Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
150. Tidak ada Lagi Perumusan


__ADS_3

°°°


Rara menemani Febby diruang kesehatan sepanjang siang. Mereka bercerita dan mengobrol layaknya teman lama. Sudah tidak ada lagi dendam ataupun amarah di antara mereka.


"Sekali lagi terimakasih ya Ra, kalau tadi tidak ada kamu. Aku tidak tau apa yang akan terjadi padaku, mungkin laki-laki itu sudah berhasil melecehkan ku." Febby sangat beruntung masih bisa melepaskan diri dari pria gilaa itu.


"Cukup kak, kau sudah berapa kali mengucapkan terimakasih. Kita ini kan teman, jadi tidak perlu lagi berterimakasih," Ujar Rara.


Febby terharu mendengar ucapan Rara. Ia malu pada dirinya sendiri. Dulu dia begitu jahat pada istri mantannya itu tapi yang menyelamatkannya justru dia yang sudah Febby sakiti.


"Maafkan aku juga ya, dulu aku sudah menjadi orang ketiga diantara kau dan Revan. Aku sadar sekarang, kamu sangat layak menjadi istrinya." Febby mengulas senyum memuji Rara.


"Terimakasih Kak, aku yakin kakak juga sebenarnya orang yang baik," ujar Rara. "Oh iya Kak, apa saja yang mau kak Febby tuntut dari orang itu. Kalau aku rasa harus dihukum yang berat agar tidak ada lagi korban lainnya."


Rara merasa orang itu pasti akan berbuat nekad lagi jika tidak membuatnya jera.


"Tidak Ra, aku tidak ingin menuntut apa-apa. Biarkan saja orang saja orang itu, menghukumnya hanya akan membuat kebenciannya padaku semakin besar." Febby sungguh tidak ingin berurusan dengan pria itu lagi, walaupun sekedar menjadi saksi.


"Kenapa kak, kalau dibiarkan nanti dia bisa mengulangi lagi perbuatannya," Ujar Rara, dia sebagai sesama wanita tidak terima jika ada pria yang melakukan tindakan pelecehan.


"Aku tidak ingin berurusan lagi dengan pria itu," ujar Febby lirih, ya sebenarnya dia sedikit merasa khawatir jika pria itu benar-benar menyebar luaskan tentang dirinya.


"Kalau begitu kak Febby tenang saja, biar aku yang mengurus sisanya." Rara yakin orang-orang suruhan suaminya pasti bisa mengurusnya.


Sudahlah, lagian juga tidak ada yang perlu aku tutupi lagi dari semua orang. Mike juga sudah tau bagaimana aku dulu. Mau semua orang tau atau tidak, sama sekali tidak ada pengaruhnya.


Febby hampir lupa apa tujuannya datang ke kampus, dia belum menanyakan perihal Mike pada Rara.


Febby pun bangun dan duduk bersandar, keadaannya sudah jauh lebih tenang sekarang.


"Apa kak Febby butuh sesuatu?" tanya Rara.


"Tidak butuh apa-apa, ada hal yang mau aku tanyakan padamu," ujar Febby, sebenarnya dia takut Rara akan salah paham. "Tapi sebelumnya, kamu jangan salah paham dulu padaku. Aku dan Revan benar-benar sudah berakhir."


"Ada apa kak, tanyakan saja. Aku akan menjawab kalau bisa." Rara tersenyum, sebagai tanda bahwa dirinya tidak apa-apa.

__ADS_1


"Apa sedang ada masalah di perusahaan suamimu?" tanya Febby.


"Memang ada sedikit masalah kak," ujar Rara.


"Apa suamimu juga ada diluar kota? Apa masih lama pulangnya?"


Sontak Rara sedikit heran mendapat pertanyaan seperti itu, dari mana Febby tau tentang kepergian suaminya.


"Kamu jangan salah paham, aku bukan bermaksud menanyakan suamimu. Aku dan Revan sudah berakhir, cuman ada sesuatu hal yang belum bisa aku ceritakan padamu." Febby tidak tau bagaimana caranya mau menceritakan hubungan nya dengan Mike. Apalagi kenyataan dirinya yang sedang mengandung anak laki-laki itu tanpa adanya pernikahan.


Rara melengkungkan bibirnya ke atas, dari raut wajah Febby memang dia tidak sedang berbohong sepertinya.


"Iya kak, kak Revan ada di luar kota bersama assisten nya," terang Rara.


Jadi benar, Mike diluar kota bersama Revan. Bukan karena menghindari ku. Gumam Febby dalam hatinya.


"Ada apa kak, apa ada hal penting yang mau kak Febby bicarakan dengan kak Revan?" tanya Rara.


"Ehh... tidak ada Ra, aku hanya ingin tau saja. Oh iya terimakasih ya kamu mau temenin aku disini, kamu pasti lelah kan. Kalau kamu mau pulang juga tidak apa-apa, aku juga mau pulang aja sepertinya." Febby hendak berdiri.


"Aku tidak apa-apa, hanya luka kecil. Mungkin tadi karena syok aja, tapi sekarang berkat kamu aku sudah lebih baik. Terimakasih ya," ujar Febby.


"Sama-sama Kak, biar aku antar sampai ke parkiran." Rara pun membantu Febby berjalan, memapahnya dengan perhatian.


Di sepanjang perjalanan mereka menuju parkiran, mata para mahasiswa/i melihat Febby dengan berbeda dan Febby pun menyadari hal itu. Apalagi saat ada beberapa orang yang sengaja menggunjingnya saat Febby dan Rara lewat.


"Lihat tuh, kelihatannya wanita baik-baik tapi nggak nyangka aslinya suka keluar masuk hotel sama cowok. Ganti-ganti lagi..." Tatap mereka pada Febby dengan jijik.


"Iya aku juga nggak nyangka, dihh mendingan kita ya..."


"Jangan sampai kita berteman sama dia."


"Sudah berapa banyak pria yang tidur sama dia."


Sungguh Febby sangat ingin marah, tapi untuk apa kalau yang mereka katakan itu benar. Dia tidak ingin menanggapi mereka, yang ingin dia lakukan saat ini bisa segera pergi dari sana.

__ADS_1


"Hai Feb, bagaimana kalau nanti malam temani aku. Aku juga bisa memuaskan mu."


"Denganku aja, aku bisa tahan lama dan bikin kamu puas."


"Jangan mau sama mereka, punyaku lebih besar."


"Hahahaha...."


Sekelompok pria ikut mengolok-olok Febby dengan ucapan yang menjijikkan. Hati siapa yang tidak sakit diperlukan seperti itu, apa mereka merasa paling suci di dunia ini sampai berhak menghakimi dosa orang lain.


Tubuh Febby sudah bergetar menahan rasa yang membuncah di dada nya. Ingin kesal, marah, dan menangis tapi apa daya dia tidak sekuat itu untuk menghadapi seisi kampus.


"Kak...," Rara merasakan bagaimana tubuh Febby bergetar menahan sesuatu.


"Mereka sudah keterlaluan kak," ujar Rara melihat orang-orang disana.


"Tidak apa-apa, jangan pedulikan mereka." Febby berkata seperti itu tapi hatinya menjerit ingin membuat mereka menutup mulut.


Sejenak Rara mengagumi sosok Febby yang sekarang, dia bisa sabar mendengar semua cacian itu. Semoga saja kak Febby sudah benar-benar berubah, harap Rara.


"Terimakasih untuk hari ini, tidak tau bagaimana caranya membalas kebaikan kamu," ujar Febby, saat ini mereka sudah ada di parkiran tepatnya di dekat mobil yang menjemput Febby.


"Biar Allah saja yang membalas kak, tidak perlu memikirkan hal itu."


Febby memeluk Rara, entah apa yang ada di pikirannya tapi baru kali ini ada orang yang baik padanya bahkan orang itu pernah ia sakiti. Benar-benar tidak menyangka jika suatu hari Rara akan datang memberi bantuan.


"Aku pulang duluan ya... terimakasih sekali lagi," ujar Febby setelah melepaskan pelukannya.


"Hati-hati kak," ujar Rara seraya melambaikan tangan.


to be continue...


°°°


Mereka sudah jadi BESTie ya, bukan lagi istri sah dan pelakor...🤭

__ADS_1


Like komen dan bintang lima 😍😍😍


__ADS_2