merah muda atau biru atau yang ini," Febby mengeluarkan semua dress yang ada di dalam lemari, membandingkan yang satu dengan yang lainnya. Berusaha menampilkan yang terbaik di depan laki-laki yang sudah membuat nya tidak bisa berpaling lagi.
"Nona memakai apapun akan terlihat cantik, tubuh nona juga sangat bagus dan cocok memakai model apapun." Bi Ida tidak dibayar untuk memuji tapi selalu keluar kata pujian dari mulutnya dan itu tulus tanpa diperintah.
__ADS_1
"Bibi ihh, kenapa semua dibilang bagus sih... kan aku jadi bingung mau pakai yang mana." Ya begitulah wanita, saat memilih pakaian selalu galau dan bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk menentukan pilihan.
Sontak bi Ida pun tertawa mendengar nonanya kesal. Hanya untuk menyambut tuannya pulang seheboh itu, dari pagi buta sudah perawatan.
"Bi sepatunya bagusan yang mana?" tanya Febby lagi. Padahal biasanya dia tidak sepusing ini untuk menentukan pilihan gaya pakaiannya. Kenapa kali ini begitu bingung dan penuh pertimbangan.
"Kalau menurut bibi, jangan yang hak tinggi non. Tidak baik untuk wanita hamil apalagi untuk naik turun tangga," saran bi Ida yang tidak ingin terjadi apa-apa pada nonanya.
"Oh iya, aku lupa bi... maaf ya nak mamah lupa kalau ada kamu..." Febby monolog dengan perutnya sendiri dan memberi usapan di sana dan akhirnya memilih menggunakan sepatu tanpa hak tinggi tapi tetap tidak mengurangi kadar kecantikan Febby.
Sepatu sudah, dress sudah, kini Febby sedang menata rambutnya hingga terlihat cantik.
"Bi... bagus diikat apa digerai aja?" tanya Febby lagi-lagi.
"Digerai saja Non, terus dikasih jepitan. Pasti nona akan sangat cantik." Bi Ida dengan senang hati memberi penilaian. Dia mau saja kalau kerjanya begitu, duduk sambil menilai penampilan nonanya. Kalau dikasih pekerjaan yang mudah kenapa tidak.
Febby pun memakai saran dari bi Ida, menggerai rambutnya dan memasang jepitan kecil di bagian samping, tapi Febby menambahkan sedikit sentuhan di bagian ujung rambut, membuatnya terlihat bergelombang. Satu kata sangat cantik.
"Begini bagaimana bi?" Febby berdiri dan memutar tubuhnya di depan bi Ida.
"Sangat sempurna Non, nona tidak kalah sama boyband Korea itu yang kemarin di tonton..." ujar bi Ida membuat Febby tepuk jidat.
"Bukan boyband bi, tapi girlband. Kan aku perempuan masa boy..." Febby membenarkan kata bi Ida.
"Ehh salah ya Non, hehehe... maaf non kan bibi tidak tau." Bibi menggaruk kepalanya sendiri yang tidak gatal.
"Bibi... bibi...," heran Febby.
Wanita tua itu baru beberapa kali diajak menemani Febby menonton Drakor sudah jatuh cinta pada para aktor dan aktris nya. Malahan sekarang, bi Ida suka melihat boyband dan girlband Korea juga. Kadang-kadang di dapur dia juga menyetel lagu dari negeri ginseng itu untuk mengiringi kegiatan memasaknya.
to be continue...
°°°
Cieee... bentar lagi ketemu nih... 🤭🤭
Sabar ya wahai para wanita... author ada kejutan buat kalian.
❤️❤️❤️
__ADS_1