
°°°
Sampai di kelas, Lia masih memikirkan sikap Febby tadi pada saat berbicara dengan Rara.
Bukankah seharusnya, jika Febby berpacaran dengan Revan dia harusnya bersikap baik untuk mengambil hati Rara karena Rara adalah sepupu dari kekasihnya.
Akan tetapi, sikap yang tadi dia lihat justru sebaliknya. Febby itu menatap Rara dengan tatapan penuh permusuhan. Bukankah itu aneh bagi Lia.
"Ra, boleh aku bertanya sesuatu?" Rasa penasaran Lia sepertinya sudah tidak bisa dibendung lagi.
"Tanyakan saja," Ujar Rara menatap Lia.
"Apa kau sadar tadi Febby menatapmu seperti musuh, padahal kamu kan sepupunya Kak Revan. Harusnya dia sopan padamu." Lia tidak salah, semua orang pasti berpikir demikian.
Rara paham maksud ucapan temannya itu, ia menimbang apakah perlu dirinya berkata yang sejujurnya pada Lia.
Rara menghembuskan nafasnya dengan sedikit kasar. Sepertinya ia tidak bisa menutupi lebih lama lagi pada temannya. Tidak ingin disangka pembohong atau menutupi sesuatu dari temannya, Rara pun akhirnya memutuskan bercerita.
"Jadi kamu sudah melihatnya?" Ujar Rara.
"Iya Ra, kau juga lihat kan. Kalau gitu suruh saja kak Revan putusin dia, sama sepupu pacarnya saja tidak sopan begitu."
Lia seperti punya dendam sendiri pada Febby, dia malah mengompori Rara.
Rara jadi terkekeh mendengar perkataan Lia. Pemikiran gadis itu polos sekali.
"Kok kamu malah ketawa si, Ra!" kesal Lia.
"Maaf, maaf... jangan marah lagi," bujuk Rara yang melihat wajah temannya cemberut.
"Aku hanya memberi saran supaya kak Revan tidak gelap mata karena terus berpacaran dengan wanita seperti itu."
"Iya aku paham maksud kamu, tapi ada hal lain yang menyebabkan sikap kak Febby seperti itu padaku."
Rara berharap keputusannya memberi tau Lia tentang hubungan pernikahannya dengan Revan tidaklah salah.
"Lalu ada apa sebenarnya," Lia menaikkan alisnya.
"Sebenarnya, aku dan kak Revan itu..." Perkataan Rara terpotong seseorang yang baru saja datang.
"Hai cantik." Sakka menyapa gadis yang sejak kemarin menarik perhatiannya.
Lia memutar bola matanya jengah, melihat siapa yang datang. Berharap pria itu dihilangkan saja dari muka bumi ini agar tidak ada yang mengganggu hari-hari tenangnya.
__ADS_1
"Aku sudah tau namamu lohhh, Amelia Saputri kan." Wajah Sakka saat ini sangat senang hanya dengan tau nama dari Lia. Baginya sudah seperti mendapatkan durian runtuh saja.
Lia hanya tersenyum miring mendengarnya.
"Percaya atau tidak, sebentar lagi aku pasti tau nomor telepon mu," ujarnya percaya diri, seraya berlalu pergi.
Sakka sudah bertekad ingin mendekati Lia, baginya ditolak seorang wanita itu seperti tantangan tersendiri.
"Kenapa si dia harus mengganggu ku, bukankah banyak gadis cantik yang mengejarnya," omel Lia. Ia sama sekali tidak senang pria seperti Sakka mendekatinya.
"Sabar Lia, jangan sampai membencinya karena benci dan cinta itu bedanya tipis." Kadang kala terlalu membenci seseorang memang berakhir menjadi perasaan cinta.
Mata Lia membulat mendengar ucapan Rara. Tentu saja ia tidak mau kalau sampai mempunyai perasaan seperti itu pada pria itu, yang namanya saja tidak ingin ia sebut.
"Jangan berkata seperti itu dong, Ra. Aku merinding sendiri jadinya," seloroh Lia yang tidak ingin merasakan hal itu.
Rara tertawa mendengarnya, ia bahkan sudah lupa dengan apa yang ingin ia ceritakan tadi.
Di bangku yang berada di belakang, sejak tadi mata Sakka tidak lepas melihat gadis yang baru ia ketahui namanya tadi.
Lumayan aneh sebenarnya, bisa saja dia itu menyuruh orang untuk mencari tau tentang gadis itu tapi malah memilih menggunakan cara yang susah.
Seorang Sakka ... pasti bisa dalam waktu singkat mendapatkan informasi tentang Lia. Namun, kali ini ia ingin merasakan mendapatkan seorang gadis dengan usahanya sendiri. Walaupun tadi dia sempat bertanya pada teman yang lain untuk mengetahui namanya.
Terbiasa mendapatkan apapun yang ia mau termasuk wanita, membuat Sakka sedikit terobsesi pada Lia karena berani menolak ajakannya. Biasanya para wanita mengejarnya tanpa diminta, bahkan bersedia naik ke atas tempat tidurnya dengan suka rela.
Kita lihat sampai kapan kau akan menolakku, aku tidak percaya ada wanita yang menolak uang. Apa kau juga akan menolak barang mewah.
Sakka terus bermonolog sendiri berpendapat jika semua wanita sama saja hanya menyukai uang, berdasarkan pengalamannya selama mengenal wanita selama ini.
Baginya cinta itu tidak ada, dengan uang dia bisa membeli apapun termasuk yang namanya cinta. Selama ini banyak wanita yang mengatakan cinta padanya tapi mereka akan meminta ini itu setelah bersama. Lalu setelah Sakka memberi alasan semua kartu kredit nya dicabut oleh ayahnya, mereka langsung meninggalkannya.
,,,
Di sisi lain, ada manusia yang juga sangat menyukai uang seperti yang Sakka katakan. Seorang wanita dengan segala ambisinya, mendambakan hidup mewah dan berkelas.
Febby berulang kali menghubungi Revan tapi tidak juga diangkat. Dia kesal karena kekasihnya tak kunjung menghubunginya sejak kemarin.
Shiiittt!! Entah sudah berapa kali ia mengumpat kasar.
Padahal tinggal selangkah lagi pikirnya, sebentar lagi Revan mengambil alih perusahaan kakeknya. Lalu tinggal ia memikirkan bagaimana caranya menyingkirkan wanita yang menjadi istri kekasihnya itu.
Febby mencoba menghubungi Revan lagi.
__ADS_1
Akhirnya diangkat juga.
"Ada apa?"
"Kenapa kau tidak bilang jika hari ini tidak datang ke kampus, aku sangat merindukanmu."
"Kakek memintaku ke kantor untuk belajar, apa ada hal lain?"
"Tidak, aku hanya ingin menyampaikan pesan dari mamah. Dia sangat merindukanmu, sayang."
Tidak ada cara lain, mamahnya satu-satunya alasan yang tidak bisa Revan tolak.
"Kalau ada waktu pasti aku akan mengunjunginya lagi dan ada hal yang ingin aku bicarakan juga denganmu."
"Apa ada sesuatu yang penting?"
Febby antusias mendengarnya.
"Nanti saja kalau bertemu kita bicarakan lagi. Aku mau melanjutkan tugas yang kakek berikan."
"Tunggu, apa nanti siang kau bisa menjemputku?"
Terdengar suara helaan nafas panjang. Memang Revan akan ke kampus siangnya tapi untuk menjemput istrinya.
"Nanti siang aku kesana."
"Terimakasih sayang,"
Febby kembali bersemangat setelah mendengar jika kekasihnya akan menjemputnya. Ia akan menunjukkannya pada gadis desa itu jika Revan sengaja datang untuknya.
Febby yakin sekali jika Revan sama sekali tidak tertarik pada istrinya. Buktinya pria itu masih mau menuruti permintaannya.
"Cih... Kita lihat siapa yang pantas menjadi nyonya Hermawan, dari penampilan saja aku jauh lebih terlihat berkelas." Gumamnya sendiri.
to be continue...
°°°
...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....
...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....
...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....
__ADS_1
...Sehat selalu pembacaku tersayang...