
°°°
Perubahan sikap Sakka membuat Febby bertanya-tanya, ada apakah dengan pria itu. Jika biasanya ketika Febby datang, pria itu akan langsung mengajaknya malakukan kegiatan panas tapi kali ini dia bahkan mengusirnya.
Tidak mau ambil pusing memikirkan pria itu, Febby membelokkan mobilnya ke tempat hiburan malam. Sudah lama ia tidak kesana semenjak kakek Tio mengetahui kebiasaan buruknya itu.
Febby ragu untuk turun saat mobilnya sudah terparkir. Ia takut ada yang melihatnya dan melaporkan pada Revan, tapi dia benar-benar butuh hiburan saat ini.
Sudahlah, aku tidak peduli jika ada yang melapor pada Revan, aku bisa mencari seribu cara untuk mengelak.
Akhirnya Febby pun memasuki club' yang cukup mewah itu.
Dentuman musik yang keras langsung menyambut kedatangannya, dulu dia sering sekali datang ke tempat itu untuk mencari kesenangan. Hari ini dia juga akan mencari kesenangan di sana.
Semua ini gara-gara si brengseek Sakka, apa yang membuat dia jadi begitu. Siaaalll!!!
Umpatan kekesalan terus menerus terlontar dari mulut dan hati Febby, bukan hanya pada Sakka tapi juga pada Revan yang tidak ada kabarnya.
Sudah beberapa gelas minuman keras di tenggak Febby, amarahnya membuat dia semakin ingin lebih banyak minum untuk melupakan semuanya.
"Lagi bro!! cepat!! apa kau tuli!!" umpat Febby pada bartender yang ada di sebrang meja.
Sementara si bartender itu tidak mau memberikan minuman lagi karena melihat Febby sudah mabuk berat dan ia hanya sendirian. Bisa gawat jika sampai ada pria hidung belang yang memanfaatkan kesempatan.
"Maaf Nona, anda sudah mabuk. Lebih baik anda pulang," ujar bartender itu.
"Siapa bilang aku mabuk haa... aku masih bisa minum. Cepat, berikan minumannya padaku." Rancauan Febby bahkan sudah tidak terdengar jelas.
Terjadilah perdebatan antara mereka, Febby yang bersikeras minta diberikan minuman dan si bartender yang tidak mau memberikan minuman.
Febby pun naik ke atas meja dan perbuatannya sontak menjadi pusat perhatian. Apalagi para pria yang menatapnya dengan tatapan lapar. Pakaian Febby yang menampilkan lekuk tubuhnya sudah pasti membangunkan sesuatu yang melihatnya.
"Cepat berikan aku minumannya, apa kamu tidak tau aku ini siapa!!"
"Hahaha... kau pasti terkejut jika aku bilang aku ini siapa." Monolog Febby pada bartender itu.
Tubuh Febby yang tidak seimbang karena terlalu banyak meminum minuman beralkohol membuatnya seperti sedang menari. Para pria di bawahnya sudah berebut untuk membawanya ke kamar.
Club' itu seketika ricuh, musik yang mengalun keras ditambah para pria yang baku hantam memperebutkan Febby membuat para pengunjung wanita berteriak. Keributan pun terjadi, sedangkan Febby yang menjadi penyebab sibuk menenggak minuman yang berhasil ia ambil dari lemari minuman.
Ditengah keributan, pria bertubuh tinggi dan tegap dengan wajah bule datang menghampiri bartender.
__ADS_1
"Ada ini?" Suara bariton milik pria itu membuat bartender itu takut terkena marah.
"Maaf Tuan, wanita itu memaksa ingin terus minum tapi saya tidak memberinya karena dia datang sendiri." Bartender itu menjawab dengan ketakutan karena pria itu adalah si pemilik club itu.
Pria itu melihat para pengunjung yang sedang ribut lalu menyuruh para penjaga keamanan untuk melerai mereka. Kemudian tatapannya beralih pada wanita yang diceritakan oleh bartendernya.
"Seret perempuan itu juga keluar, antarkan dia kembali."
Meskipun dia mempunyai club' tapi dia tidak pernah membenarkan jika ada tindakan pelecehan di tempatnya. Kecuali mereka memang datang bersama.
Febby meronta-ronta saat keamanan datang menyeretnya, ia berusaha melawan dan tidak mau pergi. Teriakannya bahkan menarik perhatian yang lain.
"Lepaskan!! Kalian siapa berani menyentuhku." Febby berusaha melepaskan tangannya.
"Apa kalian tidak dengar, lepaskan aku!!"
Petugas keamanan sangat kesusahan membawa Febby keluar dari tempat itu, akhirnya merekapun mengahadap pada atasannya.
"Maaf Tuan, wanita ini tidak mau pergi dari sini."
Pria itu menatap tajam wajah Febby yang sudah acak-acakan. Sepertinya dia mengenali wajah itu.
"Sayang, kau sudah datang," ujar Febby menghampiri pria itu yang tampak seperti Revan dimatanya.
"Kau dari mana saja, kenapa aku tidak bisa menghubungimu. Kenapa kamu lebih memilih pergi dengan istrimu yang kampungan itu," rancau Febby tidak karuan.
Pria itu melotot saat jari Febby merayapi dadanya, menggoda. Dia pun langsung mencengkeram pergelangan tangan Febby dengan kencang.
"Aww... sakit Van, kenapa kau menyakitiku." Tiba-tiba Febby menangis.
Sementara pria itu yang ternyata adalah Mike yakin jika wanita yang ada di depannya itu adalah Febby, karena ia sempat mencari tau tentang wanita itu saat kakek Tio menyuruhnya.
Tiba-tiba wajah Mike terlihat seperti Sakka.
"Kenapa kau ada di sini, bukannya tadi kau mengusirku. Apa akhirnya kau sadar jika kamu itu tidak bisa menolak tubuhku. Kau pasti merindukan permainan ku juga kan."
Kali ini jari jemari Febby tidak hanya merayapi dada Mike, tapi ia juga membuka kancing kemejanya dengan cara yang menggoda.
Apa perempuan ini sudah gila, Mike menggeram.
"Kalian lanjutkan urus yang lain, biar aku yang mengurusnya." Mike membawa pergi Febby dari tempat itu.
__ADS_1
Di mobil Febby pun tidak bisa diam, tangannya terus menerus menggerayangi Mike yang sedang menyetir.
"Apa kau tidak bisa diam!!" bentak Mike yang tidak bisa fokus menyetir.
Sementara Febby tidak mendengarkan perkataan pria itu, mabuk membuatnya tidak tau malu dan terus mengganggu pria yang ia anggap Revan atau Sakka itu.
"Kenapa dadamu semakin keras sekarang, lenganmu juga semakin besar. Aku suka. Hehehe... apa adik kecilmu juga berubah ukuran?" Tangan Febby sudah benar-benar tidak bisa lagi dicegah. Ia meremaas-remass bagian bawah Mike yang sudah mengeras sejak tadi.
Sontak Mike membanting setirnya ke pinggir jalan.
"Kau mau bermain-main denganku, kau akan menyesal nanti!!" Mike memperingati wanita yang sudah membangunkan adik kecilnya yang sebenarnya sudah lama tidak terbangun.
"Ohh Sakka, kenapa kau galak sekali sekarang, apa kamu ingin bermain dengan cara kasar." Tangan Febby menyentuh rahang pria itu yang ditumbuhi bulu-bulu kasar.
"Lihatlah baik-baik, aku bukan pria yang kau sebutkan tadi. Jadi berhenti menggangguku."
Mike menghempaskan tangan Febby dengan kasar.
"Apa kamu bukan Sakka, berarti kamu Revan. Sayang... ayo kita bersenang-senang, kau tidak pernah mau menyentuhku. Apa kau tidak normal?" Febby cekikikan dalam rancauannya.
Mike terpancing dengan kalimat Febby yang terakhir, padahal wanita itu tidak ucapan itu tidak ditujukan padanya. Namun, kalimat itu berhasil memancing emosinya. Ya selama ini banyak yang mengatakan jika Mike tidak menyukai lawan jenisnya tapi tidak ada yang berani mengatakan langsung di depannya.
Mendengar Febby mengatakan itu, membuat Mike ingin membuktikan pada dunia jika dirinya itu normal.
"Apa kau yakin ingin tau aku normal atau tidak." Mike tersenyum menyeringai.
Mike kembali melajukan mobilnya, pikirannya sedang dipenuhi oleh rasa penasaran juga. Ia juga ingin membuktikan kenormalan dirinya. Dia pikir wanita di sampingnya juga bukan wanita baik-baik, tidak masalah jika ia menggunakannya saat ini.
to be continue...
Bang Mike udah berdiri berarti normal dong? Tapi tahan lama gak ya kira-kira...???
°°°
...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....
...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....
...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....
...Sehat selalu pembacaku tersayang...
__ADS_1