Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
132. Pijatan Yang Nikmat


__ADS_3

°°°


Pipi Rara bersemu mendengar pujian dari sang suami, awalnya dia iseng saja tapi malah kepergok oleh sang suami.


"Apa cocok di pakai sama aku Kak?" tanya Rara malu-malu.


Revan tidak menjawab dia malah semakin memepet tubuh istrinya hingga terpojok ke dinding.


"Sangat cocok dan semakin cantik, tapi..." Revan tampak berpikir untuk melanjutkan ucapannya.


"Tapi apa Kak?" tanya Rara penasaran, mungkin saja ada yang kurang pas dengan penampilannya.


"Tapi... jangan pernah menggunakan dress seperti ini di depan orang lain. Hanya aku yang boleh melihatnya."


"Ihh... kak Revan, aku kira apa. Tentu saja aku berpakaian seperti ini hanya di depan kakak," ujar Rara seraya tersenyum lembut.


"Tapi aku lebih suka melihatmu memakai pakaian yang seperti waktu itu." Revan tersenyum menyeringai. Sontak Rara mendaratkan pukulannya di dada suaminya.


"Kakak...," rengek Rara, dengan pipi yang semakin memerah.


Tawa Revan pun pecah melihat istrinya malu-malu, sungguh kehadiran Rara sudah merubah hidupnya yang hampa selama ini.


"Aku mandi dulu," ujar Revan mengusap lembut pipi istrinya.


"Apa kak Revan sudah makan malam, kalau belum biar aku siapkan."


"Aku sudah makan bersama klien tadi, apa kau lupa aku sudah mengirimkan pesan padamu." Revan menautkan kedua alisnya. Jangan bilang istrinya itu tidak membaca pesannya.


"Hehehe... maaf Kak, aku belum membaca pesan dari kakak." Rara memasang wajah tidak bersalah membuat Revan gemas melihatnya.


"Kau itu," Revan mencubit hidung istrinya.


Sementara menunggu suaminya selesai mandi Rara pun menyiapkan teh dan cemilan yang baru ia ambil dari dapur. Ia akan mencoba mengatakan tentang masalah yang menimpa Lia pada suaminya. Rara tidak tau apa suaminya itu mau membantu atau tidak, tapi tidak ada salahnya mencoba menceritakannya kan.


Revan pun keluar dengan memakai handuk kecil seperti biasa, walaupun Rara masih canggung tapi dia berusaha terbiasa untuk melihat pemandangan yang membuat berdebar dadanya. Rara pun segera menghampiri suaminya dan memberikan pakaian yang sudah ia siapkan.


"Ini Kak pakaiannya," ajar Rara seraya menyerahkan pakaian suaminya.


"Terimakasih, istriku sayang...," Revan menerimanya dan memakai pakaian itu di hadapan istrinya, sontak saja mata Rara langsung menutup matanya saat Revan hendak menanggalkan handuk di pinggangnya.


"Kenapa di pakai disini Kak," protes Rara.


"Kenapa, bukankah kau sudah melihat semuanya."

__ADS_1


Kenapa semakin lama kak Revan makin tak tahu malu begitu, heran Rara.


Akhirnya Rara pun pasrah saat suaminya dengan tidak tau malu memakai pakaian didepannya, walaupun Rara harus menutup matanya karena belum terbiasa.


"Eheemmm... ini aku bawakan teh Kak." Rara menyerahkan cangkir teh itu pada suaminya.


"Terimakasih sayang, kau memang paling tau aku sedang ingin minum teh buatan kamu." Revan mulai menyesapnya sedikit demi sedikit, apapun yang dibuat dengan tangan istrinya tidak pernah gagal, semuanya pas di lidah nya.


"Kak Revan pasti lelah kan, biar aku pijitin ya," ujar Rara yang langsung memijat lengan suaminya.


Dengan senang hati Revan membiarkan istrinya memberikan pijatan, dan rasanya sangat nyaman. Otot-ototnya yang kaku langsung mengendur.


Pandai memijat juga istriku, ehh tunggu... Sepertinya ada yang tidak benar, kenapa tiba-tiba baik begini. Pikir Revan menebak sikap istrinya yang begitu baik. Walaupun biasanya juga baik tapi kali ini sepertinya ada maksud lain.


Aku jadi penasaran, apa yang sedang diinginkan istriku.


Kalau dipikir-pikir Rara belum pernah meminta apapun padanya. Jika kali ini memang ada permintaan dari sang istri, Revan tentu akan berusaha memenuhinya.


"Gimana Kak, apa enak pijitan ku?"


"Lumayan," jawab Revan, sebenarnya dia hanya menggoda.


"Bagaimana kalau aku pijit kepala kakak, biasanya aku suka pijitin abi kalau pulang dari pabrik," Rara masih berusaha membuat suaminya senang sebelum ia menceritakan apa masalahnya.


"Benarkah, aku jadi penasaran apa istriku ini pintar memijat." Revan langsung merebahkan tubuhnya di sofa dan meletakkan kepalanya di pangkuan sang istri.


"Tunggu apa lagi," ujar Revan seraya memejamkan matanya.


"Iya Kak." Rara pun mulai memberikan pijatan pada kepala suaminya agar bisa sedikit mengurangi bebannya.


Ternyata benar jika pijatan Rara sangat membuat nyaman, terbukti saat ini Revan sudah terlelap diatas pangkuan istrinya.


"Kak...," panggil Rara, tapi tidak ada jawaban.


Apa kak Revan tidur, padahal aku belum menceritakan masalah Lia. Tapi aku tidak tega kalau harus membangunkan kak Revan, sepertinya dia sangat kelelahan.


Rara memandangi wajah suaminya. Sangat tampan dan menggemaskan menurutnya.


Besok saja lah aku ceritanya.


Akhirnya Rara mengurungkan niatnya untuk bercerita.


Cukup lama Rara bertahan dalam posisi itu, dan akhirnya dia juga terlelap di sofa dengan menyenderkan punggungnya. Hingga Revan yang merasa sudah cukup lama terlelap pun membuka matanya.

__ADS_1


Jadi aku tidur seperti ini sejak tadi, kasihan sekali istriku pasti kebas kakinya.


Menyadari istrinya sudah tertidur, Revan segera memindahkannya ke atas ranjang.


"Maaf aku ketiduran jadi tidak bisa mendengar permintaan mu, pijatan kamu yang terlalu membuatku nyaman sampai tertidur."


Revan mengatakannya dengan lirih, tidak ingin membuat istrinya terganggu. Besok ia akan menanyakan apa permintaan sang istri. Ia pun menyelimuti tubuh istrinya.


Rasa kantuk Revan sudah menghilang karena tertidur tadi, ia pun memutuskan untuk ke ruangan kerjanya menyelesaikan pekerjaannya.


,,,


Didalam sebuah kamar kos sempit, Lia sedang merenung memikirkan nasib anak-anak panti.


Bagaimana kalau mereka harus pergi dari sana, mau pergi kemana mereka semua. Kenapa ada orang yang tega sekali mendzolimi anak yatim.


Lia tidak habis pikir dengan orang kikir itu, tanah yang sudah diwakafkan kok mau diambil lagi.


Enggak takut kuburannya sempit apa ya tuh orang. Kesal Lia.


Suara dering ponsel membuyarkan pikiran Lia. Ternyata ibu panti yang meneleponnya, tidak biasanya tengah malam begini ibu panti telepon pasti ada sesuatu yang mendesak untuk di bicarakan.


Lia pun segera mengangkat panggilan dari ibu panti.


"Assalamualaikum bunda, ada apa tumben telepon di jam segini."


📞"Wa'alaikumsalam nak Lia, apa bunda mengganggu istirahat mu?"


"Tidak Bun, Lia juga belum bisa tidur. Bagaimana kabar anak-anak Bun."


Lia dan anak-anak panti lainnya memang biasa memanggil pengurus panti dengan sebutan bunda.


📞"Alhamdulillah, anak-anak sehat nak. Kamu sendiri gimana tinggal sendiri disana pasti kesepian."


Terdengar nada kesedihan di telinga Lia. Padahal ibu panti biasanya tidak seperti itu. Beliau biasanya terdengar ceria jika menelepon.


"Cerita sama Lia Bun, siapa tau Lia bisa bantu."


"Apa!!" Lia membulatkan matanya.


to be continue...


°°°

__ADS_1


Sabar ya Lia, Kayaknya tinggal kamu yang belum bahagia. Gimana si author nya.🤔


Ya semua memang salah author deh...


__ADS_2