Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
69. Perkara Datang Bulan


__ADS_3

...Yang masih punya sisa Vote boleh dong dibagi buat author yang sedang merangkak ini....


...Wo ai ni...


°°°


Melihat istrinya kembali pucat dan panas pun membuat Revan langsung panik. Tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi.


"Diamlah disini, aku akan panggilkan dokter untuk memeriksa keadaan mu lagi," ujar Revan setelah ia membaringkan tubuh istrinya di atas ranjang.


"Tapi Kak, aku sudah tidak apa-apa." Rara yang tau apa penyebab tubuhnya begitu pun menolak.


"Jika kau masih menolak juga kita akan ke rumah sakit sekarang." Kalimat Revan membuat Rara tidak bisa berkata apa-apa lagi selain menurut.


Padahal aku sudah tidak apa-apa, pasti karena hari pertama haid jadinya aku sedikit pucat. Monolog Rara dalam hatinya.


Kakek yang mendengar cucunya kembali memanggil dokter sangat khawatir dan segera mencari tau keadaan Rara.


"Nak, bagaimana keadaan istrimu?" tanya kakek yang baru saja datang di kamar cucunya.


"Tadi suhu tubuhnya naik lagi makanya aku memanggil dokter lagi Kek," jelas Revan.


"Kenapa tidak ke rumah sakit saja, disana bisa ditangani dengan baik." Kakek mencoba menyarankan.


Rara yang mendengar kekhawatiran kakeknya semakin merasa bersalah. Masalah yang kemarin saja ia belum meminta maaf tapi pagi ini ia sudah membuat keributan lagi.


"Cucu menantu kakek yang tidak mau ke rumah sakit." Revan menyindir sang istri yang sedikit keras kepala.


"Kenapa nak, bagaimana kalau sakitmu bertambah parah. Ke rumah sakit saja ya," bujuk kakek pada Rara penuh kekhawatiran.


Rara tidak tau harus berkata apa-apa lagi, keluarga sang suami sungguh sangat baik padanya. Di balik kesalah pahaman ini ia memanjatkan beribu rasa syukur pada Tuhan yang maha kuasa karena telah memberinya suami dan kakek yang begitu baik.


"Aku tidak apa-apa, Kek. Kakek jangan terlalu khawatir yaa... Rara jadi sedih melihatnya." Rara hampir berkaca-kaca menatap kakek Tio.


"Kau bukan hanya cucu menantuku tapi sudah kakek anggap cucuku sendiri. Kakek tidak mungkin tidak khawatir padamu nak," ujar kakek seraya mengusap kepala Rara.


Sungguh Tuhan benar-benar memberikan apa yang hambanya butuhkan bukan yang hambanya inginkan. Keluarga yang menyayanginya seperti keluarga sendiri dan suami yang sempurna juga mencintainya saat ini.


Walaupun pada awalnya tidak begitu mudah tapi Tuhan sudah menyiapkan hadiahnya padi hamba yang bersabar dan selalu tawakal.


"Terimakasih Kek."


Dokter Gunawan ternyata tidak bisa datang dan sempat membuat Revan marah. Akhirnya Rara meminta tolong untuk dipanggilkan bi Mur karena ia tidak ingin terus-terusan membuat semua orang khawatir.


Rara pun menceritakan apa yang terjadi pada bi Mur termasuk masalah datang bulannya. Sang bibi pun mengerti karena dia juga perempuan.


"Nona tidak apa-apa Tuan, saya akan membuatkannya air gula. Setelah beristirahat nona akan segar kembali karena Nona sedang datang bulan."


Sejenak semua orang yang berjenis pria semua sedang mencerna penjelasan bi Mur. Meski tidak begitu mengerti jika datang bulan juga bisa membuat perempuan sakit. Tapi mereka mempercayakan Rara pada bi Mur.

__ADS_1


"Aku berangkat ke kantor dulu, sementara kamu tidak usah ke kampus. Aku sudah meminta ijin untukmu." Revan berpamitan pada istrinya.


"Iya Kak, terimakasih." Rara pun mencium punggung tangan suaminya yang hendak pergi.


"Hati-hati di jalan Kak," ujarnya lagi.


"Hubungi aku jika terjadi sesuatu." Kata Revan sebelum akhirnya ia menghilang di balik pintu.


,,,


Di tempat lain.


Febby sedang merencanakan sesuatu. Hari ini ia bertekad ingin menemui kekasihnya yang lama tidak memberinya kabar.


Tidak peduli lagi jika ia harus menemui Revan di kantornya. Ia harus mempunyai kejelasan atas hubungan mereka.


"Aaa... kenapa jadi seperti ini hubunganku dengan Revan. Padahal tinggal sedikit lagi aku menjadi nyonya Hermawan." Kesalnya.


Namun anehnya rasa kesalnya bukan hanya itu, tapi juga mengenai pemilik black card yang tak kunjung menampakkan diri. Padahal ia sudah berbelanja habis-habisan untuk memancingnya keluar.


"Oh Shiiittt!!"


Kenapa orang itu suka sekali bersembunyi dariku.


Aku harus fokus dengan urusanku dengan Revan lebih dulu. Aku harus memikirkan bagaimana caranya agar dia kembali bersimpati padaku.


Apa aku harus menggunakan mamah lagi, tapi apa tidak apa-apa berbohong soal kesehatan mamah terus-terusan.


Febby pusing sendiri, ya setelah memikirkannya lagi ia merasa berbohong soal kesehatan itu tidak baik. Ia takut jika mamahnya benar-benar menjadi sakit.


Sementara Revan pun tetap tidak merubah sikapnya setelah mendengar mamah Wina sakit parah.


"Bagaimana ini, apa aku harus bertanya pada mamah lagi. Tapi dia belum juga pulang." Monolog Febby.


Kemarin saat melihat putrinya memegang black card, mamah Wina langsung mengambilnya. Katanya ia mau meminjamnya untuk bersenang-senang.


Febby pun tidak bisa melarang mamahy yang mau menggunakan kartu itu.


Walaupun ia sedikit khawatir karena mereka kan sedang berpura-pura jika mamah Wina sedang sakit, lalu bagaimana jika Revan melihat mamahnya keluar berbelanja dan bersenang-senang.


Tugas Febby semakin berat saat ini, ia harus memutar otak untuk menemukan solusi yang terbaik agar ia tidak gelagapan saat berhadapan dengan Revan.


Febby juga sempat menceritakan tentang kejadian bagaimana akhirnya ia mendapatkan black card itu. Iya dia jujur pada mamahnya, meski malu dan takut jika mamahnya akan marah padanya. Tapi ia tidak punya pilihan lain.


Yang tidak di sangka adalah, mamah Wina sama sekali tidak peduli bagaimana cara Febby mendapatkan kartu tanpa limit itu.


Sang mamah justru mendukung jika Febby dengan pria itu saja. Bagaimana mungkin, apa mamahnya tidak berfikir bagaimana jika pria itu ternyata kakek-kakek atau sudah punya istri.


Entahlah, Febby juga sempat kecewa dengan mamahnya yang tidak merasa iba sedikitpun pada putrinya. Tapi Febby bisa apa?

__ADS_1


Saat ini Febby akan tetap berusaha mempertahankan hubungannya dengan Revan, pria yang sudah jelas asal-usulnya.


Dia sudah berdandan sangat cantik, menggunakan dress dan menata rambutnya dengan rapi. Ia tidak ingin terlihat memalukan saat berkunjung ke perusahaan milik kekasihnya.


Membayangkan bagaimana nanti para karyawan menghormatinya, Febby pun tersenyum sendiri.


"Aku akan menemui mu Van. Salahmu tidak menghubungiku. Jadi jangan salahkan aku jika nanti kakekmu tau tentang hubungan kita."


Setelah memastikan penampilannya sempurna, Febby pun berangkat ke perusahaan tempat dimana Revan berada.


Menggunakan mobil baru yang ia beli menggunakan uang pria itu. Febby memecahkan jalanan ibu kota. Ia begitu bangga seakan orang yang melihat di jalanan menatap kagum padanya. Namun, tepatnya pada mobil yang ia kendarai.


Cukup membuat Febby merasa bangga dan puas bisa membuat orang iri padanya.


Beberapa saat kemudian, Febby sampai di depan perusahaan Fresh Grup. Ia memarkirkan mobilnya dan menyiapkan dirinya sebelum turun.


Setelah mengumpulkan keberanian akhirnya Febby memasuki perusahaan itu. Menggunakan kacamata dan tas yang tentunya mahal dan bermerek.


Febby berjalan dengan percaya diri menuju resepsionis.


"Permisi mba."


"Iya, ada yang bisa saya bantu Nona." Resepsionis itu menjawab dengan ramah.


"Saya ingin menemui Revan," ujar Febby penuh percaya diri.


"Maksud ada tuan Revano, cucu pemilik perusahaan ini," tanya resepsionis itu memastikan.


Febby pun mengangguk.


"Apa anda sudah membuat janji sebelumnya?" tanya Mbak resepsionis lagi.


"Belum mbak, katakan saja jika Febby mencarinya." Febby merasa sedikit kesal karena resepsionis itu banyak bertanya.


"Maaf nona, kami tidak bisa menyampaikan jika anda belum membuat janji." Mbak resepsionis meminta maaf.


"Tolong sampaikan dulu mbak, aku ini pacarnya. Apa Mbak berani menghalangiku." Tidak punya pilihan lain selain mengancam.


Si mbak resepsionis sedikit merasa takut jika yang dikatakan wanita itu benar adanya. Ia pun mencoba menghubungi assisten tuan Revan.


Di atas....


to be continue...


°°°


...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....


...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....

__ADS_1


...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....


...Sehat selalu pembacaku tersayang...


__ADS_2