Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
186. Istri Pengertian


__ADS_3

°°°


Hari ini Revan bersiap untuk datang ke perusahaan setelah sekian lama dia sempat vakum dan bersembunyi. Dia sudah rapi dengan jas dan kemeja yang Rara pilihkan.


"Kak, apa nanti siang kak Revan pulang makan siang atau makan di kantor?" tanya Rara yang sedikit tidak rela sebenarnya. Dari kemarin selalu menghabiskan waktu berdua kini mereka harus kembali ke rutinitasnya lagi. Rasanya masih kurang.


"Sepertinya hari ini akan sibuk sayang, banyak hal yang harus aku urus dan Mike juga tidak ada jadi aku harus mengurus semuanya sendirian," terang Revan.


Rara memakaikan dasi di leher suaminya dan sedikit menekuk wajahnya.


"Kenapa, apa kamu tidak senang karena hari ini aku kembali bekerja?" tanya Revan yang menyadari perubahan raut wajah istrinya.


"Bukan begitu Kak, aku tentu saja senang kak Revan mau bekerja itu artinya kak Revan bertanggung jawab sebagai kepala keluarga. Tapi mungkin aku akan merindukan masa-masa kita menghabiskan waktu berdua," tutur Rara.


"Aaa... sini aku peluk." Revan membawa sang istri ke dalam pelukannya setelah dasinya terpasang rapi.


"Istriku ini pengertian sekali sih... aku jadi makin sayang jadinya. Maaf ya kalau aku tidak bisa menemanimu setiap waktu, tapi aku janji tidak akan mengambil banyak pekerjaan lembur dan kalau weekend kita akan menghabiskan waktu berdua."


"Aku mengerti Kak, tanggung jawab kakak itu besar. Bukan hanya aku tapi banyak juga keluarga yang bergantung pada perusahaan. Jadi aku pasti sabar menunggu kak Revan pulang," timbal Rara yang mengeratkan pelukannya. Belum juga pergi tapi sudah rindu.


"Terimakasih sayang, aku beruntung sekali mempunyai istri sebaik kamu. Oh iya akhir pekan besok akan aku usahakan agar kita bisa pergi ke rumah Abi, apa kau senang?" kata Revan seraya mengurai pelukannya menatap wajah istrinya lekat.


Mata Rara bercahaya penuh kebahagiaan mendengar kabar itu, kemarin-kemarin memang mereka sudah membicarakannya tapi tidak menyangka akan secepat itu bisa pulang.


"Iya aku senang Kak, sangat senang malahan. Terimakasih suamiku," ucap Rara seraya berjinjit dan membubuhkan ciuman di pipi suaminya.


"Kau sudah berani menggodaku sekarang," celetuk Revan seraya mendekatkan wajahnya pada sang istri yang malu-malu setelah mencium nya.


"Siapa yang menggoda, itu... sebagai tanda terimakasih ku pada kak Revan," lirih Rara yang masih malu-malu.


"Kalau saja aku tidak ada urusan penting hari ini pasti aku sudah membawamu ke atas ranjang dan mengurungmu di kamar," ujar Revan yang menahan diri untuk tidak membawa istrinya untuk mengarungi indahnya dunia lagi.


,,,

__ADS_1


Di bawah, kakek Tio sudah menunggu di meja makan. Dia sedang membicarakan rencananya hari ini pada pak Ahmad.


Kakek Tio sudah sangat jengah pada orang-orang yang tidak tau diri itu. Hari ini beliau pastikan kalau mereka harus mendapatkan balasannya. Di pecat dari perusahaan itu sudah pasti, tapi kakek Tio tidak mau hanya itu. Beliau sudah memasukkan tuntutan ke kantor polisi dan hari ini juga mereka akan di tangkap.


"Bagaimana, apa kau sudah mengatur semuanya?" tanya kakek Tio pada pak Ahmad.


"Sudah Tuan, nanti tuan Revan bisa datang saat pertemuan sedang berlangsung dan saya pastikan mereka tidak bisa kabur sebelum polisi datang," jelas pak Ahmad.


"Baguslah, mereka sudah berani bermain-main dengan nyawa cucuku dan juga orang-orang yang tidak bersalah. Pastikan aset mereka semua disita dan blacklist nama mereka dari dunia bisnis," tegas kakek Tio.


Revan dan Rara pun turun ke bawah menuju meja makan.


"Pagi kakek," sapa sepasang suami istri itu.


"Pagi nak, duduklah."


Rara dan Revan duduk bersebelahan, Rara mulai melayani suaminya. Mengambil nasi dan lauk pauk nya. Setelah itu barulah ia mengambil makanan untuk diri.


"Aku siap Kek, bukti juga sudah terkumpul jadi aku tidak mengeksekusi mereka saja dihadapan anggota dewan direksi," ungkap Revan, walaupun sebenarnya dia butuh dukungan kakek atau Mike tapi dia tidak ingin melibatkan kakeknya lagi.


"Kalau ada kendala apapun jangan lupa beritahu kakek, nanti pak Ahmad akan ikut ke kantor. Kamu jangan menolak lagi agar kakek bisa tenang menunggu di rumah," desak kakek Tio pada cucunya.


"Iya Kek, terimakasih sudah membantuku." Kalau tidak ada sang kakek pasti saat ini Revan sudah terdepak dari perusahaan nya sendiri. Bagaimana pun posisi direktur utama pasti tidak bisa kosong selama itu.


"Itu sudah tugas kakek menjaga yang kakek punya. Akar masalahnya juga sebenarnya sudah ada jauh sebelum kamu memimpin, hanya saja mereka baru berani nekat setelah perusahaan berpindah ke tanganmu." Kakek Tio tidak habis pikir pada mereka yang dulunya ia tolong. Beliau sudah berbaik hati memberikan pekerjaan dan sebenarnya mereka juga berjasa saat kakek baru merintis tapi karena ketamakan mereka jadilah salah jalan.


Namun, kakek tidak akan melupakan jasa mereka sewaktu perusahaan nya belum sebesar itu. Oleh karena itu kakek Tio sudah menyuruh pak Ahmad untuk mengurus keluarga mereka jangan sampai keluarga mereka terlantar.


Usai sarapan, Revan langsung berangkat ke kantor.


Rara memandangi mobil suaminya hingga menghilang di pintu gerbang.


Semoga semua urusan suamiku lancar hari ini agar tak ada lagi yang membebani pikiran kak Revan. Dan semoga assisten Mike bisa segera sadar agar kak Febby tidak bersedih lagi.

__ADS_1


Rara sangat tau kalau suaminya sangat terbebani dengan keadaan Mike yang tak kunjung sadar. Maka dari itu Revan ingin segera menyelesaikan masalahnya.


Sekitar jam sembilan, Rara pergi kuliah diantarakan supir yang disediakan oleh suaminya. Bukan hanya pandai mengendarai mobil tapi juga jago bela diri, tentu agar bisa melindungi nonanya.


Baru saja turun dari mobil Rara melihat Lia juga baru saja sampai di parkiran kampus.


"Lia...," panggil Rara.


Lia yang merasa namanya dipanggil pun menoleh dan melihat temannya. Lalu dia melambaikan tangannya dan bicara pada Sakka untuk lebih dulu masuk ke kelas.


"Aku masuk duluan bareng Rara ya... dadaahhh..." Lia pergi begitu saja tanpa menunggu Sakka menjawab. Sementara pria itu hanya geleng-geleng kepala melihatnya.


Kalau sudah ketemu BESTie nya pasti aku ditinggal. keluhnya dalam hati.


"Calon pengantin kita makin cantik aja sih," goda Rara saat Lia sudah ada di depannya.


"Apaan sih Ra, ini tuh gara-gara tantenya Sakka yang mengajakku perawatan kemarin. Ternyata jadi orang kaya ribet juga yaa... Pakai ada krim-krim apa itu... " Lia yang selama ini hanya memakai pelembab wajah dan sabun cuci muka saja merasa heran dengan banyak nya krim perawatan dari dokter kecantikan.


Rara hanya tertawa mendengar cerita Lia saat melakukan perawatan.


to be continue...


°°°


Semoga lancar ya urusan Revan.


Kapan nih Thor Mike bangunnya?


Kapan ya, tar othor pikirin dulu.😂


Like komen dan bintang lima 😍


Gomawo

__ADS_1


__ADS_2