
°°°
Setelah dinyatakan boleh pulang, Rara segera membantu suaminya untuk berganti pakaian dan membereskan barang-barang yang ada disana.
"Kita pulang sekarang Kak?" tanya Rara saat melihat suaminya mematung.
"Bisakah kita lihat ke kamar Mike lebih dulu sebelum pulang?" tanya Revan, dia takut sang istri akan salah paham akan maksudnya makanya sejak tadi tidak berani mengatakan hal itu.
Rara mengulum senyum mendengarnya, rupanya hal itulah yang telah mengganggu pikiran sang suami hingga seperti mematung.
"Tentu Kak, kenapa tidak bilang sejak tadi. Kita bisa lebih lama disana kan." Rara tidak lagi cemburu atau apa, melihat bagaimana dalamnya perasaan Febby pada assisten Mike membuat Rara yakin wanita itu sudah bisa melupakan suaminya.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin melihat nya sebentar saja sebelum pulang," ujar Revan.
"Ayo aku bantu kak." Rara membantu suaminya berpindah ke kursi roda. Lalu mendorong nya ke kamar sebelah.
tok tok tok
Rara mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk, takutnya Febby sedang berganti pakaian atau apa.
Ceklek
Seorang wanita dengan mata sembab membukakan pintu, tidak bisa lagi ditutupi bagaimana sedihnya Febby yang menunggu Mike tak kunjung membuka mata.
"Boleh kami masuk?" tanya Revan.
"Tentu, silahkan...," Febby mempersilahkan Revan dan Rara masuk. Rara pun mendorong kursi roda yang dinaiki suaminya masuk kedalam ruangan itu.
Sampai di dekat ranjang tempat Mike berbaring, Revan masih diam membisu. Sampai Rara mengisyaratkan lewat matanya pada Febby agar memberikan mereka waktu berdua.
"Kami tunggu di luar ya Kak," ujar Rara.
"Ayo Kak," ajaknya kemudian pada Febby dan ia pun mengangguk.
__ADS_1
"Bicaralah, aku rasa dia ingin mendengar sesuatu darimu." Febby pun mengikuti Rara dan keluar dari sana. Membiarkan Mike mendengarkan apa yang ingin ia dengar dari Revan.
Setelah Febby dan sang istri keluar, Revan maju lebih dekat untuk melihat Mike lebih jelas lagi.
"Terimakasih Mike, terimakasih sudah menggantikan ku berbaring di sini." Revan menghela nafasnya panjang sebelum melanjutkan apa yang ingin ia katakan pada Mike.
"Sebenarnya aku tidak habis pikir dengan apa yang kamu lakukan, mengorbankan nyawa mu sendiri tanpa pikir panjang. Bagaimana kalau saat itu kamu tidak selamat, bagaimana kalau orang-orang yang menyelamatkan kita datang terlambat dan nyawamu tidak tertolong. Apa kau pernah berpikir sejauh itu Mike?"
"Bagaimana caraku menjelaskan pada Febby bila semua itu terjadi? Apa kau juga pernah berpikir bagaimana kalau nanti anakmu terlantar bila ayahnya tidak ada lagi. Mike kau itu keterlaluan! Setidaknya pikirkan semua itu sebelum bertindak."
Tanpa disadari tangis seorang Revan luruh juga, sangat pantas ia keluarkan untuk orang seperti Mike.
"Kau harus bangun Mike, jangan membuat Febby menunggu lagi. Lihatlah matanya sembab karena menangisimu setiap hari dan lagi dia sedang mengandung, tidak baik bagi ibu mengandung kalau menangis setiap hari."
"Aku juga mau bilang kalau aku tidak akan membiarkan orang-orang itu lolos begitu saja, begitupun dengan kakek. Dia tidak akan membiarkan orang yang sudah melukai cucu-cucunya hidup tenang. Aku tidak akan menyia-nyiakan pengorbanan mu, Mike. Aku pastikan akan menghukum mereka semua."
Revan menghapus air matanya, sebelum ada yang melihat kalau dia menangis.
"Kita bisa pergi sekarang," ujar Revan pada sang istri yang sedang duduk bersama Febby.
"Tolong jaga Mike dengan baik, jangan pernah tinggalkan dia dengan keadaannya yang seperti itu," ujar Revan pada Febby.
"Pasti, kau tidak perlu khawatir. Aku pasti akan selalu berada di sampingnya. Aku tidak tau kenapa Mike tega melakukan ini pada kami, tapi aku yakin dia punya alasan kenapa menyelamatkan kamu. Jadi jangan sia-siakan usahanya." Febby pun mengingatkan Revan.
"Iya aku tau, kau tenang saja."
"Kita pulang dulu Kak, aku akan sering berkunjung nanti," pamit Rara pada Febby.
"Iya, kalian hati-hati di jalan." Febby melambaikan tangannya.
Tak sengaja Rara dan Revan berpapasan dengan mamah Wina yang akan mengunjungi putrinya.
"Sore Tante," sapa Rara yang sudah beberapa kali bertemu dengan wanita itu saat mendatangi Febby, tapi entah kenapa setiap kali bertemu dengannya wanita itu seperti tidak senang melihat Rara. Rara pun jadi bertanya-tanya ada apakah yang membuat wanita itu terlihat membencinya.
__ADS_1
"Kau sudah mau pulang Van, sayang sekali Febby masih menunggui Mike yang tidak tau bisa sadar atau tidak," ketusnya yang merasa tidak puas pada putrinya karena menolak semua pria yang dijodohkan dengan nya.
"Mike pasti akan bangun Tante tidak usah khawatir. Aku akan carikan dokter terbaik untuknya. Dan ya, tolong Tante biarkan saja Febby di sana menemani Mike." Revan tidak suka dengan apa yang dikatakan mamah Wina. Untunglah Febby sudah berubah sekarang, tidak lagi seperti itu lagi.
"Tante tau Van, lagian anak itu juga tidak akan mau pergi walaupun aku suruh. Entah pelet apa yang Mike berikan hingga Febby masih tergila-gila pada pria sekarat seperti itu," kesal mamah Wina pada putrinya.
"Astaghfirullah Tante, Mike bukan laki-laki seperti itu. Dia memperlakukan Febby dengan baik sewaktu masih sehat makanya Febby sangat mencintainya. Tante tidak boleh menjudge orang seenaknya." Revan tidak terima mamahnya Febby menilai Mike seperti itu.
"Lebih baik Tante temani saja Febby dan berikan dia semangat. Permisi Tante saya harus pergi," pamit Revan.
"Sombong amat si, lihatlah istrinya sok suci dan sok polos begitu tapi nyatanya dia sudah merebut kekasih putriku. Kalau tidak, seharusnya putriku yang menjadi nyonya Hermawan saat ini."
Mamah Wina mencebikkan bibirnya, merendahkan Rara dan ucapannya yang cukup keras tentu di dengar oleh Rara dan suaminya.
Rara melihat tangan suaminya yang mencengkram erat pegangan kursi roda setelah mendengar perkataan mamahnya Febby yang tidak disaring.
"Kak, jangan dipikirkan. Kita pulang saja ya, ini masih di rumah sakit. Kalau diladeni pasti jadi tambah panjang dan membuat kegaduhan." Rara tidak ingin ribut-ribut dengan mamahnya Febby, biar bagaimanapun Febby sudah banyak pikiran dia tidak mau menambahkan beban pikiran Febby lagi.
"Tapi sayang, apa kau tidak apa-apa?" tanya Revan mengkhawatirkan istrinya.
"Tidak apa-apa Kak, kita pulang saja ya. Kakek sudah menunggu di rumah. Lagian kita tidak bisa mengatur setiap orang untuk berpikir baik tentang kita. Yang penting kak Febby tidak lagi berpikiran seperti itu padaku."
"Kau benar, ayo kita pulang," Revan menggenggam tangan istrinya yang sedang memeganginya kursi roda.
to be continue...
°°°
Terima kasih ya yang sudah setia membaca sampai sejauh ini.
Like komen dan bintang lima 😍
❤️❤️❤️
__ADS_1