
°°°
Hari ini Rara sudah diperbolehkan pulang. Kakek dan para pelayan pun sedang sibuk untuk menyambut kedatangan cucu menantu keluarga Hermawan yang sedang mengandung calon pewaris keluarga itu.
"Bagaimana, apa semuanya sudah siap??" tanya kakek Tio pada pak Ahmad yang sedang mengatur dekorasi.
"Sudah Tuan, sesuai keinginan anda. Kejutan untuk nona sudah siap," ujar pak Ahmad yang juga merasakan kebahagiaan di rumah itu.
Bahkan para pelayan yang sudah bekerja disana lama pun ikut merasakan kebahagiaan majikannya.
"Baguslah, bagaimana dengan makanannya? Jangan lupa makanannya harus bergizi agar cicitku tumbuh sehat dan pintar nantinya." Terserah jika ada yang menganggap kakek Tio berlebihan, tapi menurut nya semua itu tidak akan cukup mengutarakan kebahagiaannya. Dimana umurnya yang sudah sangat tua masih diberikan kesempatan untuk melihat cicit pertamanya kelak.
"Tentu Tuan, Semuanya sudah siap dan sesuai dengan anjuran ahli gizi." Pak Ahmad selalu mengerjakan pekerjaannya dengan baik.
Kakek Tio pun menepuk pundak pak Ahmad. Kalau tidak ada pria itu di sisinya entah bagaimana hidupnya saat dia sedang terpuruk Kehilangan putrinya.
,,,
Di dalam mobil.
Rara sangat menikmati kehamilan pertamanya. Dimana kasih sayang suami dan keluarganya begitu berlimpah ia rasakan. Seperti saat ini Revan selalu memastikan kalau istrinya duduk dengan nyaman di mobil, dia juga selalu memperingati supir agar jangan sampai roda mobilnya melewati lobang di jalanan.
"Kak, aku baik-baik. Jangan terlalu khawatir," ujar Rara yang kasihan pada pak supir yang terus di mendapatkan peringatan dari suaminya.
"Tidak sayang, kata dokter guncangan pada wanita hamil itu bisa berakibat fatal. Aku tidak mau itu terjadi pada padamu." Revan membawa istrinya dalam dekapannya.
"Lalu bagaimana kita pulang ke rumah Abi nanti, di desaku jalanan nya bahkan belum teraspal semuanya. Masih ada jalan berbatu dan naik turun," ujar Rara, bukan ingin menakuti suaminya tapi dia hanya ingin agar Revan tidak terlalu berlebihan.
"Kau benar sayang, hampir saja aku melupakan hal itu. Nanti aku pikirkan solusinya, kau tenang saja. Aku pastikan kau dan anak kita akan aman." Revan mengusap lembut perut istrinya dengan penuh cinta.
Ya ampun, apa aku sudah salah bicara tadi. Apa yang akan kak Revan lakukan agar bisa membawaku pulang. Semoga saja bukan hal yang aneh.
Sampailah mereka di kediaman keluarga Herwaman.
__ADS_1
"Pelan-pelan sayang," ujar Revan seraya memapah sang istri untuk turun dari mobil.
Rara hanya tersenyum, percuma saja kalau melarang laki-laki itu untuk tidak berlebihan. Tidak apa-apa selama itu memang untuk kebaikan dia dan janinnya, Rara akan menerima semua perhatian sang suami.
"Kak, kenapa ada karpet merah di sini?" tanya Rara karena dia merasa seperti orang penting yang berjalan diatasi red karpet.
"Kau lihat kan, bukan aku saja yang berlebihan. Sepertinya kakek lebih berlebihan dari aku."
Rara hanya bisa pasrah, setelah ini entah apa lagi yang akan suami dan kakek Tio lakukan. Bukan tidak mau di manja atau di perhatikan tapi Rara hanya tidak ingin membuat semua orang jadi repot padahal dia tidak pernah minta apa-apa.
"Ayo masuk," ajak Revan yang masih setia merangkul pinggang sang istri.
Dan saat Rara ada di depan pintu, tiba-tiba pintu itu terbuka lebar membuat Rara terkejut dengan apa yang ia lihat.
"Selamat datang calon mamah dan papah...," teriakkan semua orang menggema menyambut kedatangan pasangan suami istri itu. Suara terompet dan bunga pun dilemparkan ke arah mereka.
"MasyaAllah... ini... " Rara tidak pernah membayangkan akan mendapatkan kejutan seperti itu. Dia sampai terharu dibuatnya.
"Sayang, kamu kenapa menangis? apa kamu tidak suka dengan kejutannya?" tanya Revan dengan panik. Seketika semua orang yang tadi riuh pun diam dan merasa bersalah karena sudah membuat bumil itu menangis.
"Lalu kenapa sayang, coba katakan apa yang kamu rasakan? Apa ada yang sakit?" tanya Revan lagi.
"Benar nak, kau kenapa? Kalau kau tidak suka kakek akan menyuruh pelayan untuk membersihkan ini semua sekarang juga," ujar kakek Tio yang sama khawatir nya.
"Cepat kau bawa istrimu untuk duduk dulu Van," perintah kakek Tio pada cucunya.
Revan pun mengangkat tubuh istrinya ala bridal style dan membawanya ke sofa yang juga sudah dihias dengan cantik.
"Astaghfirullah kak Revan, Aku bisa jalan sendiri," protes Rara.
"Diam saja sayang, jangan banyak bergerak. Aku tidak mau kalian kenapa-napa."
Sampai di sofa Revan pun menurunkan istrinya perlahan. Lalu duduk di sebelahnya. Semua orang juga berkumpul untuk mendengar apa sebenarnya yang membuat wanita cantik itu menangis.
__ADS_1
"Sayang katakanlah kau itu kenapa??" tanya Revan.
"Aku tidak apa-apa Kak, hanya saja aku terlalu bahagia mendapatkan kejutan seperti ini. Terimakasih kakek, aku benar-benar terharu."
Akhirnya semua orang pun merasa lega dan melanjutkan pesta kecilnya.
Rara benar-benar di manjakan, hanya ingin bergerak sedikit saja sudah ada pelayan yang membantunya. Seperti saat ini saat dia makan. Para pelayan dengan sigap mengambilkan satu-satu menu yang ada di sana yang tidak bisa di jangkau oleh Rara.
"Ya ampun, sepertinya ini berlebihan Kak. Bukankah dokter juga bilang kalau wanita hamil tidak boleh malas. Kalau begini terus bagaimana aku bisa bergerak," bisik Revan karena tidak mau kakek Tio tersinggung. Rara mengerti antusias kakek menyambut cicitnya.
"Tidak apa-apa sayang, biarkan Kakek melakukan apa yang dia mau hari ini. Besok baru kita jelaskan pelan-pelan. Dia sudah memikirkan pesta ini dari kemarin, jadi kita harus menghormati usaha kerasnya." Revan benar dan sang istri pun mengangguk setuju.
Beberapa saat kemudian.
Aku sungguh sudah kenyang, tapi kasihan kakek yang sudah menyiapkan ini semua. Perutku rasanya sudah tidak muat menampung semua makanan ini.
Walaupun Rara tidak memakannya sampai habis hanya mencicipi nya sedikit tapi karena banyaknya jenis makanan yang ada membuatnya tetap kenyang.
"Bagaimana nak, apa kau menyukai makanan ini. Atau kau ingin yang lain??" tanya kakek.
"Aku suka kek, tapi kalau harus mencicipi semuanya aku tidak bisa sepertinya. Aku sudah kekenyangan kek," ujar Rara jujur.
"Apa kau sudah kenyang? Sebaiknya kita ke kamar saja istirahat," ajak Revan.
"Maaf kek, sepertinya Rara tidak sanggup memakan semua ini. Lebih baik bagikan pada pelayan saja agar semua bisa ikut merasakan Kek," ujar Revan.
"Kau benar, nanti kakek akan suruh pelayan untuk makan bersama. Kakek juga tidak ingin cicit kakek nantinya kesempitan gara-gara mamahnya makan terlalu banyak."
Semua orang melongo mendengar perkataan kakek yang entah mendapatkan pikiran seperti itu dari mana.
to be continue...
°°°
__ADS_1
Like komen dan bintang lima 😍
Gomawo ❤️❤️❤️