Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
75. Memanggil Apa?


__ADS_3

°°°


Rara akhirnya makan malam di kamarnya, dengan ditemani sang suami yang terus mengawasi nya untuk memastikan sang istri menghabiskan makanannya.


"Pintar, kalau begini kan kamu bisa cepat sembuh." Puji pria itu pada Rara.


Rara hanya tersenyum tipis, ia jadi terpaksa menghabiskan itu semua padahal di mulutnya terasa hambar tapi Revan tidak membiarkannya menyisakan makanan. Harus habis katanya.


"Sekarang tinggal minum obat, dimana obatnya biar aku ambilkan?" tanya revan sudah berdiri dan melihat sekeliling.


"Aku letakkan di laci Kak," ujar Rara.


Revan pun mengambilkan obat sang istri.


Dalam hatinya Rara sungguh bersyukur karena suaminya amat perhatian padanya. Permintaan Rara tidak muluk-muluk, ia hanya ingin mendapatkan cinta suaminya.


"Ini obatnya, setelah itu berbaringlah di atas kasur." Revan menyerahkan dua butir obat yang harus Rara minum.


Rara pun segera menerima dan menelan obatnya. Pahit tentu saja, Rara mengerutkan keningnya. Segera ia mengambil air putih untuk sedikit menghilangkan rasa pahit.


"Sudah Kak," ujar Rara.


"Ayo aku bantu berjalan ke ranjang."


"Aku bisa sendiri Kak," tolak Rara, tubuhnya sudah tidak terlalu lemas dan masih bisa kalau hanya berjalan ke ranjang.


"Baiklah, aku akan membawa ini dulu ke bawah. Nanti aku kembali lagi." Tangan Revan terulur untuk mengusap lembut kepala istrinya. Setelah itu ia membawa piring-piring kotor ke bawah.


Sementara pipi Rara terus saja memerah tanpa sadar, setiap kali sang suami bersikap manis padanya.


Tidak lama kemudian Revan sudah kembali ke kamarnya dan ternyata Rara juga sudah berbaring di atas ranjang.


"Kau belum tidur?" tanya Revan yang baru saja masuk.


"Belum Kak, aku baru saja makan tidak baik kalau langsung tidur."


Tubuh kita perlu waktu untuk mencerna makanan, jadi jangan langsung tidur bila tidak ingin lemak di tubuh semakin menumpuk. Kaya author.


"Baguslah, ada yang ingin aku bicarakan tapi aku mau ganti baju dulu sebelum itu." Tentu saja Revan sudah sangat ingin memberitahu istrinya, jika ia sudah mengakhiri hubungannya dengan Febby.


Rara mengangguk kecil, ada apakah. Gadis itu jadi penasaran sepertinya ada hal penting yang terjadi. Apakah masalah pernikahan atau pekerjaannya di kantor. Tapi tidak mungkin sang suami menceritakan mengenai pekerjaan pada Rara.

__ADS_1


Setelah menunggu, Revan akhirnya keluar juga dan sudah menggunakan pakaian tidurnya.


Pria itu langsung naik ke ranjang dan duduk di samping istrinya.


"Ada yang ingin aku bicarakan, ini mengenai hubunganku dan Febby."


Manik mata Revan menatap istrinya.


Perasaan Rara sudah campur aduk, ada rasa was-was dan juga khawatir. Tidak tau apa yang terjadi pada suaminya dengan wanita itu. Tapi apapun itu Rara siap mendengarkan.


"Kami sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi, tepatnya aku sudah mengakhiri hubungan yang seharusnya tidak ada." Revan dengan tegas mengatakan itu agar istrinya yakin.


"Benarkah, bagaimana dia mau begitu saja hubungannya berakhir dengan kamu, Kak." Bola mata Rara menatap tidak percaya, setau dia Febby bukanlah wanita yang mau menyerah begitu saja.


"Kau tidak perlu memikirkan hal itu, aku akan menyelesaikannya. Kalau dia berbuat sesuatu padamu, aku tidak akan memaafkannya."


Revan menatap manik hitam sang istri, berharap dia akan yakin pada suaminya.


"Aku sudah menepati janjiku, sekarang mari kita hanya fokus pada hubungan kita. Memikirkan masa depan dan mulai menerima satu sama lain," ujar Revan meraih tangan istrinya, lalu mendaratkan kecupan disana.


"Kak aku...,"


"Kau hanya perlu terbiasa menerima semua perlakuan ku padamu mulai sekarang. Jangan menolak apalagi menghindar karena aku akan terus berjuang untuk mendapatkan hatimu."


Dengan berani Revan mencium pipi istrinya. Dan tentu saja reaksi nya pasti pipi merah merona bak tomat segar. Rara pasti malu, hanya pegangan tangan saja di sudah grogi apalagi cium pipi.


Sementara Revan, dia sangat menyukai saat istrinya malu-malu seperti itu. Sangat lucu dan imut wajah Rara saat ini.


"Kamu harus terbiasa dengan semua ini. Agar kecanggungan diantara kita sedikit berkurang." Entahlah, padahal Revan bukan tipe pria yang romantis tapi di dekat Rara ia amat bersikap manis.


"Kak...,"


Lagi-lagi ucapan Rara terpotong dengan jari telunjuk Revan yang tiba-tiba menempel di bibirnya.


"Mari ubah panggilan kita dari sekarang," ujar Revan, membuat Rara tertegun.


"Aku harus memanggil kak Revan apa?" Rara sungguh tidak tau, diakan belum pernah pacaran. Mana tau sebutan sebutan mesra antar pasangan.


"Coba kamu pikirkan ingin memanggil aku dengan sebutan apa, yang lebih spesial dan panggilan itu hanya khusus untukku." Tidak tau Revan mendapatkan ide dari mana jadi tiba-tiba ingin merubah panggilan. Tapi sepertinya lucu juga jika memanggil pasangan dengan panggilan khusus.


Rara nampak memikirkan usulan suaminya, meski ia bingung kenapa harus merubah panggilan. Pernah ia dengar temannya saat berpacaran memanggil pacarnya 'beb, cin, honey'.

__ADS_1


Apa ia juga harus memanggil suaminya seperti itu.


"Bagaimana, apa kamu sudah dapat ide?" Revan tidak sabar mendengar panggilan barunya. Pasti akan terdengar romantis dan manis.


"Apa tidak masalah kalau aku panggil kak Revan dengan sebutan suamiku, aku tidak tau panggilan seperti apa yang kak Revan inginkan." Rara menunduk malu, ia merasa tidak tau apa-apa.


Revan menaikkan sudut bibirnya, ia suka. Apapun itu yang istrinya katakan ia tidak masalah.


"Baiklah istriku sayang, sudah sepakat ya kau harus memanggilku dengan sebutan itu. Jika kau memanggilku dengan kakak lagi maka akan ada hukuman untukmu."


"Hukuman? Apa hukumannya Kak?" Rara menaikkan alisnya, apakah hukumannya akan sulit.


"Apa kau ingin tau hukumannya?" Revan mendekatkan wajahnya, dekat dan semakin dekat.


Entah sadar atau tidak Rara mengangguk setuju, untuk apa entahlah. Ia hanya ingin tau seperti apa hukuman yang akan diterimanya. Kalau disuruh membersihkan rumah tidak masalah.


"Karena kau barusan memanggilku Kak, maka kamu harus menerima hukuman pertamamu." Deru nafas Revan bahkan sudah terasa di kulit Rara. Hidung mereka hampir bersentuhan dan sedetik kemudian bibirnya sudah menempel di bibir mungil Rara.


Sesuatu yang tidak biasa menjalar dalam darah keduanya. Rara diam terpaku, tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata perasaannya saat ini. Debaran dan desiran bercampur menjadi satu.


Rara adalah perempuan pertama yang mendapatkan ciuman dari Revan, begitupun sebaliknya. Revan sama sekali belum pernah menyentuh perempuan selain berpegang tangan. Apa lagi Rara yang tidak pernah pacaran.


Meski hanya menempel tapi ciuman tadi cukup membuat keduanya salah tingkah.


Revan dan Rara kini terbaring saling memunggungi.


Revan takut istrinya marah karena ia telah menciumnya tanpa ijin, sedangkan Rara malu tidak karuan. Gadis itu bahkan menggigit selimutnya.


Hukuman apa itu tadi, kenapa hukumannya membuat aku berdebar kencang. Itu si bukan hukuman namanya. Rara


Apa Rara marah padaku, kenapa aku bisa bertindak seperti itu. Bagaimana jika ciuman tadi membuatnya takut berdekatan denganku. Tapi tadi dia tidak mendorongku, apa artinya dia mengijinkan aku menciumnya. Revan.


to be continue...


°°°


...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....


...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....


...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....

__ADS_1


...Sehat selalu pembacaku tersayang...


__ADS_2