
°°°
Rasa sakit yang Rara rasakan semakin lama semakin sering dan sudah tidak bisa ditahan.
"Umi... sakit umi... " rintih Rara pada uminya.
"Sabar sayang, sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit," ujar umi.
Saat ini mereka sedang dalam perjalanan ke rumah sakit. Revan, Rara dan umi ada dalam satu mobil, lalu di mobil yang lain ada kakek dan Abi. Sementara Mike dan Febby menggunakan mobil mereka sendiri.
Revan mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, menerobos keramaian ibukota sore itu. Sesekali ia juga menoleh memperhatikan istrinya yang kesakitan.
"Kak cepak kak... aku sudah tidak tahan lagi...." Rara terus menahan rasa sakitnya, sesekali dia juga menjambak rambut suaminya yang sedang menyetir.
"Sayang kau jangan mengganggu suami mu. Bisa bahaya nanti."
"Tapi ini sakit umi... aww... sepertinya sudah mau keluar umi... aawww..."
Rara berteriak saat sesuatu mendorong keluar dari dalam tubuh bagian bawah nya.
"Nak Revan apa masih jauh rumah sakitnya?" tanya umi yang mulai panik karena cairan ketuban putrinya sudah merembes.
"Sebentar lagi umi." Revan pun menambah kecepatan lagi.
"Sayang bertahanlah sebentar lagi kita sampai." Revan mulai panik juga.
Nak, tahan sebentar lagi. Tunggu ada dokter baru kamu boleh keluar.
,,,
Akhirnya mereka sampai juga di rumah sakit.
Revan segera menggendong istrinya ke ruangan bersalin.
"Dokter, di mana dokter! istriku mau melahirkan! Cepat tolong istriku!" Revan berteriak saat melihat istrinya semakin kesakitan.
"Sa... kit sekali Kak... perutku sakit..."
"Sabar sayang, sebentar lagi dokter akan datang dan membantu mu."
Revan dengan setia menemani sang istri selama persalinan.
"Kau pasti bisa Sayang, aku ada disini. Lakukan apapun yang kamu mau untuk mengurangi rasa sakitmu."
__ADS_1
Revan dengan sukarela menyerahkan tubuhnya sebagai pelampiasan rasa sakit yang istrinya rasakan. Baginya yang ia rasakan tidak ada apa-apanya dibandingkan sang istri yang harus berjuang hidup dan mati.
"Aarrggghhh... "
"Terus Nyonya, sebentar lagi bayinya keluar." Dokter pun membimbing Rara untuk mengejan.
"Tarik nafas panjang lalu mengejan," ujar dokter.
Rara pun menurut, dia menarik nafas panjang lalu tangannya mencengkram kuat lengan suaminya dan dia mengejan.
"Engggg...."
"Oek oek oek...." Tangis bayi mungil itu pun akhirnya terdengar.
Revan ikut terharu atas perjuangan sang istri melahirkan anak mereka. Dia pun menghujani seluruh wajah istrinya dengan ciumaann.
"Terimakasih Sayang, terimakasih kau sudah berhasil melahirkan anak kita. Kau hebat," ujar Revan dengan rasa bangga yang berkali lipat pada sang istri. Rasa cintanya pun bertambah besar.
Kau wanita hebat Rara aku berjanji akan mencintai mu seumur hidupku. Akan melindungimu dan anak kita.
Rara juga menitikkan air matanya, bulir bening itu terus mengalir tak kala mendengar tangisan anaknya.
"Tuan, Nyonya bayi kalian perempuan...," kata dokter sambil menyerahkan bayi mungil yang baru saja lahir ke dunia ini.
"Ini putri kita Kak, aku jadi mamah sekarang." Rara tak kalah bahagia saat merasakan pertama kalinya sang putri menyusu.
,,,
Di luar semua orang pun bernafas lega saat mendengar suara tangisan bayi. Kakek bahkan tak henti-hentinya bersyukur, di usianya yang sekarang beliau masih diberikan kesempatan untuk melihat cicit.
"Aku jadi kakek buyut sekarang... kalian dengar, cicit ku sudah lahir. Aku jadi kakek buyut."
Kebahagiaan pun menyelimuti semua orang. Bayi yang dinanti-nantikan akhirnya terlahir ke dunia ini dengan selamat.
Abi dan Umi pun saling memeluk, mereka masih tak menyangka kalau sekarang mereka sudah menjadi kakek dan nenek.
Begitupun dengan Mike dan Febby yang sedang menggendong baby Nathan. Mereka ikut senang atas kelahiran baby A.
,,,
Rara dan baby A sudah dipindahkan ke ruangan rawat. Suasana bahagia sungguh terasa di ruangan itu. Semua orang menyunggingkan senyumnya.
"Selamat sayang, kau sudah jadi ibu sekarang," ujar umi seraya memeluk putrinya, tangis haru pun tidak sanggup ia tahan lagi.
__ADS_1
"Ya ampun umi. Kenapa umi menangis, aku kan tidak apa-apa. Lihat aku sangat kuat sampai bisa melahirkan baby A dengan selamat." Rara pun menyapukan tangannya untuk menghapus air mata uminya.
"Umi hanya terlalu bahagia nak. Umi bangga padamu." Mereka pun berpelukan kembali.
"Sudah umi... kasihan Rara kan belum pulih. Kamu peluk terus begitu," ujar Abi.
Sekarang giliran Abi yang memberikan selamat pada putrinya. Putri kecilnya yang selalu beliau anggap masih kanak-kanak sekarang sudah melahirkan anak.
"Abi..." Rara pun menghambur ke memeluk Abi nya.
Selain bahagia karena sudah berhasil melahirkan putrinya, Rara juga merasa sangat bersyukur karena setelah tadi merasakan bagaimana sakitnya melahirkan, dia jadi tau bagaimana perjuangan orang tuanya. Sungguh yang ada dibayangkan Rara saat dia berjuang adalah orangtuanya. Bagaimana dulu ibunya juga berjuang melahirkan nya. Sekarang ia tau kenapa surga ada di telapak kaki ibu.
"Sekarang kau tau kenapa Abi selalu mengajarkan kalian untuk selalu menghormati dan menyayangi ibu kalian kan. Itu karena perjuangan seorang ibu sangatlah besar. Selain melahirkan yang mempertaruhkan nyawa, seorang ibu juga harus menyusui anaknya sampai dua tahun nanti."
"Rara paham sekarang, paham bagaimana perjuangan umi dari semasa aku dan Mbak Luna masih didalam perut sampai melahirkan, menyusui dan membesarkan kami pastilah penuh kesabaran. Terimakasih umi... terimakasih untuk semua yang telah umi korbankan untuk kami."
"Kau tidak perlu berterimakasih nak, walaupun semua itu tidaklah mudah dan banyak pengorbanan tapi kehadiran kamu dan Luna adalah kebahagiaan umi. Tawa kalian, celoteh, tingkah kalian dan semua tentang kalian adalah kebahagiaan umi, kalian juga separuh jiwa umi, saat kalian sakit, saat kalian terluka seakan umi juga merasakannya."
Ibu dan anak itu berpelukan penuh haru. Semua orang pun ikut merasakan bagaimana kasih sayang antara umi dan Rara.
"Kau dengar nak, itulah kenapa kakek dan ibumu juga selalu mengingatkan mu untuk tidak menyakiti wanita. Itu karena perjuangan mereka sungguh luar biasa, itulah kenapa kakek sangat kecewa padamu saat kau menyakiti wanita sebaik Rara." Kakek yang ada di samping Revan pun kembali mengingatkan cucunya agar selalu menghargai dan menghormati wanita.
"Apalagi sekarang Rara sudah berjuang demi melahirkan anakmu. Kakek harap kau selamanya akan selalu mencintai, menghormati dan menghargai istri mu."
"Iya Kek, aku sudah lihat sendiri bagaimana perjuangan Rara. Dia sungguh wanita yang luar biasa." Revan setuju dengan apa yang kakeknya pesankan padanya.
Suasana haru pun berganti tawa saat tingkah baby Nathan yang menggemaskan saat melihat baby A di box bayi nya.
Dia yang baru berumur lima bulan berceloteh dengan bahasa bayinya.
"Sepertinya Nathan sangat menyukai baby A," seloroh Rara.
"Sepertinya begitu... " Tawa semua orang pun memenuhi ruangan itu.
"Oh iya jadi siapa nama untuk baby A?"
"Namanya...."
to be continue...
°°°
Like komen dan bintang lima 😍
__ADS_1
Terimakasih ❤️❤️❤️