Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
188. Selesai Satu Masalah


__ADS_3

°°°


Di kantor.


Beberapa polisi sudah datang untuk menangkap para penjahat di perusahaan fresh grup. Danu dan anak buahnya sudah tidak berkutik. Hanya menunduk pasrah saat kedua tangan mereka di pasang borgol.


Revan sudah bernafas lega saat Danu dan anak buahnya dibawa oleh polisi. Dia hanya tinggal mengurus sisanya, para orang-orang yang sempat berkomplot dengan Danu.


"Tuan nanti kami harap anda mau datang untuk menjadi saksi saat persidangan," ujar pak polisi.


"Tentu pak, saya pasti akan datang dan bekerjasama dengan kepolisian." Revan menjabat tangan para polisi yang tersisa karena sebagian sudah pergi membawa Danu dan anak buahnya.


"Kalau begitu kami permisi dulu. Selamat siang...," pamit pak polisi dengan sedikit membungkuk, begitupun dengan Revan.


"Terimakasih banyak atas bantuan dari kepolisian." ujar Revan.


Setelah mereka semua pergi, Revan beralih pada para dewan direksi yang masih duduk di meja rapat. Sebagian terlihat jelas, menunduk kepala dan tidak berani melihat ke Revan. Ya karena orang yang mereka harapkan menjadi pemimpin dari baru saja di bawa pergi.


"Selamat datang kembali tuan Revan," ujar salah satu dari mereka, orang yang senang atas kembalinya Revan ke perusahaan.


"Terimakasih pak, jadi bagaimana tuan-tuan? Apa perlu kita melanjutkan rapat hari ini ?" tanya Revan menatap semua orang.


Tampak mereka saling pandang dan memberi kode. Tadi mereka disana karena Danu yang mengumpulkan mereka, lalu sekarang Danu sudah pergi dan pemimpin yang sesungguhnya juga sudah kembali . Jadi tidak perlu lagi ada yang dibahas menurut mereka.


"Tidak Tuan Revan, kami sudah selesai tidak ada lagi yang mau kami bahas. Betul kan? Apa kalian juga setuju?" tanyanya pada semua orang.


"Kami setuju Tuan, sebaiknya kami kembali bekerja karena tuan Revan sudah datang jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Anda pasti akan membereskan masalah yang timbul akibat tidak kehadiran anda selama beberapa Minggu."


"Tentu Tuan, saya akan segera menyelesaikan tugas saya. Jangan khawatir mengenai para investor yang mundur karena saya akan mencari investor yang lain," terang Revan pada semua orang yang terlihat masih khawatir atas nasib perusahaan yang kehilangan beberapa investor.


"Baik Tuan, kami percaya pada anda. Kami permisi dulu."


Semua orang menjabat tangan Revan bergantian untuk mengucapkan selamat karena pria itu sudah berhasil melewati kecelakaan yang hampir membuatnya Revan dan Miki kehilangan nyawa. Dilihat dari mobilnya yang hancur saja sudah bisa menebak bagaimana keadaan Revan dan assistennya.


Revan melengkungkan bibirnya ke atas setelah kepergian mereka semua.

__ADS_1


"Mike, aku sudah berhasil menyelesaikan tugasku. Sekarang tinggal kau yang harus bangun," gumam Revan.


Setelah itu dia meninggalkan ruang rapat dan kembali ke ruangannya.


Semua karyawan menyambut kedatangan Revan dengan suka cita. Mereka bahkan berbaris di pinggiran teman yang akan Revan lewati. Apalagi saat mereka mendengar kalau orang-orang yang tidak bertanggung jawab itu sudah ditangkap.


Rasa lega menyelimuti semua orang di perusahaan itu. Walaupun selama ini tidak ada masalah dalam pembayaran gaji mereka tapi bukan tidak mungkin kalau suatu saat perusahaan itu akan bermasalah kalau orang-orang seperti itu masih berada di sana.


"Selamat datang Tuan." Kalimat itu yang sejak tadi Revan dengar dan dia hanya mengulas senyum pada semua orang. Mereka cukup bangga karena mendapatkan senyuman dari direktur utama terutama para karyawati. Mereka meleleh oleh senyuman direktur utama yang mereka taunya itu masih single.


"Ya ampun, ternyata Dirut kita sangat tampan," puji salah satu karyawati.


"Apa kau baru sadar, kemana aja neng." Teman yang lain sangat setuju.


"Aku tau tapi tadi saat melihatnya tersenyum rasanya aku langsung terpesona dengan pak Dirut. Seandainya saja dia bisa melihatku disini."


"Woyyy... bangun!! Ayo kerja lagi. Mengkhayalnya nanti lagi," ujar salah satu dari mereka.


Mereka pun kembali ke meja masing-masing, walaupun masih ada yang mengkhayal kemana-mana.


"Ternyata dia direktur utama di perusahaan ini, pantas saja aku tidak pernah menemukannya di bagian manapun di perusahaan, karena hanya kantor bagian atas yang tidak aku datangi. Semoga saja aku punya kesempatan untuk bertemu dengannya lagi untuk berterimakasih."


Wanita itu bermonolog sendiri, mengingat bagaimana pertemuannya dengan Revan yang ternyata atasannya sekarang.


Sampai di kantornya, Revan langsung menyalakan komputer dan mulai bekerja. Banyak pekerjaan tertunda karena ia tinggalkan dan terlalu fokus pada urusan Danu. Sekarang ia harus menyelesaikan semuanya, jangan sampai perusahaan menanggung rugi yang semakin banyak.


"Ok, aku pasti bisa menyelesaikan semuanya. Ayo semangat Revan." Revan menyemangati dirinya sendiri.


Sebenarnya cukup kewalahan juga kalau sama sekali tidak ada yang membantu, ya Revan sepertinya butuh sekretaris. Setidaknya ada yang membantu menghandle pertemuan atau memeriksa berkas.


Nanti aku akan meminta seseorang untuk menjadi sekretaris ku sementara sampai Mike bangun dan bisa bekerja lagi. Pikir Revan.


Revan menelepon bagian HRD dan meminta tolong untuk dicarikan kandidat sekretaris, atau bisa juga karyawan lama yang kerjanya bagus.


,,,

__ADS_1


Di kampus.


Rara sedang bersama Lia untuk mengerjakan tugas kelompok yang dosen berikan. Sebenarnya ada dua orang lagi tapi mereka masih belum datang. Sedang bermain basket katanya. Ya karena yang dua adalah laki-laki.


"Ra, coba kamu lihat apa kamu mengerti bagian ini?" tanya Lia, dia menunjukkan laptopnya yang sedang ia gunakan untuk mengerjakan tugas.


"Aku juga baru dengar, sepertinya kita harus mencari tau dengan mencari buku-buku yang berkaitan atau kita bisa melakukan riset nanti. Kita tunggu mereka datang dulu saja," ujar Rara seraya berpikir.


"Ya sudah kita makan dulu saja mendingan Ra. Lagian nanti keenakan mereka kalau mereka tidak mengerjakan apa-apa, kita yang capek nanti mereka dapat nilai juga," omel Lia yang kesal pada anggota kelompok yang belum datang.


"Tidak masalah ini, lagian kan salah satunya calon suami kamu juga. Apa kamu juga akan perhitungan dengannya?" goda Rara seraya menaikturunkan alisnya.


"Tentu saja harus, dalam mendapatkan nilai kita harus adil. Kita harus membagi tugas yang merata agar semuanya berusaha," tukas Lia.


"Iya, iya. Aku setuju denganmu. Kamu atur saja kelompok kita, Ok." Kali ini Rara mengerlingkan matanya.


"Ehh... kenapa jadi aku Ra, aku tidak mau jadi ketua. Kau saja," tolak Lia seraya menggelengkan kepalanya.


"Tentu saja harus kamu Li, bagaimana pun Sakka hanya menurut padamu," kekeh Rara.


"Kenapa begitu, kan ada satu anggota lagi. Aku mana berani menyuruh-nyuruh dia. Kau tau, dia itu kapten basket yang terkenal bermuka datar." Lia membicarakan anggota satu kelompok mereka.


"Justru karena itu, aku juga tidak mengenalnya. Sepertinya Sakka cukup kenal, makanya kamu saja ketuanya. Kau bisa minta bantuan Sakka nanti. Kalau aku pasti canggung sekali nanti," bujuk Rara agar Lia mau.


"Baiklah... aku mau."


"Yeee... kamu memang yang terbaik Lia," puji Rara seraya mengacungkan kedua jempol tangannya.


to be continue...


°°°


Hai semua, jangan lupa mampir di novel ku yang satunya lagi🤭🤭


Like komen dan bintang lima 😍

__ADS_1


Gomawo ❤️❤️


__ADS_2