Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
219. Menyenangkan Istri


__ADS_3

°°°


Di bawah selimut dengan tubuh yang masih polos. Sepasang suami istri itu terlelap setelah melakukan olahraga malam mereka. Keduanya terkulai lemah setelah mengarungi indahnya dunia. Rasanya seperti pengantin baru, keduanya penuh gai raah. Bahkan mereka baru tertidur setelah mandi dan sholat subuh.


Hingga matahari sudah hampir berada di atas kepala, barulah Lia menggeliat.


Eeuughhh... silau sekali. Lia menutupi wajahnya dengan bantal karena cahaya dari jendela kaca terlalu menyilaukan.


"Kau sudah bangun?" tanya Sakka. Dia membawa nampan di tangannya, berisi segelas susu hangat dan roti.


"Jam berapa ini Yank?" tanya Lia.


"Hmm... jam sebelas siang, ayo bangun dan minum susu mu." Sakka memberikan segelas susu putih itu pada sang istri.


"Terimakasih," senang Lia karena sang suami memanjakannya.


"Setelah menghabiskan ini, kau mandilah. Kita makan di luar. Aku mau memeriksa beberapa pekerjaan," ujar Sakka lalu dia menci um kening istrinya.


Aa... aku bisa makin cinta kalau dia terus bersikap seperti itu. Pipi Lia memerah.


Setelah menghabiskan segelas susu dan sepotong roti nya, Lia pun bergegas mandi. Setelah itu dia menggunakan pakaian yang sudah suaminya siapkan. Beruntungnya sang suami tidak pernah meninggalkan jejak di tempat yang terbuka jadi Lia tidak perlu repot-repot menutupi.


"Apa sangat banyak pekerjaannya?" tanya Lia yang kini mendudukkan tubuhnya di samping sang suami.


"Tidak, hanya memeriksa neraca perdagangan saja. Apa kau sudah siap? Bagaimana kalau setelah makan kita jalan-jalan dulu sebelum pulang, kau mau?" tawar Sakka dan tentu saja Lia mengangguk mau.


Mereka sudah ada di restoran hotel itu untuk sarapan sekaligus makan siang karena pagi mereka tak sarapan.


"Apa kau tak suka?" tanya Sakka melihat sang istri yang hanya menyentuh makanannya sedikit.


"Semalaman aku sudah bekerja keras sampai pagi lalu hanya sarapan seperti ini, mana kenyang Yank," protes Lia, sudah dibilang kalau dia itu tidak begitu suka dengan makanan western yang porsinya kecil itu.


"Baiklah, kita cari tempat lain. Ayo," ajak Sakka begitu saja, meninggalkan makan mewah nan mahal itu.


"Tapi bagaimana makanannya yang ini, kamu habiskan punyamu dulu saja Yank. Kan sayang kalau di buang-buang," ujar Lia.


"Tidak apa-apa, ayo pergi. Nanti aku akan menyuruh pelayan untuk membagikan makanan itu."


Dengan mengikuti pilihan Lia, akhirnya mereka makan di salah satu warteg pinggir jalan. Walaupun awalnya Sakka menolak tapi akhirnya dia mau juga.

__ADS_1


"Nah kalau makan begini kan mengenyangkan," ujar Lia setelah pesanan datang ke meja.


"Hati-hati sayang, makannya pelan-pelan saja."


Sakka geleng-geleng kepala melihat makan Lia yang sangat lahap, berbeda saat berada di restoran mewah tadi.


Mereka pun jadi pusat perhatian di sana, tentu karena ketampanan Sakka. Para ibu-ibu dan gadis bisik-bisik membicarakan Sakka.


Lagi-lagi Lia pun kehilangan serela makannya karena sang suami terus dilihat oleh para wanita yang ada di sana. Huft... sepertinya makan di tempat kecil dan ramai bukankah pilihan yang tepat.


Selesai makan, mereka berniat berjalan-jalan ke mall yang ada di dekat sana.


"Sebenarnya dalam rangka apa kamu memberi kejutan sebanyak ini?" tanya Lia yang sudah penasaran dari tadi.


"Tidak dalam rangka apa-apa sayang. Aku hanya ingin menghabiskan waktu berdua dengan mu, itu saja. Apa kau tidak suka?"


"Tentu saja aku suka, tapi aneh sekali rasanya karena biasanya kita tidak pernah berdua." Memang bahkan Lia lupa kapan mereka terakhir pergi berdua dengan suaminya.


"Maaf ya, aku terlalu sibuk mengurusi perusahaan yang baru aku rintis. Aku janji kalau keadaan perusahaan sudah stabil, aku akan sering-sering mengajakmu keluar," ujar Sakka seraya mengusap kepala istrinya.


"Iya sayang, aku paham kok. Aku juga tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Hanya saja kadang aku kasihan melihat mu kelelahan setiap malam." Lia menunduk sedih.


,,,


Sampai di mall.


Sakka mengajak istrinya berkeliling untuk berbelanja apa saja yang ia inginkan.


"Sayang, ambil saja apa yang kamu mau," titah Sakka tapi Lia mana menggunakan uang suaminya yang bekerja begitu keras.


"Aku tidak ingin apa-apa yank. Kita jalan lagi yuk," ajak Lia.


"Kenapa? Apa disini tidak ada yang kamu suka? Kalau begitu pindah ke toko yang lain." Sakka menggandeng tangan istrinya, takut terpisah.


"Tidak usah beli baju dan tas Yank, apa kamu lupa kalau aku punya butik. Aku bisa ambil baju di butik kalau mau," terang Lia.


"Ohh iya, tapi kan kau bisa melihat-lihat model pakaian disini. Siapa tau kau bisa dapat inspirasi untuk desain pakaian kamu selanjutnya."


Benar juga apa yang dikatakan sang suami. Lia yang tidak pernah pergi-pergi setelah menikah pasti sangat minim mengenai model pakaian yang saat ini sedang trend dikalangan anak muda. Kebanyakan yang Lia desain adalah pakaian untuk orang dewasa yang sudah ibu-ibu ke atas.

__ADS_1


"Huft... padahal kan aku niatnya tidak beli tapi kenapa jadi sebanyak ini barang yang sudah aku ambil." celoteh Lia. Karena terlalu asyik melihat sampai tidak tau kalau sang suami membeli semua barang yang sudah Lia sentuh.


"Tidak apa-apa Yank, sekali-kali kamu berbelanja menyenangkan diri. Kita pulang sekarang?" tanya Sakka, karena hari juga mulai gelap.


"Iya, kita pulang. Aku juga lelah, tenagaku sepertinya masih belum pulih sepenuhnya setelah semalaman tidak bisa tidur," sindir Lia.


"Tapi kamu suka kan?" Goda Sakka.


"Iya tapi lelah," jujur Lia. Tidak ada gunanya juga berbohong karena reaksi tubuhnya semalam sudah menunjukkannya.


"Seharusnya aku yang bilang seperti itu, yang lebih banyak bekerja kan aku. Kau hanya pasrah saja menerimanya." Sakka menggoda istrinya lagi.


"Sudah sudah... jangan membicarakan hal itu lagi."


,,,


Karena weekend, hari ini Mike juga menghabiskan waktunya untuk sang istri dan putra kecilnya.


Mike bahkan sudah mahir dalam menggendong dan mengganti popok sang putra.


"Sayang, kapan aku bisa pulang. Rasanya sudah sangat bosan di sini," keluh Febby pada suaminya.


"Nanti kita tanya dokter dulu, kalau dokter sudah mengijinkan kamu pulang aku akan langsung membawa kalian pulang," ujar Mike.


"Apa Nathan sudah tertidur?" tanya Mike yang sedang memeriksa pekerjaan nya sedangkan sang istri sedang menyusui putra mereka.


"Sudah, dia semakin berat sekarang. Alhamdulillah ASI nya keluar banyak, jadi dia tidak kekurangan ASI." Febby menatap putra tampannya.


Mike mendekati dia orang yang sangat berarti di hidupnya. "Biar aku saja yang menaruhnya di box," ujar Mike seraya mengambil alih sang putra dari pangkuan sang istri. Lalu ia letakkan di box bayi.


"Jangan di tutup dulu." Mike menghentikan Febby yang sedang mengancing pakaiannya.


to be continue...


°°°


Like komen dan bintang lima 😍😍


Terimakasih yang masih ngikutin cerita ini.🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2