Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
160. Saling Mendukung


__ADS_3

°°°


Setelah beberapa saat di ruangan yang sama, akhirnya Rara memberanikan diri untuk menyapa Febby. Rara berjalan pelan mendekati ranjang sebelah yang terpisah oleh korden. Terlihat Febby masih setia berada di samping Mike dengan terus menggenggam tangan laki-laki itu.


"Kak Febby...," sapa Rara. Dia berdiri di bagian ujung ranjang.


Mendengar ada yang memanggil namanya, Febby pun segera menghapus air matanya dan berusaha tersenyum pada istri mantan pacarnya itu.


"Kau pasti bertanya-tanya mengapa aku bisa disini dan mengenal Mike," ujar Febby, matanya masih menatap pria yang sudah membuat menangis. Pria yang dengan kejamnya tidak mau membuka mata untuknya.


"Tidak kak, itu privasi kakak dengan tuan Mike. Saya tidak berhak menanyakan hal pribadi kak Febby," terang Rara, dia jadi merasa tidak enak.


Tidak disangka Febby malah tersenyum, Rara yang dulu sempat dibuat kesal oleh tingkah wanita itu pun tidak menyangka akan perubahan yang terjadi. Dan ya, Febby ternyata sangat cantik dibalik kesombongan dan keangkuhannya.


"Tidak apa-apa, tidak ada yang perlu aku tutupi dari kamu. Bukankah kita teman," ujar Febby.


"Namun, mungkin akan sedikit memalukan untuk didengar karena pertama kali kita bertemu sebenarnya adalah sebuah kesalahan. Kamu tau istilahnya one night stand kan, seperti itulah awalnya. Tapi apa kamu tau, ternyata hanya aku yang menganggap pertemuan kami ini kesalahan. Karna nyatanya, pria ini justru menganggapnya sebagai anugrah."


"Awalnya aku juga tidak percaya, aku bahkan tertawa saat dia mengatakannya. Aku mengira, dia mau menampungku di rumahnya dan menghormati ku karena anak yang ada di perutku. Tapi katanya, ada ataupun tidak anak ini. Dia akan tetap menjadikan ku wanitanya, karena aku seperti warna dalam hidupnya."


Febby menangis saat mengingat semua ucapan Mike padanya saat setiap malam mereka melakukan vidio call. Baru saja sebentar dia merasakan bagaimana rasanya dicintai kini laki-laki itu entah bisa kembali membuka mata atau tidak.


"Apa aku tidak pantas bahagia Ra, kenapa sepertinya Tuhan tidak senang melihat aku merasakan bahagia bersama Mike." Febby mendekatkan tangan Mike dan menciumnya dengan berderai air mata. Kenapa laki-laki itu begitu tega membiarkan dia sendiri.


"Tidak seperti itu kak, ujian datang tidak mungkin melebihi kapasitas kemampuan manusia. Itu berarti kak Febby wanita yang kuat dan bisa melewati ini semua." Rara tidak menyangka jika perjalanan hidup Febby akan sangat berliku seperti itu. Tapi ia yakin jika Febby akan menjadi wanita yang lebih kuat dan tegar nantinya.


Ya ampun hampir lupa, kalau kak Febby sedang hamil berarti kejadian kemarin di kampus bisa sangat membahayakan janinnya. Rara khawatir.

__ADS_1


"Kak, jangan sedih lagi. Tuan Mike pasti tidak akan senang melihat kak Febby menangis begini. Walaupun dia koma tapi dia masih bisa merasakan dan mendengar tangisan kakak." Rara mengusap punggung Febby berusaha menguatkan wanita itu.


"Terimakasih Ra, sebenarnya aku malu ada disini setelah apa yang aku lakukan dulu. Kamu masih mau menolongku dan sekarang kakeknya Revan juga menolongku, aku malu pada kalian," ujar Febby.


"Untuk apa malu kak, semua orang punya masa lalu dan semua orang pernah melakukan kesalahan tapi tidak semua orang mau berubah seperti kak Febby. Aku justru kagum pada kak Febby," ujar Rara, dia mengatakan yang sebenarnya bukan karena ingin menyanjung Febby semata.


"Tidak ada yang bisa dikagumi dari aku." Febby tersenyum miris.


"Tentu ada Kak, kak Febby luar biasa tau... saat ujian datang orang lain mungkin memilih untuk menyalahkan takdir dan mencari jalan pintas. Tapi kakak malah memperbaiki diri dan menjadi lebih baik." Ya Rara benar, beruntungnya Febby dipertemukan dengan Mike sehingga hidupnya tidak kembali ke lembah hitam.


"Kamu bisa saja, apa yang aku lakukan belum seberapa dibandingkan dengan kamu dulu." Febby balik memuji Rara. Mereka sama sekali tidak terlihat pernah berselisih satu sama lain. Jika di lihat orang pasti mengira jika pertemanan mereka sudah terjalin lama.


Saling memuji dan menguatkan, dua wanita itu kini semakin akrab. Febby tak segan lagi melontarkan candaan atau menceritakan kisahnya saat mengejar Revan dan saat berpacaran dengan Revan.


Rara sama sekali tidak cemburu karena justru dari cerita itu, dia bisa menyimpulkan jika dulu kak Revan sama sekali tidak mempunyai perasaan pada Febby. Perlakuan suaminya pada Febby juga jauh berbeda saat bersamanya.


"Tidak Kak, malahan aku terhibur dari cerita kak Febby. Tidak menyangka sikap kak Revan sedingin itu pada kakak," ujar Rara dia sedang duduk di samping Febby, tadi dia membawa kursi ke sana.


"Emang bener, sangat keterlaluan suami kamu itu. Padahal aku sudah berusaha menjadi pacar yang baik tapi sama sekali tidak bisa mengambil hatinya." Mereka tertawa bersama.


"Oh iya Kak, apa aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Rara, dia hanya ingin memastikan jika bayi yang ada di kandungan Febby baik-baik saja karena waktu itu dia tidak tau jika wanita itu sedang hamil, kalau tau pasti akan membawanya ke rumah sakit segera setelah kejadian.


"Apa kau ingin menanyakan tentang kehamilanku?" tebak Febby dan Rara mengangguk.


"Tenang saja, anak ini sangat kuat. Dia baik-baik di dalam sana," ujar Febby seraya mengusap perutnya yang masih belum terlihat menonjol.


"Syukurlah Kak, aku ikut senang mendengarnya. Semoga kak Febby dan debay nya sehat selalu dan bahagia selalu," ujar Rara memberikan doa yang terbaik untuk Febby dan janinnya.

__ADS_1


"Terimakasih banyak atas doanya, aku sangat berharap anak ini tidak menuruni sifatku kelak. Kalau bisa seperti ayahnya saja," ujar Febby.


"Kenapa kak, kak Febby juga baik. Anak itu kelak pasti bangga mempunyai ibu seperti kakak, yang kuat dan tidak pantang menyerah."


Febby terkekeh mendengar perkataan Rara, "Baru kali ini ada yang memuji ku dan terdengar sangat tulus. Aku sangat sadar sekarang kalau Revan tidak salah menikahimu."


"Kak Febby bisa saja, tuan Mike juga sangat beruntung bisa bertemu kak Febby."


Di sela-sela canda tawa mereka bi Ida datang ke ruangan itu.


"Permisi Nona," ujar bi Ida, dia tidak enak jadi mengganggu dua wanita itu.


"Ada apa Bi?" tanya Febby.


"Itu Non, sebaiknya nona Febby makan dulu. Sejak pagi nona belum makan apa-apa, tolong pikirkan anak nona juga." Bi Ida tidak yakin kalau nonanya mau makan tapi dia harus tetap menawarinya.


"Tidak Bi, nanti saja." Febby belum ingin mengisi perutnya.


"Tapi Non, tuan pasti akan marah kalau tau nona tidak menjaga tubuh dan kesehatan nona. Apalagi tidak memikirkan calon anaknya. Biar aku belikan makanan ya non, nona mau makan apa?" bi Ida terus membujuk.


"Aku bilang nanti saja Bi...," tegas Febby.


to be continue...


°°°


Like komen dan bintang lima 😍😍😍

__ADS_1


❤️❤️❤️


__ADS_2